-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Saya Katolik Mencintai Toleransi dengan Menjunjung Tinggi Iman Saya

Sabtu, 06 Juni 2020 | 12:14 WIB Last Updated 2020-06-06T05:16:07Z
Saya Katolik Mencintai Toleransi dengan Menjunjung Tinggi Iman Saya
Saya Katolik Mencintai Toleransi dengan Menjunjung Tinggi Iman Saya - Pater Tuan Kopong dan sahabatnya

Tahun 2010 saya mengambil cuti ke rumah saya di desa Keluwain-Adonara Timur saat masih bertugas di Samarinda. Seperti biasanya, setiap kali cuti dan hendak kembali ke tempat tugas selalu memasang lilin di kuburan om dan tantenya mama yang adalah Islam, termasuk dikubur nenek (mamanya mama) yang adalah Islam.

Setiap hari entah pagi maupun sore saya selalu mengunjungi om saya yang adalah seorang Islam untuk ngopi bersama atau sekedar cerita ala kadarnya. Pada satu kesempatan sore hari, saya lupa harinya di saat sedang ngopi bersama om, tiba-tiba om berkata kepada saya; 

“Ama Tuan (Pastor) nanti kalau libur lagi kita atur waktu supaya kamu buat misa di sini di rumah ini untuk mendoakan kakek dan nenekmu”. 
Mendengar itu saya langsung kaget dan bertanya kembali;
“Om serius”? Iya, jawabnya. 

Namun saya kemudian mengatakan; 
“Om, khan ada ponakan om (sepupu saya) yang juga lulusan pondok pesantren di Samarinda. Biar dia saja yang mendoakan kakek dan nenek. Saya juga akan mendoakan kakek dan nenek dalam doa-doa dan misa-misa saya.

Saya menolak karena saya memiliki dua alasan;
Pertama; bahwa saya Katolik dan om saya Islam yang dari segi keyakinan secara prinsip berbeda. Maka dengan menolak saya mau menghargai iman dan keyakinan agama om saya. Bahwa paham keselamatan yang diyakini oleh saya dan juga om saya secara prinsip berbeda. 
Bahwa kemudian ada yang mengungkapkan toh semuanya juga menuju kepada Tuhan dan doa semuanya itu baik. Betul tetapi ekspresi iman dan isi iman jelas berbeda. Lantas apakah dengan menolak, saya tidak toleran? 

Saya justru melihatnya sebagai sikap toleransi. Bahwa saya menghargai keyakinan dan iman agama om saya dan juga tidak mengaburkan isi iman agama yang saya anut termasuk juga om saya.
Kedua; toleransi berarti menghargai perbedaan. Itu menjadi keyakinan yang selama ini saya pegang. Bahwa dengan “menolak” saya justru menunjukan iman saya sebagai seorang Katolik yang menghargai perbedaan iman keluarga om saya dan dengan itu bahwa memberikan kesempatan kepada om saya agar menghidupi iman agama yang dianut oleh om saya yang menghasilkan buah kekeluargaan di antara kami karena perbedaan dan bukan karena kompromi atas nama kekeluargaan.
Akhir-akhir ini muncul gerakan dalam Gereja Katolik yang mengatasnamakan toleransi lantas maaf “merendahkan” iman sendiri dengan dalih “menghargai” agama lain.

Yang penting toleransi meski apa yang dinyanyikan ataupun dilakukan di dalam gereja tidak ada hubungan dengan iman kekatolikan. Bahkan ada kelompok yang menamakan diri kelompok Katolik namun justru mengaburkan iman Katolik, foto Yesus diedit sedemikian rupa dengan menggunakan kopiah yang tidak memiliki hubungan iman dalam Gereja Katolik, maupun iman agama lain. Mau menunjukan toleransi sebagai orang Katolik, tetapi membuat orang lain mentertawai sosok yang diimani. 

“Apakah tidak marah ketika foto orang tua diedit dengan menggunakan atribut agama lain atas nama toleransi”.
TOLERANSI ADALAH PERWUJUDAN IMAN, MAKA BERTOLERANSI ADALAH MEMPERTANGGUNGJAWABKAN IMAN DENGAN TETAP MENGHARGAI PERBEDAAN DAN BUKANNYA JATUH PADA KOMPROMI YANG MERENDAHKAN MARTABAT IMAN ITU SENDIRI.

Toleransi sebagai perwujudan iman maka kesaksian iman yang diberikan meskipun berbeda bahkan bisa jadi ditolak tapi itulah Iman. Maka seperti kata Paus Fransiskus;
“Kebebasan beragama ada batasnya. Agama bukanlah subjek bisa dijadikan sebagai bahan lelucon” (BeritaSatu: Paus Fransiskus: Agama Bukan Bahan Lelucon, Kamis, 15 Januari 2015).

Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenartan dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya (Nostra Aetate, No.2 §.2).

Manila: 05-Juni-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update