-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sastra untuk Anak-Anak: Siapa Peduli?

Rabu, 17 Juni 2020 | 19:50 WIB Last Updated 2020-06-17T12:50:12Z
Sastra untuk Anak-Anak: Siapa Peduli?
Sastra untuk Anak-Anak: Siapa Peduli?

Oleh: Sil Joni*

Pembicaraan seputar isu sastra selama ini, umumya mengacu pada aktivitas kebudayaan yang digeluti oleh orang dewasa. Beragam karya sastra yang dihasilkan lebih banyak hanya cocok dikonsumsi oleh orang dewasa. Sastra yang ditulis oleh anak atau karya sastra yang ditujukan khusus untuk anak, belum memperlihatkan perkembangan yang signifikan.

Beberapa tahun terakhir, geliat bersastra di provinsi NTT memperlihatkan trend yang sangat membanggakan. Jumlah buku-buku sastra yang ditulis oleh sastrawan NTT, terus bertambah. Demikian pun pembentukan komunitas yang secara intensif 'mengusung gerakan dan wacana penciptaan' karya sastra semakin bertambah. Tetapi, aneka karya sastra itu umumnya masih ditujukan untuk segmen pembaca yang sudah dewasa.

Perhatian untuk menghasilkan karya sastra yang bisa dinikmati oleh 'usia anak-anak', belum digarap secara serius.  Anak-anak usia Sekolah Dasar di NTT tentu saja masih menderita kekurangan 'buku sastra anak' yang sesuai dengan konteks budaya lokal kita.

Apa itu sastra anak? Nurgiyantoro (2013:12) mendefinisikan sastra anak sebagai karya sastra yang menempatkan sudut pandang anak sebagai pusat penceritaan. Secara sadar atau tidak sadar, kehidupan kita selalu dikelilingi dengan sastra.

Pendidikan sastra sudah diterapkan sejak kita masih kecil. Saat seorang ibu bersenandung sambil menidurkan anaknya atau saat seorang ayah mendongengkan anaknya menjelang waktu tidur di malam hari itu semua merupakan karya sastra yang mulai diperkenalkan kepada kita sejak masih di dalam rumah sampai kita mulai mengenyam pendidikan formal di sekolah sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib. Sastra anak biasanya dikemas dalam bentuk yang ringan dan mudah dipahami oleh anak.

Jika kita mengamini dan menyadari bahwa sastra merupakan kebutuhan dasariah manusia, maka semestinya 'sastra' itu sudah diberikan sejak usia anak-anak. Mungkin secara lisan kebiasaan bersastra kepada anak itu masih dipraktikkan oleh sebagian keluarga kita melalui kebiasaan bercerita atau membaca dongeng sebelum tidur. Itu sebuah tradisi yang sangat positif dalam 'memperkenalkan sastra' kepada anak.

Tetapi, kita belum mempunyai 'tradisi yang kuat' untuk memperkenalkan anak-anak aneka sastra tulis yang dikemas sesuai dengan level perkembangan kognitif dan moral anak. Buku-buku sastra anak dalam pelbagai genre, masih relatif terbatas. Pengajaran apresiasi sastra untuk anak-anak di tingkat Sekolah Dasar pun, belum terlalu menggembirakan.

Padahal, kita tahu bahwa sastra tidak hanya menawarkan 'keindahan dan kehalusan rasa berbahasa', tetapi juga mengandung nilai-nilai moral yang sangat berguna dalam proses formasi identitas kepribadian seorang anak.

Sudah jamak disadari bahwa usia anak-anak merupakan fase perkembangan yang sangat labil. Pada usia tersebut, anak-anak sangat mudah menerima berbagai hal, baik positif maupun negatif. Apa yang mereka terima pada usia anak-anak, akan sangat menentukan perkembangan intelektual maupun moral mereka pada saat dewasa nanti. 

