-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sastraku Malang

Sabtu, 13 Juni 2020 | 10:57 WIB Last Updated 2020-06-13T03:57:59Z
Sastraku Malang
Sastraku Malang (Jeremy Nd)

Di Indonesia, seperti di negeri-negeri lain, Fakultas Sastra itu terdapat hampir di setiap universitas besarnya. Bahkan bisa dikatakan, secara melebih-lebihkan, bahwa Sarjana Sastra lebih banyak jumlahnya dibanding Sarjana lainnya. 

Maksud saya adalah Sastra itu adalah sebuah Ilmu Pengetahuan sama seperti Kedokteran, Ekonomi, Hukum atau Linguistik. Makanya dipelajari secara sistematis di tempat yang disebut Fakultas Sastra. Makanya mereka yang sudah tamat mempelajarinya secara sistematis begini disebut Sarjana Sastra. Bahkan tingkat kesarjanaan ilmu pengetahuan ini mencapai level Doktor, sama sepert ilmu pengetahuan lainnya itu. 

Dalam kata lain, sudah disadarikah di negeri ini bahwa Sastra itu adalah sebuah ilmu pengetahuan yang untuk memahaminya diperlukan sebuah studi yang sistematis dan lama atas sejarahnya, teorinya dan tentu saja jenis-jenis karya yang disebut Karya Sastra?

Di Sinilah Persoalan Besar Terjadi. 

Walaupun ada Fakultas Sastra dan banyak Sarjana Sastra bertebaran di negeri ini tapi Sastra masih belum dianggap sebagai sebuah Ilmu Pengetahuan seperti Kedokteran, Ekonomi, Hukum dan lainnya oleh masyarakat umum Indonesia! Bahkan tragisnya oleh mereka yang menganggap dirinya Sastrawan! Setiap orang apalagi yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi walau non-Sastra akan merasa dirinya mampu bicara tentang sastra, mengerti apa itu sastra! 

Maka parahlah kondisi pembicaraan tentang Sastra di negeri yang tak menghormati Sastrawan ini! Anarkisme pendapat/interpretasi dianggap bukti demokrasi! Sesuatu yang tidak terjadi di barat sana. 

Yang bukan orang sastra tidak merasa ada yang aneh kalau dia ikut membicarakan Sastra walau ala kadarnya. Pembicaraan dan penafsiran yang terjadi pada umumnya sangat tergantung pada kata hati belaka, karena memang begitulah Sastra itu dianggap mereka. Sesuatu yang cuma berkaitan dengan hati, perasaan, bukan Ilmu Pengetahuan/Sains tadi. Ketidaktahuan mereka atas Sejarah dan Teori Sastra secara umum tidak dianggap faktor penting yang harus mereka pertimbangkan dalam membicarakan Sastra.

Dan kita masih belum lagi membicarakan Sastra sebagai sebuah Seni, sama seperti seni-seni lain kayak Teater, Seni Rupa, Musik, Film, Fotografi, Tari dan lain-lain.

Seperti seni-seni lain, seni Sastra juga memiliki hukum-hukum, peraturan-peraturan, pakemnya tersendiri, khas yang menjadi hakekat Sastra. Ketidakpahaman atas Hukum-hukum Sastra inilah yang selalu membuat setiap penulis yang sangat berambisius tentunya, terheran-heran kok tulisannya gak dianggap tulisan Sastra. Dengan seenaknya aja segelintir penulis fiksi pop/novel pop mengklaim fiksi/novelnya sebagai Sastra cuma karena tulisannya itu memiliki hal-hal yang mirip karya Sastra, seperti plot dan tokoh. Bagi mereka, cuma begitulah Sastra itu.

Jeremy Nd
×
Berita Terbaru Update