-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Politik Kartel, Puasa Politik dan Revolusi Harapan

Rabu, 03 Juni 2020 | 18:47 WIB Last Updated 2020-06-03T15:54:47Z
Politik Kartel, Puasa Politik dan Revolusi Harapan
Politik Kartel, Puasa Politik dan Revolusi Harapan (Eugen Sardono)


Penulis lebih tertarik melihat persoalan politik kartel yang berdampak pada kebijakkan yang keliru. Gramsci-seorang filsuf Italia mengatakan, di mana rakyat bisa dididik menjadi kritis dan realistis sehingga bisa melakukan counter terhadap hegemoni pemerintah dan menciptakan common sense yang lebih masuk akal (A. Sudiarja, 2018). Politik sekarang telah berubah haluan. “Demokrasi kita sedang becek digenangi korupsi”, membenarkan apa yang dikatakan Mahfud MD.

Gambaran situasi tersebut adalah sebuah bentuk keprihatinan penulis dalam melihat wajah perpolitikan Indonesia. Mulai dari politik kartel sampai di korupsi. Lalu: sampai pada penyakit amnesia dalam politik. Pemimpin tiba-tiba lupa (Lupa diri, orang lain dan lupa akan segalanya)

Politik Kartel

Politik sejatinya adalah deliberasi rasional ruang publik berubah wajah menjadi politik pencitraan; spanduk, billboards, kemolekan tubuh dan iklan-iklan. (Otto Gusti, 2012). Apa itu politik kartel? Dalam sistem kartel politik terbangun monopoli yang berdampak pada meminimalisasi persaingan, tindakan menoleransi korupsi dan kolusi serta hancurnya fungsi institusi demokrasi. Dalam system pasar, pihak yang paling dirugikan oleh kartel adalah konsumen karena mereka harus membeli barang dengan harga yang telah diatur sedemikian rupah oleh pasar. Dalam politik, pihak yang paling dirugikan adalah jelata-jana (massa-rakyat).

Prof. Stein Kristiansen pernah meneliti, untuk menjadi bupati di Indonesia orang tidak segan-segan mengeluarkan biaya sekitar 5 hingga 20 milliar. Sedangkan gaji bupati berkisar, atau 7 juta perbulan. Dari hasil penelitian ini, maka dipastikan bahwa hegemoni kekuasaan akan terus berlanjut. Juragan partai memainkan peran penting dalam pemenangan bupati. Ada begitu banyak kendaraan maupaun kantong yang memboncengi. Sehingga kebijakan pun pasti juga harus melihat dan mempertimbangkan banyak aspek. Sehingga aspek orisinal dan otentik menjadi rada-rada kabur. Seruan menjadi manusia otentik (Kierkegaard) menjadi hilang. Maka, politik hidup dalam banyak wilayah ketertutupan.

Puasa Politik: Keluar dari Politik Kartel

“Fiat iustitia, ruat coelum”-“keadilan harus ditegakkan, meski langit runtuh sekalipun”. Puasa politik adalah ungkapan teknis yang penulis gunakan untuk mengatakan bahwa, perlu ada matiraga dalam politik. Perlu ada askese dalam politik. Kenapa orang bisa menghayati puasa di agama mereka masing-masing. Sedangkan ketika masuk dalam dunia politik, puasa itu hilang. Ada sebuah gap yang lebar antara kehidupan politik dan yang lain.

Haruslah kita memproduksi masyarakat yang sakit agar ekonomi sehat dan politik berjalan licin? Ini adalah fakta yang tidak bisa diperbantahkan. Politik demi berjalan licin, yang dikorbankan adalah masyarakat. Maka, perlu keluar dari hal demikian. Ada pun puasa dalam politik dengan kembalikan lagi nilai politik sejatinya.

Revolusi Harapan

Dalam buku heart of man (Harper dan Row, 1964). Buku ini menginspirasi Revolusi Harapan (Fromm, 1968). Di tengah kita ada hantu. Bukan hantu kuno seperti Komunisme dan facisme, melainkan hantu baru, yaitu masyarakat yang dimesinkan secara total. Masyarakat yang dicuci otak karena uang.

Gregorius Agung yang dikenal sebagai Paus dan Pujangga Gereja Latin pernah mengatakan, “certe iniquorum omnium caput diabolus est; et hujus capitis membra sunt omnes iniqui, iblis adalah kepala segala yang jahat; dan segala sesuatu yang jahat adalah anggota-anggotanya”.

Oleh: Eugen Sardono
Penulis adalah mahasiswa STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur. Beliau memiliki hobi menulis dan baca buku. Buku-Bukunya adalah “Sajak dari Atas Speda (2020)” dan “Seni Membuka Hikmah dari Setiap Lembaran Pengalaman (2020)”,
×
Berita Terbaru Update