-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Relokasi Sama dengan Jual Kampung?

Rabu, 03 Juni 2020 | 15:08 WIB Last Updated 2020-06-03T08:08:01Z
Relokasi Sama dengan Jual Kampung?
Relokasi Sama dengan Jual Kampung? - John Kadis

Dilihat dari posisi zaman now atau zaman moderen, kadang orang yang terkesan pintar itu perlu ditinjau kembali. Padahal pada zaman now, relokasi itu justru  menguntungkan, seperti kata Jokowi. Ditinjau kembali dalam arti bahwa buah pikiran orang pintar masih bisa didiskusikan. Harus disadari bahwa dialektika dalam diskusi kadang tanpa akhir. Oleh karena itu perlu final untuk sebuah keputusan yang dapat dilaksanakan. Dalam sistem pemerintahan, ada program konkrit untuk dilaksanakan. Bagi mereka yang berada di luar sistem, adalah hak mereka untuk berlanjut diskusinya.

Beo (kampung) dan segala pendukungnya, compang, natas, congkor (backyard) memang mempunyai nilai budaya. Tapi kalau posisi itu pada zaman now tetap statusquo miskin, maka untuk apa dipertahankan? Bangka2 (bekas kampung) terjadi karena alasan itu. Pindah, relokasi. Apalagi ketika ada investor yang memanfaatkan lahan untuk suatu usaha dalam skala besar. Dari sisi Yesus Kristus (Gereja), belum tentu compang, yaitu batu altar persembahan animisme di tengah kampung, itu murni sebagai altar untuk Ekaristi setelah diinkulturisasi kedalam gereja. Hingga zaman ini, compang itu masih dipakai untuk ting hang ise empo (persembagan kepada nenek moyang). Memang alm. uskup Wilhelmus Van Bekkum melakukan inkulturasi di mana di compang dulu ditancapkan kayu salib, tapi ini tidak berlanjut, sekarang sudah tidak tampak lagi. 

Pikiran kecil saya, seyogianya uskup setelahnya bikin kapela / gereja persis di tengah kampung, dimana watu compang sebagai altarnya, maka inkulturasi itu menyatu. Tapi nyatanya tidak. Kenapa? I dont know, even I had the answer. Tapi saya buka sedikit alasannya, barangkali ini,  yaitu : manusia bukan untuk hari Sabat tapi hari Sabat untuk manusia. Gereja itu bukan bangunan fisik, tetapi tubuh manusia yang menyatu dengan Yesus Kristus, tubuh mistik Kristus. Nilai luhur sebuah beo dan watu compangnya untuk manusia, bukan manusia untuk beo & watu compang.

Saya ingat ketika Yakob disuruh anaknya Yusuf, raja Mesir saat itu, untuk pindah ke Mesir supaya mengatasi kemiskinan ayah dan saudara-saudaranya. Relokasi. Pindah kampung. Tapi ternyata turunan israel ini menjadi budak di Mesir, lalu mereka pindah lagi ke tanah Kanaan. Relokasi lagi. Dan... di negara Israel mereka hidup hingga kini. Apakah  mereka pika beo sebelumnya? Tidak diceritakan, mungkin penulis Kitab Suci anggap tidak penting untuk dicatat.

Saya tidak punya kepentingan apapun dalam tambang semen di bukit batu di Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, atau rencana explorasi sumber panas bumi di Kecamatan Sano Nggoang di Kabupaten Manggarai Barat.  Saya hanya peduli pada kemiskinan warga setempat yg perlu diatasi Saat ini. "Berilah kami rezeki pada hari ini...", doa yang sering diucapkan. Bukan rezeki esok hari. Mission of the Poor. Jika relokasi itu bisa meningkatkan kesejahteraan hari ini, why not! Watu compang juga bisa direlokasi, why not!. Nilai luhur watu compang itu tidak melekat di tanah, tapi di hati manusianya. 

Mengapa saya berpendapat begini? Karena itu bukan tambang mangan atau emas, karena untuk jenis itu amat berbahaya dampaknya, lagian merusak lingkungan sebuah pulau yang begitu kecil tapi padat manusia. Salah satu usaha gereja bersama awam yang berhasil adalah moratoriumnya explorasi tambang emas di Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, dan di tempat-tempat lainnya.

Oleh: John Kadis
×
Berita Terbaru Update