-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rekonsiliasi dalam Politik dan Ritus Budaya Hambor Manggarai

Sabtu, 06 Juni 2020 | 22:46 WIB Last Updated 2020-06-06T15:46:26Z
Rekonsiliasi dalam Politik dan Ritus Budaya Hambor Manggarai
Rekonsiliasi dalam Politik dan Ritus Budaya Hambor Manggarai - Eugen Sardono

Di Manggarai, ada sebuah ritus  rekonsiliasi yang sangat mendalam dan penuh makna. Ritus itu disebut hambor. Hambor tidak saja terjadi dalam kehidupan harian, tetapi juga perlu dipraktikan dalam konteks kehidupan politik. Saya memberikan sumbangsi hambor dalam dunia politik. Hambor berarti membudayakan amnesia dan compassio. Hambor dapat juga dilaksanakan sebagai jalan keluar untuk suatu konflik berkepanjangan yang menimbulkan dendam yang ditemurunkan. Hambor tidak menggantikan keadilan. Pengampunan atau rekonsiliasi melampaui keadilan. 

Emanuel Levinas pernah mengatakan, “pengampuan itu tidak murah, maka jangan diberikan sembarangan”. Rekonsiliasi sejatinya tidak murah meriah. Tidak ada rekonsiliasi pada jalan pintas. Rekonsiliasi memang tidak dapat dibangun sebagai sebuah target politik yang dicapai pada waktu tertentu dalam pemikiran Budi Kleden. Rekonsiliasi adalah suatu perwujudan kebebasan yang terjadi antarpihak, dan karena itu tidak dapat dipaksa. 

Senada dengan itu, hambor dalam dunia politik penting. Hambor pertama-tama dimulai dari diri sendiri. Locus fundamental hambor adalah diri sendiri, dari sana perjalanan pun menuju ke orang lain dan situasi. Baru-baru ini, kita sudah merayakan pesta demokrasi. Demokrasi dalam dirinya bukan saja soal pemilihan langsung. Nilai-nilai demokrasi adalah keadilan, kebenaran dan menjunjung-tinggi nilai persaudaraan. Ketika nilai-nilai yang disebutkan tidak ada berarti demokrasi kita sedang macet dan mandeg. Demokrasi paling nyata dasawarsa ini bukan lagi di tangan pemimpin, melainkan di tangan masyarakat (akar rumput). 

Pesta demokrasi sudah terjadi dan sudah ada pasangan calon yang dimenangkan dalam pemilihan. Sebagai masyarakat yang terlibat dalam pemilihan, kita harus dengan besar hati mengakui pasangan calon yang menang dan menerima pasangan calon yang kalah (kendatipun itu dalam pihak kita). Suatu animo umum, masyarakat di wilayah pelosok dan kampung masih hidup dalam konflik berhadapan dengan pesta demokrasi. Pemilihan yang sudah terjadi, tetapi orang masih belum mampu menerima pasangan yang menang (karena itu bukan dari kubu kita). Ini menjadi sebuah persoalan, bukan?

Dalam tulisan ini, saya menawarkan seruan imperatif hambor di wilayah akar rumput. Kita tetap berpegang pada suatu petuah: siapa pun pemimpinnya adalah pemimpin kita juga. Perbedaan dalam memilih pemimpin ideal tidak menjadikan kita berkonflik dan berbeda jalan dalam kehidupan harian, apalagi kalau itu hidup dalam satu kampung. 

Perbedaan penentuan pilihan merupakan hal biasa dan tidak sejatinya dibawa dalam ruang kehidupan lain. Pertama, Menyadari diri sendiri secara utuh dan menerima kekalahan serta mengakui kemenangan pihak lain merupakan unsur vital dalam hambor. Di sini, dibutuhkan pengakuan yang jujur mengenai peran masing-masing pihak dalam suatu persoalan. Budi Kleden mengutip Primo Levi, seorang pemikir Yahudi pernah menulis: “siapa yang sungguh terluka, akan cenderung menekan kenangannya tentang peristiwa itu, agar rasa sakit yang pernah dialami tidak terulang lagi. Dan barang siapa yang telah menyebabkan luka itu, akan mendepak kenangannya ke dasar hatinya, untuk dapat membebaskan diri darinya, agar rasa bersalahnya dapat diringankan. 

Kedua, menerima orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tenggelam dalam sejarah sendiri membuat perasaan dan kesadaran menjadi tumpul terhadap apa yang dialami oleh orang lain. Hambor hanya dapat dibangun, apabila ada perasaan dan kesadaran akan penderitaan orang lain. Setiap orang merindukan perdamaian. Supaya damai bisa bermekar dalam hidup bersama, maka perlu membongkar ‘aku yang tertutup’ dengan membangkitkan spirit ‘ke-kita-an’. Spirit ini dibangun atas dasar relasi apresiatif dan kolaboratif antara aku dan engkau, yaitu antarsubjek yang bebas dan setara. Dalam spirit ke-kita-an, setiap subjek dengan mantap berkata, “kita ini bersaudara, kita sama-sama berjuang untuk mewujudkan damai”. 

