-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Radikalisme di Negeri Kebhinekaan

Senin, 01 Juni 2020 | 14:57 WIB Last Updated 2020-06-01T07:57:02Z
Radikalisme di Negeri Kebhinekaan
Ilustrasi: google

PARA PEMBELA JIWA
(Catatan Pemikiran dan Hati) 

Bukankah kematian sungguh
menggetarkan kalbu jiwa ?

Kematian pasti datang 
bersama takdir dari Tuhan sekalian manusia 

Lalu siapakah Pembela kita
di hari perhitungan nanti ?
di hadapan Pengadilan Sang Maha Agung 

Sudah tentu amal baik kita semasa hidup 
tentunya perbuatan-perbuatan 
baik terhadap sesama manusia
yang disertai itikad baik dari dalam diri 

Hati yang ridha dan selalu bersyukur
kepada Tuhan 

Sikap yang jujur dan selalu 
menegakan kebenaran bukan pembenaran
dengan ikhitiar untuk adil pada keadilan hidup

Tidak melakukan hal-hal buruk
seperti selingkuh
tidak menyayangi keluarga
suka menyiksa pasangan hidup
tidak menipu dan membohongi 

Berarti untuk orang lain
demi kemasalhatan kehidupan 

Itulah yang akan menjadi Team Pembela
di hari perhitungan nantinya...

CINTA TINGGALKAN SAJA KALAU SUDAH BEGITU

Cinta kadang suka datang angin-anginan
membuat perasaan di dalam hati jadi suka anyang-anyangan
kalau begitu biarkan pergi seperti hembusan angin yang berlalu 

Cinta kalau membuat hati jadi pedih 
lupakan saja
tak perlu lagi dihiraukan dengan rasa 

Cinta itu harusnya beriringan dan sehati 
saling menganyam rasa...

Kadang sendirian itu membuat hati nyaman
tanpa ada yang mengusik rasa..."

RADIKALISME DI NEGERI KEBHINEKAAN INI

Bahaya-bahaya laten Otty menelusup diam-diam diantara kita
lalu membisikan paham aliran kelompoknya 
meracuni akal dan perlahan setahap demi 
setahap membutakan nurani 

Bahaya-bahaya laten itu berkedok seperti 
saudara kita sesama anak negeri 
tapi omongannya menghasut 
kata-katanya menebarkan fitnah tanpa bukti 
doktrin-doktrin kelompoknya, 
dia anggap pasti paling benar dan lainnya salah 

Bahaya-bahaya laten itu datang menyusup kepada 
kebodohan dan keterbatasan wawasan 
mengaku sebagai para pemilik lahan di syuuurga 
dan mereka menikmati itu semua 

Bahaya-bahaya laten itu, datang terlihat mentereng 
suci dan berpakaian rapi
tapi diam-diam memanipulasi dan 
melakukan korupsi demi kelompok dan paham organisasinya 

Bahaya-bahaya laten itu ada di sekitar kita 
dia bernana radikalisme dan sesungguhnya 
tak  dapat bertoleransi kepada sesama 
selain kepada kaumnya sendiri....

"Indonesia ke depan haruslah tetap bersatu 
tiap orang harus bersatu dan menyatu dalam 
satu kesatuan yang kuat serta utuh 
tak ada yang mendua dalam paham ideologi negara ini! "

LEBARAN DI RUMAH SAJA
(Tetap tak melupakan adat yang diadatkan)

Sholat dua rakaat di rumah saja 
mendengar ceramah dari televisi 

Tak ada sholat ied bersama di tanah lapang 
apalagi mimbar untuk ceramah 
mesjid-mesjid di penuhi jamaah seadanya 

Suasana lingkungan dan perkampungan begitu sepi
matahari menyala di malam hari 

Bersalam-salaman dengan ala PSBB 
saling bermaaf-maafan tak berjabat tangan 
dan tak saling berpelukan seperti biasanya 

Bersilaturahmi tele conference 
tak bertemu pada jarak tapi dekat di hati 

Tak ada photo bersama keluarga besar 
tak ada riuh canda tawa di ruang tamu 
sampai ke ruang makan seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya 
tak ada ngobrol dan ngopi bareng bersama 
teman dan tetangga di siang hari lebaran 

Suasana lingkungan perumahan dan perkampungan begitu sepi
matahari menyala di malam hari... 

ASRAMA PARA DUDA 2
(Kisah para lelaki sendirian)

Gema takbir telah bersahutan di tengah jantung langit malam 
tak ada lagi tautan hati untuk ditambatkan 
kerna hilal cinta belum terlihat sampai saat ini 
malam takbiran tahun ini hanya bisa menikmati suasana sendirian 

Tadi pun menyantap buka puasa di akhir bulan ramadhan ini dengan 
lauk sederhana warungan 
tetap dengan rasa bersyukur

Para tetangga asyik dan reriunga berkumpul dengan keluarga mereka 
sambil menyaksikan kembang-kembang api yang 
terbang meriah memenuhi angkasa malam 
atau menonton anak-anak mereka memasang dan 
memainkan petasan yang tadi sore di beli di pasar...

Tak ada lagi cerita kemesraan bersama si jantung hati yang 
dapat dijalin indah
seperti ayaman daun-daun ketupat yang terjalin erat penuh rindu 
seperti masa-masa dahulu... 

Ada sepi yang menyelinap diam-diam ke dalam relung rasa 
bersama tabuhan riuh beduk dan gema suara takbiran 
di malam lebaran tahun ini 

Oleh: Eko Prakoso
Penulis adalah penyair sekaligus penikmat sastra
×
Berita Terbaru Update