-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puisi: Melawan Lupa? (Refleksi Kritis-Puitis atas Puisi “Tentang Lupa” Karya Patris Epin Du)

Senin, 15 Juni 2020 | 08:34 WIB Last Updated 2020-06-15T01:34:24Z
Puisi: Melawan Lupa?  (Refleksi Kritis-Puitis atas Puisi “Tentang Lupa” Karya Patris Epin Du)
Puisi: Melawan Lupa?  (Refleksi Kritis-Puitis atas Puisi “Tentang Lupa” Karya Patris Epin Du) - Ilustrasi: google

Oleh: Melki Deni
Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere Flores NTT

Dewasa ini kesusastraan Indonesia mengalami perkembangan yang menakjubkan. Hal ini dapat diamati dari tingkat produktivitas dan kuantitas perkembangan kesusastraan di Indonesia. Pada banyak buku, majalah, koran, dan media sosial baik media cetak maupun media daring, kita menemukan banyak penyair baru, syair-syair baru dan syair-syair itu terus berkembang dengan dan atau tanpa bahasa puitis. 

Puisi

Puisi, tulis Goenawan Mohamad (2016: 68) menebus kembali apa yang hilang dalam sesuatu yang tanpa nada–dalam tulisan. Puisi, sedikit atau banyak, mengembalikan kelisanan sebuah teks. Puisi memulihkan kata sebagai ‘peristiwa’. Puisi mengekspresikan kesan eksternal, seperti fenomena sosial, ekonomi, budaya, agama, politik, pendidikan, alam dan mengungkapkan kesan-kesan internal sperti jiwa, imajinasi, khayalan, mimpi, fantasi, dan angan-angan. Seringkali terjadi bahwa dari penyair sendiri timbul pandangan yang sinis terhadap kemerosotan perkembangan puisi modern. Pandangan yang sinis ini lahir dari kesadaran dan pemahaman akan adanya pen-jarak-an antara laju perkembangan kesusastraan dan kualitasnya. Namun demikian, sinisme seperti itu tidak mengurangi semangat melahirkan puisi, terutama ketika berhadapan dengan penderitaan dan kebahagiaan dalam hidup. 

Menulis puisi berarti memberi sugesti pada kata, agar kata dapat hidup dan tidak tinggal diam. Puisi tidak hanya berdaya menghidupkan kata, tapi juga ia mesti menghidupkan peristiwa dan impresi jiwa yang tak terlihat. Dalam menulis puisi, penyair tidak hanya bermain dan atau mempermainkan kata-kata belaka, tetapi kata-kata itu mesti diproses dan dimurnikan dari kecenderungan subjektif. Puisi ditulis untuk menghadirkan peristiwa baru; memperbarui peristiwa lama; dan merefleksikan dan memurnikan kembali peristiwa-peristiwa yang luput dari perhatian. Peristiwa itu bisa bersifat subjektif dan dapat berupa peristiwa dunia yang lebih luas dan menjangkau masyarakat dunia. Di sini kesan membentuk pesan/ makna.

Latar belakang dan nilai-nilai religius terkait dengan makna puisi keagamaan bisa ditemukan dalam puisi “Tentang Lupa” karya Patris Epin Du. Puisi Tentang Lupa memang tidak seperti puisi-puisi yang kental dengan bahasa-bahasa ketuhanan yang ditulis oleh J.E. Tatengkeng (1907-1968) dan Fridolin Ukur (1930-2003). Puisi Patris Epin Du juga tidak sama seperti puisi-puisi Joko Pinurbo atau Mario F. Lawi.  

Patris menulis beberapa puisi dan diterbitkan oleh media daring Societasnews.id pada Minggu, 14 Juni 2020.  Dari beberapa puisi tersebut, saya lebih tertarik dengan puisi berjudul, Tentang Lupa

Aku telah lama bertualang
Pada kertas yang bernama lupa
Pandanganku merambat ke sudut matamu
Sejauh ingatku, aku lupa menutup pintu.
Karena pikirku, lupaku telah menciptakan jarak.
Kutidurkan gelisahmu di bawah remang cahaya bulan
Lalu kuajak engkau bercakap-cakap
Sementara dalam doa jangkrik
Kita melatih untuk tidak lupa
Bahwa kita masih punya harapan
Untuk menjahit jarak.
Pintaku: Jangan lupa berharap.

Dalam puisi ini, Patris hendak mengemukakan ihwal “lupa” yang dialami oleh semua manusia. Puisi Tentang Lupa adalah ekspresi terkait dengan apa yang dekat dengannya, yakni khazanah biara, Kitab Suci, keheningan, kesunyian, sepi dan hampa. Mengapa demikian? Karena, itulah peristiwa dan impresi jiwa yang mesti ia alami, dan rasakan, ketika ia berani memilih hidup membiara; selibat dan membaktikan diri kepada penyelenggaraan kasih Allah. Ia adalah seorang calon imam Katolik, yang tentunya berasal dari masa lalu, berada saat ini di sini dan menuju masa depan. Lupa bukan hanya perkara orang-orang tertentu. Dan lupa mesti dialami oleh semua orang. Siapa pun yang tidak pernah lupa, ia adalah produksi gagal. Namun demikian, apakah kita benar-benar lupa? Mengalami peristiwa dan impresi jiwa selama ber-ada di dalam biara, sebetulnya ia sedang menulis puisi untuk dirinya sendiri, semua orang, alam semesta dan Tuhan. Ia berusaha membentuk peristiwa menjadi puisi, dan puisi menjelma menjadi peristiwa hidup.