Maka kita mengenal tiga jalan menuju hambor. Pertama, damai dengan diri sendiri. Di sini, orang merasa at home dengan dirinya sendiri. Tenang, bahagia, dan tidak terancam. Kedua, berdamai dengan sesama. Dalam lapisan ini, sesama dilihat sebagai sahabat (socius). Dengan demikian, akan terwujud “societas persahabatan”. Ketiga, damai dengan lingkungan. Artinya, ada relasi harmonis antara manusia dan lingkungan yang mengitarinya. Akhirnya, lapisan yang keempat adalah damai dengan Tuhan. Orang merasa aman, terjamin, dan tenang berada bersama-Nya.

Hanya dengan jalan terseut, orang bisa menggapai hambor dalam politik. Perdamaian merupakan kodrat manusia. Argumen ini didukung Agustinus dalam buku De Civitate Dei, ia menegaskan bahwa perdamaian adalah apa yang dirindukan oleh setiap orang, bahkan oleh setiap makhluk. Agustinus merefleksikan ada tiga dimensi perdamaian, yaitu dimensi personal, dimensi sosial, dan dimensi teologal. Dalam dimensi personal, manusia memiliki kerinduan untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dimensi sosial memaksudkan manusia terdorong untuk berdamai dengan semua orang. Dimensi teologal berarti manusia memiliki kerinduan berdamai dengan Allah. Rekonsiliasi menurut Mudji Sutrisno, pengampunan memiliki dua substansi, yaitu kesehajaan hidup dan keadilan diwujudkan. Rekonsiliasi merupakan act of faith, laku tulus yang perwujudannya adalah memuliakan kembali kehidupan yang baru saja dimatikan oleh tindakakan kekerasan kemanusiaan.

Perdamaian selalu berbasisikan cinta. Penulis memaksudkan pengakuan atas dasar cinta sebagai pusat dari psikologi subjek. Tanpa “care and love”, kepribadian manusia (khususnya: anak-anak) tidak bisa berkembang. Analisis tersebut didasarkan atas tiga pengakuan yaitu cinta, respek dan solidaritas. Dalam dunia politik sekarang, kita perlu menerjamahkan hambor secara nyata. 

Hambor adalah ungkapan kasih sayang dan cinta yang teramat sukar dilakukan. Memberi maaf juga adalah risiko paling berat upaya mencintai. Artinya, memberi maaf tanpa alasan kasih dan cinta adalah seorang manipulator.  Kesediaan untuk memaafkan merupakan karya Allah agar kita hidup selaras di dunia yang penuh dengan manusia yang berkehendak baik, tetapi sekaligus juga saling memperlakukan secara tidak adil, saling menyakiti sejadi-jadinya.

Cinta berasal dari kata Ibrani berarti ahaf (nafas). Oleh karena itu, hambor yang menipu sama dengan hambor yang sedang mempermainkan cinta. Ketika hambor hanya sekadar simbolisme belaka, maka orang sedang menjalani hidup yang sedang mengarah ke kematian. 

Memaafkan merupakan resolusi cinta melawan ketidakadilan hidup. Bila kita memaafkan, kita mengesampingkan hukum-hukum moral yang berlaku yang menjerumuskan kita kepada sikap membalas. Kita melepaskan diri dari masa lalu yang manyakitkan, yaitu dengan keunggulan kasih. Kita melangkahi moralitas “mata ganti mata” untuk menciptakan masa depan yang mengubah kebejatan masa lalu. Kita membebaskan diri dari kesalahan yang tertanam dalam masa lalu pribadi kita; kita melepaskan maksud buruk; dan mungkin juga kalau kita beruntung, kita berhasil kembali menjalin relasi yang jika tidak, dapat hilang dan tidak dapat dipertahankan lagi.

Memaafkan merupakan mukjizat yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Jangan pernah membanding-bandingkan tuntutan memaafkan yang terasa oleh kebanyakan orang dengan kemampuan mencintai yang biasa-biasa. Dalam peristiwa lain, ada filsuf yang memberikan pandangan negatif tentang memafkan. Charles Williams mengatakan bahwa memaafkan sebenaranya merupakan permainan; kita hanya dapat memainkannya, kita tidak mungkin melakukannya.

