-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Salahkah Aku Mencintaimu

Senin, 08 Juni 2020 | 20:01 WIB Last Updated 2020-06-08T13:35:55Z
Salahkah Aku Mencintaimu
Ilustrasi: google

"Maaf kakak, sampai disini saja hubungan kita. Keluargaku tidak merestui hubungan kita". Kalimat itu telah mengakir semua kisah cintaku yang ku jalin sejak 3 tahun yang lalu. Tak ada penjelasan lebih lanjut daru dia dan membuat kalimat itu masih mengusik pada pikiranku. Rangkayan kata- kata itu telah menjatuhkan pikiranku hingga tubuh enggan untuk coba berdiri lagi.

Dinginya malam kini terasah menyengat pada kulitku, hawa duka masih bertebaran menguasai waktuku. hampa menemani dan hingga tak sadar air mata membasahi pikiranku. Sekujur tubuh inipun terasa berat untuk aku pikul.

"Nak, jangan terlalu sedih. Mungkin itu bukan jodohmu. Jika Tuhan menginginkan kalian bersatu, Dia tidak akan mengizinkan sendu mengutik pikiramu"
Kalimat itu nampak berlari dari mulut ibuku yang dari tadi memperhatikan diri ini telah dikuasi oleh dia.

"Harus semangat nak". Lanjut ibu dengan kata- katanya yang telah menembus sunyi yang kian melara dalam batin ini
Kisah malam itupun telah berakir dimenangkan oleh sendu. 
"Yuan, bangun sudah ini sudah jam 6, kok kamu masih belum siap kesekolah?" Kalimat awal pagi itu  ku dapat dari ibu yang sedang sibuk membereskan kamar. Kamar yang berantakan telah menjadi saksi bisu bagaimana malam mengakhiri kisahku pada hari ke marin. 
Lo, kamu ko masih diam? Nanti kamu terlambat lagi kesekolahnya. Rupanya ibu masih saja memperhatikan diriku.

Baik ma, sekarang sudah jam berapa? Jawabku sambil mengusap wajah dengan tangan. Ini sudah jam 6, kapan kesekolahnya? Jawab ibu dengan nada kesal.
Jam 7 aku siap kesekolah yang jaraknya tidak begitu jauh namun melelahkan.
 Tak sadar 8 jam bergulat dengan materi yang di ajarkan oleh guru di sekolah.
Waktu pulangpun kini telah tiba, semua warga sekolahpun lasung pulang. Namun ada yang unik kalah itu, biasanya lepas jam pulang ada sosok gadis menemaniku untuk pulang. Namun itu tidak terjadi lagi sejak minggu malam yang lalu. Dengan egonya  dia merobohkan bangunan yang aku bangun bersamanya. 

Senja telah kembali berjaya, gerimis menghiasi dinding sepi, merobek kulit rindu hingga terluka dan tubuh rindu yang telah dicetuspun penuh dengan darah air mata.
Luka baru tak sempat aku balut dengan persaan baru. Begitu sulit sampai otakku yang menjadi pusat pikiran mulai lelah untuk memikirkan kata-kata tuk menjelaskan betapa kecewanya hati ini. Gerimis masih saja jatuh dari pipih langit yang kini di cat hitam oleh awan sejak 4 jam lalu. Aku tak sempat menghiraukan sekitar. Rupanya ibu masih saja memperhatikan kekesalan anaknya. Dia kini duduk di sampingku 

Nak, jangan sedih! Ibupun meluncurkan kata-kata hingga melulantahkan sepi yang dari tadi sibuk menerbitkan pikiran tentang dia.
Aku menoleh ke arah ibuku, dengan nada sesal akupun coba mebuka pikiran tuk  merangkai kata-kata. Rupanya kata sesal aku dapat dan coba dilafazkan. 

"Bu, ibukan sudah tau hubungan kami sudah masuk 3 tahun. Apa bisa dengan  dalam waktu 2 hari ini saya dapat melupakannya? Ibu memahamin kesesalan hatiku, dengan sabar ibu melanjutkannya
Nak jika memang dia begitu mencintamu, dia tidak setegah ini meninggalkan dirimu. Meskipun ibunya melarang hubungan kalian.

Ibu, salakah aku mencintainya? Tanyaku kepada ibu yang masih  duduk di sampingku.
Kemudian dengan kasih sayang, ibu memeluku dan berkata
Nak, ingat cinta Tuhan lebih besar dari pada cintanya. Kalimat itu rupanyan mebangkitkan aku dari keterpurukan cintaku. Dan semenjak itu aku belajar mengiklaskan semuanya itu

Tahun telah berlalu, cinta seorang gadis telah menjadi cerita yang amat misteri dalam hidupku. Kini setelah sekian cara telah aku lalui, rupanya Tuhan telah menunjukan cintanyan kepadaku. Benar kata ibu, tak ada cinta yang lebih besar dari cinta yang berjalin dengan Tuhan. Kenangan telah sirnah dalam benaku. Rupanya wajah gadis itu perlahan memudar. Kini jubah putih menyelimuti tubuhku dari luar. Aroma biara telah aku hirup sekian tahun. Nama gadis itu telah menjadi sosok misteri yang telah hilang 5 tahun yang lalu ketika kuputuskan untuk mencintai Tuhan.

Tak sadar waktu libur ujian semester telah datang, aku kini kembali kepada tempat kelahiranku. Tempat aku mencetuskan segalah kenagan.
Rupanya segalah jiwaku telah beradu dengan hal yang baru.
Tepat hari minggu, aku bersama kawan-kawanku berkumpul di halaman gereja usai merayakan perayaan ekaristi. Pakayan jubahku masih ku kenakan. 

Fr, bagaimana dengan si dia? Tanya seorang teman padaku.
Dia siapa ya? Jawabku.
Ah, masa lupa 5 tahun yang lalu lo! Lanjut temanku dengan nadan tuk yakinkan aku.
Oh, dia rupanya. Ah tidak usah mengusiki lagi. Dia sudah mungkin menjadi seorang ibu.
Jawabku dengan kalimat candaan.
Percakapan singkat rupanya berkair ketika lonceng gereja di bunyika tepat jam 12. 00
Akupun bergegas pulang ke rumah.
Senjah di hari minggu rupanya membawaku kepada masa lalu. Kepada kalimat yang kini sempat aku lupakan.

Dingin masih saja menyengat kulitku seperti 5 tahun yang lalu. Angin bagaikanbdi rasuki oleh dia untuk menguyur ingatan atas namanya. 
Mungkin dia sudah menjadi seorang ibu. Pikirku untuk melepaskan aku dari belenggu tentangnya.

" Jika saya bisa mencintai dia dengan tulus hati, mengapa tidak denga Tuhan.
Tuhan telah mengubah diri ini menjadi pribadi yang dapat mengubah masalaluku.
Rupanyan segalah tentang dia telah tuntas. Kisah cinta monyet yang membuatku melupakan segalah sesuatu tentang cinta yang lebih besar. Jika dahulu aku sempat menagis karna cinta yang di tinggalkan, kini aku tertawa karna cinta dari Dia. 
Tak ada sesal yang kudapat dari cinta itu. 
Terimah kasih untuk Maria yang telah mengajarkanku tentang cinta bersifat duniawi
Kini semuanya telah ku peroleh, perbedaan antara cinta duniawi dengan Surgawi.
Aku tak sadar bahwa di sekitarku telah menunas sepih dan senjapun telah berakir tannpa restu 

Penulis: Yuan Hadi Setiawan
×
Berita Terbaru Update