-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Salahkah Aku Mencintai Dirimu? (Sebuah 'Soliloqui')

Selasa, 16 Juni 2020 | 18:35 WIB Last Updated 2020-06-16T11:36:53Z
Salahkah Aku Mencintai Dirimu? (Sebuah 'Soliloqui')
Salahkah Aku Mencintai Dirimu? (Sebuah 'Soliloqui')

Oleh: Sil Joni*

Memori di sudut beranda sekolah lima tahun lalu, kembali 'menjenguk' aku siang ini. Batinku terlalu 'ringkih' untuk mengendapkan "kisah perjalanan rasa' itu, di dalam lubuk hati. Kuputuskan untuk 'membentangkannya' dalam goresan sederhana ini.

Terlalu agung rasa ini untuk diselami secara tuntas. Apa yang tersaji di sini, hanya sebatas 'pijar-pijar' yang masih terekam dalam layar ingatan. Anggap saja nukilan ini sebagai sebuah upaya melawan lupa dan merawat alur bahasa rasa yang begitu memesona.

Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri kala itu. Mengapa 'wajah manis' itu menghiasi hari-hariku yang kadang amat meletihkan. Tetapi, dengan masuknya cahaya wajah itu dalam pigura sukma, hidupku kian berbunga-bunga.

Kendati demikian, wajah itu kadang bisa menyedot 'energi atensi' yang berlebihan, sehingga aktivitas rutin agak 'terganggu'. Kucoba kerahkan daya sekuatnya untuk menghalau rasa itu. Hasilnya adalah nihil. Rasa itu tetap bercokol dalam dada. Kuputuskan untuk tidak lagi 'mengutuk' rasa itu, tetapi berusaha merawatnya secara kreatif.

Kusadari sepenuhnya bahwa upaya merawat rasa tak selalu bermuara pada ikhtiar mendapatkan raga. Aku hanya ingin merenda perjalanan batinku dengan satu episode romansa yang terukir di padang ini.

Ada semacam dambaan untuk merangkai sekeping narasi sejarah pribadi yang ditaburi pernak-pernik rasa romantis. Kuberharap 'getaran dan debaran rasa' kala bersua wajah 'gadis jelita' ini, bisa menjadi salah satu adegan sejarah yang berkesan dan menawan.

Saat itu, aku tak bisa menyembunyikan 'desahan rasa' yang sekian lama bersemayam dalam bingkai kalbuku. Daya fantasiku diaktifkan untuk sekadar 'memasang jerat' agar sang wajah menerobos jendela jiwa dan kalau dapat bisa bermukim dalam istana hati, meski hanya sesaat.

Aku seolah 'tak perduli' apa kata dunia terkait dengan 'sandi asmara' yang dilayangkan secara spontan kala berjumpa dengan empunya 'wajah elok' itu. Sungguh, aku tidak bisa berpaling dari 'aura magis' yang terpancar dari kedalaman jiwanya.

Kilauan sinar kecantikannya, sukses membius rasa yang tak tersentuh bahasa. Cinta ini memang sulit dibedah pisau logika. Sebuah rasa yang hanya bisa dinikmati dengan setetes intuisi dan emosi.

Kadang aku dihantui oleh rasa bersalah yang amat dalam. Soalnya adalah jarak usia antara aku dan dia 'terpaut cukup jauh'. Namun, sebuah ungkapan bernada menghibur bergema cukup kuat. "Ketika rasa berbicara, maka segala kategori, termasuk jarak usia, menyusut bahkan lenyap. Yang tersisa adalah pantulan gelombang cinta yang mungkin 'bertepuk sebelah tangan'. Atas dasar itu, aku melangkah dalam latar harapan purna. Rasa ini tak bisa ditawar apalagi dilego dengan aneka kalkulasi.

Dalam diam, sebuah tanya melengking dari bibir jiwa, "Gadis manis, salahkan aku mencintai dirimu"? Boleh jadi, desahan itu tenggelam dalam arus rutinitas kesehariannya. Mungkin, selamanya aku tak mendapat jawaban darinya. Tetapi, sejujurnya aku katakan "Aku terlanjur rindu dan terpesona dengan bias keindahan yang menyembul dari lorong jiwamu".