Saya kira, deskripsi singkat ini, menjadi entry point bagi kita untuk menelaah korelasi antara sastra dan perkembangan kepribadian seorang anak. Selain itu, wacana semacam ini seharusnya 'memotivasi kita' untuk memberikan atensi yang serius pada upaya membiasakan anak bergaul dengan sastra.

Bagaimanapun juga, tetap disadari bahwa seandainya anak-anak lebih banyak diajarkan atau dibiasakan untuk membantu orang lain, gemar membaca, sopan, santun, dan berbagai prilaku positif lainnya, maka stelah mereka besar hal-hal baik itu yang akan terus mereka lakukan karena telah dibiasakan sejak dini.

Demikian pula sebaliknya, jika anak-anak diajarkan atau dibiasakan dengan hal-hal negatif seperti berbohong maupun berkata kasar, maka bukan hal yang tidak mungkin niscaya dia akan meneruskan kebiasaan buruk tersebut hingga dia dewasa. Alangkah bagusnya jika pada masa-masa pencarian maupun produktivitas tersebut, anak-anak disuguhkan dengan berbagai bacaan yang dapat memperkaya intelektual dan moralnya. 

Salah satu alternatif bacaan yang penting diberikan kepada anak-anak dalam rangka memperkaya intelektual serta membentuk karakter dan budi pekerti anak adalah bacaan-bacaan karya sastra, lebih khususnya lagi adalah sastra anak.

Anak-anak yang telah terbiasa bergelut dengan sastra sejak usia dini akan menjadi lebih baik karena sastra diciptakan tidak semata-semata untuk menghibur, namun lebih dari itu, sastra hadir untuk memberikan pencerahan moral bagi manusia sehingga terbentuk manusia-manusia yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur. 

Karya sastra anak menjadi sangat penting dibiasakan kepada anak-anak sejak dini karena di dalamnya tersaji berbagai realitas kehidupan dunia anak dalam wujud bahasa yang indah. Sastra anak dapat menyajikan dua kebutuhan utama anak-anak yaitu hiburan dan pendidikan. Anak-anak dapat merasakan hiburan lewat cerita maupun untaian kata dalam puisi anak melalui belajar sastra. Selain itu, dengan belajar sastra, anak-anak secara tidak langsung dididik untuk meneladani berbagai nasihat, ajaran, maupun moral yang disampaikan dalam karya sastra anak.

Menurut Tarigan (2011:6-8) ada enam manfaat sastra bagi anak-anak. Pertama, sastra memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan kepada anak-anak.

Kedua, sastra dapat mengembangkan imajinasi anak-anak dan membantu mereka mempertimbangkan dan memikirkan alam, insan, pengalaman, atau gagasan dengan berbagai cara.

Ketiga, sastra dapat memberikan pengalaman-pengalaman aneh yang seolah-olah dialami sendiri oleh para anak. Keempat, sastra dapat mengembangkan wawasan para anak menjadi perilaku insani.
Kelima, sastra dapat menyajikan serta memperkenalkan kesemestaan pengalaman kepada para anak.

Keenam, sastra merupakan sumber utama bagi penerusan warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari penjelasan ringkas ini, kita mendapatkan pemahaman yang utuh soal dampak positif aktivitas bersastra kepada anak. Namun, problemnya adalah siapa yang bertanggung jawab untuk menerbitkan karya sastra yang selaras dengan perkembangan anak di NTT ini.

Politik pengajaran 'Bahasa Indonesia' di level Sekolah Dasar, tak terlalu ideal untuk mengembangkan kreativitas sastra anak tersebut. Sastra anak menjadi 'agenda marjinal' dalam praksis pembelajaran Bahasa.

Sementara itu, kita belum melihat sebuah terobosan serius dari Pemerintah Daerah untuk memperhatikan perkembangan 'karya sastra untuk anak-anak ini'. Para sastrawan NTT, sejauh yang saya ikuti, belum menjadikan 'satra anak' sebagai salah satu tema yang digarap secara serius.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update