Melawan Lupa?

Dalam puisi Tentang Lupa ada beberapa kata yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kolokasi. Pertama, kata dan atau frasa bernada religius: bertualang, kertas yang bernama lupa, doa dan harap. Kedua, kata dan atau frasa domestic: sudut matamu, dan di bawah remang cahaya bulan. Puisi ini ditulis dengan mencampuradukan, menggabungkan dan merangkum kompleksitas pengalaman masa lalu, kini dan nanti. Ia berusaha menyandingkan pengalaman penderitaan lupa yang biasa (yang dialami oleh non-religius atau awam) dengan kompleksitas pengalaman hidup membiara. Gaya kontras inilah yang menjadi daya yang membentuk kompleksitas tubuh puisinya, dan memperlihatkan eksistensinya sebagai manusia—terlepas dari status religius, orang yang terpanggil untuk menjadi seorang imam dan menghayati hidup selibat. 

Patris menulis puisi karena ia ingin hidup, dan berbicara dari kesunyian biara kepada dunia yang luas. Ia butuh orang mendengarkan penderitaanya akan lupa. Ia tidak ingin mengaku menang tatkala ia berhasil membunuh lupa walaupun hanya dalam permenungan biblis di balik jeruji biara. Ia sadar bahwa ia sendiri dan kita, telah lama bertualang, bahkan kita sudah lupa sejak kapankah kita berangkat, sedang ada di mana, dan akan ke manakah kita ini? Kita bertualang begitu saja, juga ketika kita berhenti/beristirahat. Kita bertualang pada kertas yang bernama lupa; pernah kita alami dan menekan kesadaran kita, tetapi apa pun yang kita alami seakan-akan berlalu begitu saja—dan kita terus dipermainkan oleh lupa. Melalui puisi ini, Patris sedang berbicara dengan kita dan kompleksitas pengalaman kita. 

Kemudian kita tak sadar, diri kita sedang membangun ketertarikan dengan sesuatu/seseorang. Sebaliknya, sesuatu/sesorang membiarkan diri ditarik dan atau menarik kesadaran kita, dan sebetulnya saat itu, kita sedang menjalin hubungan timbal balik dengannya. Seseorang itu dan kita menanggapi dan mengalami secara berbeda tentang pengalaman yang sama. Ada yang menderita, tapi ada yang bahagia. Dan perlu ditambahkan bahwa pada dasarnya manusia tidak berpikir tentang hal yang sama, meski memakai kata yang sama (F. Budi Hardiman, 2015: 32-33). Namun saat itu pula, kita teringat bahwa kita lupa membangun pagar waktu itu, agar pengalaman masa lalu tidak teringat kembali, kita dikuasai olehnya dan kita jatuh lagi. Kita berusaha memisahkan masa lalu, kini dan nanti denga potongan-potongan pengalaman. Hal ini tampak dalam bait “Sejauh ingatku, aku lupa menutup pintu/ Karena pikirku, lupaku telah menciptakan jarak. Kita mudah saja mengalami penderitaan/kebahagiaan dengan “yang baru” di hadapan kita saat ini, namun perlu diingat pintu masa lalu kita masih terbuka; kita punya peluang besar kembali ke masa lalu, lalu ke saat ini dan bertualang menuju masa depan.

Kutidurkan gelisahmu di bawah remang cahaya bulan/ Lalu kuajak engkau bercakap-cakap/ Sementara dalam doa jangkrik/ Kita melatih untuk tidak lupa. Setiap kita pernah berusaha meninabobokan gelisah dan penderitaan kita saat ini, dan berharap waktu melahapnya sampai habis. Namun, esok pagi sebelum kita berdoa kepada siapa saja; “yang dininabobokan” bangun kembali dan bertualang bersama dengan kita. Tak ada lupa. Tak ada yang perlu dilupakan. Tak ada yang benar-benar lupa. Dan tak ada lupa yang benar-benar membantu kita memisahkan masa lalu, kini dan nanti. 
Bahwa kita masih punya harapan/ Untuk menjahit jarak/ Pintaku: Jangan lupa berharap. Ketika kita membunuh ingatan maka lupa akan berbicara. Sebaliknya ketika kita menolak lupa, ingatan berbicara dan memberikan isyarat. Di dalam lupa, kita masih punya harapan, yakni ingatan. Ingatan menjahit kekusutan jarak, yang berusaha memisahkan masa lalu, kini dan nanti. Sekali lagi, jangan sesekali melatih lupa, sebab lupa mengandung racun, yaitu ingatan. Ingatan beraroma harapan, yang mengikat mati masa lalu, kini dan nanti, yang disebut lingkaran waktu. Waktu membentuk peristiwa dan melahirkan puisi. Sebaliknya, puisi menciptakan waktu dan melahirkan keindahan. Dan keindahan itu abadi. Puisi yang indah merawat ingatan dan melawan lupa!
×
Berita Terbaru Update