Kintal sekolah menjadi saksi bisu bagaimana rasa ini membara dan mengembara dalam sebuah 'tanda tanya'. Kubiarkan 'tanya' itu melayang dan berkelana di beranda lembaga. Siapa tahu, sang waktu bisa 'membahasakannya' dengan cara yang lebih kreatif dan memikat. Satu yang pasti bahwa perkara mencintai dan dicintai tak pernah dibatalkan oleh parameter yang bersifat lahiriah. Ruang gerak cinta tidak sesempit yang manusia pikirkan.

Mungkin hingga detik ini, gadis manisku itu, tak pernah merasakan derasnya denyutan cintaku kala itu. Sejatinya, cinta tidak diukur dengan kata 'ya atau tidak'. Rasa penasaran akan menemui batasnya ketika jawaban definitif disodorkan. Karena itu, kubiarkan tanya ini 'menggantung' agar gairahku untuk mencari cinta yang utuh, tak pernah pudar dan surut.

Menagih kepastian dalam bercinta bisa dipatok sebagai upaya 'merampas kebebasan' sang cinta itu sendiri. Aku membiarkan 'logika cinta'' yang berbicara. Dengan itu, aku menghargai 'mutiara ilahi' yang memenuhi seluruh tubuhnya. Mungkin poin yang bisa aku pegang adalah bahwa aku mengekspresikan 'rasa cinta' itu secara jujur dan tulus.

Entah mengapa aku 'terperangkap" dalam jejaring kemilau hatinya yang terang benderang. Aku tak bisa mengelak sejengkalpun. Apakah ini yang namanya 'jatuh cinta'?  Mungkin. Tetapi, sebetulnya aka tak sudi bunga cinta itu 'jatuh'. Sang mahkota cinta mesti dirawat secara telaten agar tidak jatuh dan retak. Aku yakin sekali soal rasa tak pernah bohong, meski mungkin sekian sering dibohongi. Daya percikan rasa tak boleh dipendam jika tidak ingin menuai 'sakit hati' yang tak akan terobati.

Lima tahu lalu, langkah kakinya terarah ke sekolah ini. Sejak saat itu, rasa ini terbit. Sebuah riwayat perjalanan rasa yang begitu panjang dan menyenangkan, walau lebih banyak bermain dalam wilayah imajinasi. Aku cukup beruntung mendapatkan 'secercah sinar cinta' yang sanggup melenyapkan kejenuhan. Barangkali, perjumpaan ini sudah 'dirancang oleh Sang Waktu' bahwa pada satu titik masa, kita menenun kisah bersama dengan rupa-rupa dinamika.

Aku tak pernah menyesal dengan rasa yang 'tergores amat telat' ini. Waktu memang tidak bisa dikompromi. Tetapi, kita sudah memaknai aliran waktu dengan 'jalinan cerita' yang pantas dikisahkan. Tak mengapa jika saat ini 'hatiku tertambat pada belahan jiwaku saat ini'. Dentuman rasa kala itu, tentu bukan untuk meniadakan yang sekarang, tetapi menambah bobot petualangan cinta yang bermuara pada pantai kasih persaudaraan yang bersifat universal. Sebuah bentuk penghayatan cintai yang menembus batas ruang dan waktu. "Bagi yang mencintai hidup adalah keabadian", kata para bijak bestari.

Di ujung goresan ini, ijinkan aku mengungkapkan dua hal. Pertama, lembar kebersamaan kita memang sudah berlalu. Tetapi, kenangan dan ingatan akan 'kisah kasih kita di sekolah', tetap hidup selamanya. Terima kasih atas kesediaan dan pengertianmu saat kita bersua dan bercanda di sudut sekolah.

Kedua, mohon maaf jika ekspresi rasaku 'agak berlebihan'. Mungkin, gadis manisku ini merasa "terganggu" ketika aku bercanda denganmu di depan para sahabatmu. Tak ada maksud untuk 'menculik' hatimu dan atau  memiliki dirimu selamanya.  Aku hanya ingin merawat rasa ini agar tumbuh menjadi pohon kehidupan yang membuahkan hal kreatif dan produktif.

Itulah sekelumit 'dialog rasa' yang dibumbui dengan unsur fiksi. Sebuah permenungan yang diinpirasi oleh pengalaman nyata dan dipadukan dengan teknik penciptaan realitas tekstual yang imajiner.

*Penulis adalah peminat sastra
×
Berita Terbaru Update