-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Perut Kenyang dan Berpikir (Sil Joni)

Sabtu, 20 Juni 2020 | 13:00 WIB Last Updated 2020-07-20T11:22:13Z
Perut Kenyang dan Berpikir (Sil Joni)
Perut Kenyang dan Berpikir (Sil Joni)

Oleh: Sil Joni*

Apakah ada korelasi antara perut yang kenyang dengan 'actus berpikir'? Apakah manusia bisa berpikir secara optimal ketika 'perutnya terisi'? Apakah pada saat 'perut kosong', kita tidak bisa berpikir?

Ribuan tahun lampau, Aristoteles sudah 'mengendus' kedekatan relasi antara perut kosong dengan 'keaktifan pikiran'. Hasil permenungannya terekspresi dalam adagium ini: "Primum manducare, deinde philosophari". Makan dulu, baru berfilsafat.   Berpikir, berfilsafat tentu saja membutuhkan energi dan stamina yang prima. Karena itu, 'mengisi perut' dengan makanan secukupnya menjadi  salah satu prasyarat sesorang bisa berpikir secara optimal.

Baca juga: Mengapa Suami-Istri yang Saling Mencinta, Saling Membenci Hingga Cerai?

Tentu pemikiran filsuf Yunani klasik itu tidak bersifat absolut dan dogmatis. Buktinya, di tempat lain dalam era Aristoteles itu, seperti Romawi ditemukan fakta sebaliknya. Perut yang penuh itu ibarat kabut yang menutup pandangan secara jernih. Selain itu, perut yang kenyang bisa menjadi 'beban' yang membuat orang malas berpikir. Hal itu terekam dalam ungkapan: "Plenus venter non studet libenter". Perut yang penuh tidak suka belajar.

Memang tidak bisa dielak bahwa ketika 'perut kita terisi penuh', ada kemungkinan untuk tidak bergerak lagi. Kita hanya menikmati 'kesenangan inderawi' dengan cara berbaring, istirahat, dan tidur.

Dari ulasan singkat di atas, terlihat dengan jelas 'matra paradoksal' dari kondisi perut yang 'kekenyangan' untuk aktivitas berpikir. Boleh jadi, semua manusia mengalami kedua hal itu. Ada saatnya ketika perut kenyang itu, membantu dan menopang kegiatan berpikir. Tetapi, ada momen tertentu di mana 'perut yang kenyang' mengundang orang untuk malas beraktivitas.

Kita coba menggunakan kerangka penjelasan ini untuk membedah kinerja para pejabat publik kita. Rasanya, sesuatu yang mustahil jika para elit politik dan pemerintahan mengalami kelaparan. Honor dan penghargaan yang diberikan oleh negara rasanya 'lebih dari cukup' untuk memenuhi kebutuhan perut itu. Mereka sebenarnya tidak berurusan lagi dengan perkara perut kosong.

Akan tetapi, dalam praksisnya justru kita melihat bahwa sebagian elit itu masih berkutat pada urusan perut. Kebanyakan waktu, energi dan pikiran dipakai untuk memuaskan rasa lapar akan uang. Gaji dan ketersediaan fasilitas mewah tidak memacu mereka untuk aktif memikirkan kondisi kesejahteraan publik.

Trend peningkatan kasus korupsi dalam pelbagai modus yang diperagakan para pejabat publik, menjadi alat justifikasi paling gamblang soal ketidaksingronan antara 'perut kenyang' (baca: gaji besar) dengan produktivitas dalam bekerja ( termasuk berpikir). Para elit yang koruptor itu seolah dilanda kelaparan akut sehingga mereka dengan 'beringas mencaplok' uang rakyat.

Demikian pun politisi atau birokrat yang 'tidak peduli" dengan kehidupan publik. Gaji yang besar membuat mereka 'terlena' dalam zona yang aman. Sebagian anggota DPRD Mabar yang malas ikut sidang, bisa dijadikan contoh bagaimana 'perut yang kenyang' membuat orang malas datang dan berpikir saat sidang tentang rakyat. Para wakil publik itu sudah "terbuai dan keenakan" dengan makanan yang diberikan oleh negara sehingga lupa mengaktifkan pikirannya untuk mengatasi pelbagai isu negatif yang mendera publik Mabar saat ini.

Namun, sebetulnya fakta ketidaksesuaian antara 'perut kenyang' dengan optimalitas dalam berpikir, berlaku untuk semua bidang profesi. Program pemberian tunjangan sertifikasi guru misalnya, sampai detik ini belum berdampak secara signifikan dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Produktivitas dan kreativitas berpikir dari para guru, tidak ditentukan oleh kondisi perut yang penuh itu. Tidak ada bukti empiris bahwa para guru yang gajinya besar, memiliki catatan prestasi profesionalitas yang menawan. Perut yang yang kenyang 'tidak serta merta' mendorong guru untuk menghasilkan karya tulis.

Kendati demikian, bagaimanapun juga, kita tetap butuh makan sebelum beraktivitas. Tetapi, pemenuhan urusan perut itu tidak bisa menjadi parameter keaktifan kita dalam berpikir. Tak bisa dibantah bahwa di tengah situasi yang serba sulit (perut lapar) orang masih bisa bekerja dan menghasilkan olah pikiran yang kreatif dan bermutu untuk kebaikan sesama.

Karena itu, kita tidak bisa 'mengurungkan' keluasan dan kedalaman aktivitas pikiran, hanya terbatas pada kondisi perut (baca: ekonomi) seseorang. Seorang birokrat golongan rendah boleh jadi tampil sangat kreatif dan produktif dibandingkan dengan para senior dengan gaji yang fantastis. Keterbatasan ekonomi (perut yang lapar) tak selamanya menjadi faktor penghambat dalam mengoptimalkan kerja pikiran.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update