Dalam hal ini hambor mengetengahkan ungkapan cinta. Cinta mengatasi keadilan dan hukum.  Hambor, hitu kali ata dian kudu pongo kole ase kae ata behas ali masalah. Hambor kudut nganceng lonto leok ase agu kae. Ase kae toe bentuk ca leso. Morin agu Ngaran benta sanggen ase kae kudu kaeng one ca mbaru. Morin agu ngarang benta ase kae kudu kaeng one ca beo. Morin agu ngaran benta ase kae kudu cama ca wa’e bate teku. Morin agu ngaran benta kudu ase ka’e ngo duat one ca lingko. Morin agu ngaran dedek mbaru gendang kudu lonto cama laing ase agu kae. Morin agu ngaran dedek natas kudu labar cama laing.  (Hambor, itulah solusi terbaik mengikat kembali persaudaraan yang telah retak. Hambor memungkin demokrasi. Kekeluargaan tidak selesai dalam satu hari. Tuhan (Wujud Tertinggi) diamini sebagai Dia yang memanggil manusia untuk tinggal dalam satu rumah. Tuhan diimani, Dia yang memanggil manusia untuk menimba di satu mata air yang sama. Tuhan diimani sebagai Dia yang membentuk lahan atau kebun. Tuhan diimani sebagai Dia yang membentuk rumah adat untuk duduk bersama. Tuhan diimani sebagai Dia yang menciptakan tempat untuk bermain).

Eksistensi langsung pertama yang diambil kebesasan secara langsung adalah hukum. Contoh paling khas dari hukum adalah hak milik. Dalam hak milik, kebebasan kehendak diakui karena bernda yang merupakan milik seseorang diakui dan dijamin. Menjadi hak milik berarti bahwa seseorang meletakkan kehendaknya ke dalam benda itu. Milik itu menentukan luasnya lingkaran kebebasan personal. Kebebasan di sini mempunyai eksistenti dalam bentuk “perintah hukum” di mana persona di sini dimaksud sebagai pemilik hak.

Dalam konteks hambor, hak milik juga merupakan sesuatu yang diperhitungkan. Dalam goet Manggarai Timur dikatakan demikian: “Néka barang daku, barang data. Néka wina daku, wina data. Neka mbaru daku, mbaru data. Néka tanah daku, tanah data. Neka sanggen ngoeng barang data” (Jangan menganggap barang saya, kepunyaan orang. Jangan menjadikan istri saya, isteri orang. Jangan jadikan rumah saya, rumah orang. Jangan merampas tanah orang. Jangan ingin memiliki barang orang lain).

Ungkapan di atas menunjukkan sebuah kepemilikan. Kepemilikan dalam pandangan Honneth, hukum semata-mata sesuatu yang formal. Karena itu, “kepentingan khusus, memaafkan merupakan sebuah aspek lain dari konsep tentang keadilan.  

Hambor dan solidaritas. Honneth selalu menekankan aspek solidaritas kemanusiaan. Dalam hambor mencetuskan sebuah aksi solidaritas kemanusiaan. Solidaritas kemanusiaan yang ditekankan adalah aspek belajar. Barang siapa memiliki perbendaharaan hati yang baik dari aspek belajar, maka ia juga akan melakukan kebaikan. Hidup manusia tergantung dari formasi yang dibangun selama  hidup. Jika yang dibangun adalah solidaritas, maka formasi diri manusia dibentuk dengan solider dengan yang lain. 

Kalau yang dibangun adalah formasi diri yang selalu menyalahkan yang lain, maka hidup pun akan terbentuk seperti itu. Formasi diri kita dibentuk dari apa yang kita pelajari. Dalam hambor, Solidaritas adalah sekolah penting. Dalam proses solidaritas, ada dua hal yang perlu mendapat penekanan, yaitu penciptaan dan penciptaan kembali. Pada hakikatnya, manusia diciptakan dalam keadaan baik. Manusia pada hakikat selalu terarah ke solidaritas dengan yang lain. Dalam proses, manusia kadang jauh dari solidaritas. Maka, di sini penciptaan kembali penting. Seiring berjalannya waktu, manusia jatuh dalam relasi yang tidak sehat. Manusia kadang kejam dan jahat dengan sesamanya. 

Hambor membuka lagi penciptaan baru. Penciptaan baru lahir, oleh karena penciptaan pertama sudah kehilangan wajah baiknya. Penciptaan baru itu tampak dalam solidaritas kemanusiaan. Manusia dalam pemahaman hambor bukan merupakan suatu ceritera yang sudah selesai. Manusia senada dengan Gabriel Marcel adalah misteri. Kemisterian manusia itu sendiri yang perlu diberi ruang baru bagi terciptanya relasi baru. Menutup pintu maaf sama hal dengan melihat orang lain sebagai sebuah pribadi yang tidak memiliki kemungkinan untuk berubah.

Oleh: Eugen Sardono
Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang, Jawa Timur.
×
Berita Terbaru Update