-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sebuah Kisah : Pondik dan Diplomasinya

Selasa, 09 Juni 2020 | 10:35 WIB Last Updated 2020-06-09T03:35:18Z
Sebuah Kisah : Pondik dan Diplomasinya
Sebuah Kisah : Pondik dan Diplomasinya

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF

Pondik adalah orang yang cerdik dan agitator.  Dia terlihat visioner, tetapi gegabah. Cara dia membangun narasi terkesan dia orang hebat dan bisa dikatakan sebagai seorang mesias.  
Ya rakyat yang bercita-cita kaya, memang kadang mengharapkan pada siapa saja,  termasuk pada narasi-narasi yang menghibur.  Mereka bisa percaya pada racun yang nikmat seperti diceritakan oleh pondik di agora. 

Suatu kali pondik bertemu khalayak di Agora. Ia cukup percaya diri.  Ia ingin membangun daerahnya yang tumbuh banyak batu daripada rumput. Cita-citanya mengubah batu menjadi roti.  Tetapi ia tidak memikirkan bahwa ada racun dibalik narasinya. 

"Saudara-saudara,  saya tahu apa yang anda harapkan.  Saya ini pemimpin kalian,  saya tidak ingin menjual tanah leluhur ini,  sejengkalpun, tidak!  Tetapi pikirkan baik-baik, saudara-saudaraku.  Di tempat ini nanti dan batu-batu ini akan menjadi uang.  Uang itu akan mengubah hidupmu. Kamu akan seperti orang-orang di kota,  kamu akan maju,  wah kamu akan kaya, jika kita setuju membangun rumah pengubah batu-batu ini", katanya  dengan suara serak. 

Masyarakat tahu,  batu-batu itu pasti ketakutan.  Terutama jika ada nenek moyang tinggal disana. Sebab tanah bukan tentang milikmu saat ini,   tetapi ada sejarahnya.  Tanah-tanah itu memiliki riwayat masing-masing.  Riwayat leluhurmu juga. 

"Apakah kita akan menikmati kemajuan itu?  Tanya orang-orang disitu. 
Situasi menjadi gaduh.  Semua orang yang kemarin mencangkul kebun,  menanam kopi,  memelihara babi,  mendadak menceritakan pidato dan agitasi si Pondik.  Ada yang matanya belalak,  ada yang menanggapi dengan tertegun. Hidup akan berubah atau mati di lubanh 
Lalu kemana kita akan pergi?  Kemana semua riwayat tanah dan keturunan kita akan pergi?  Apakah kita kuburkan semuanya sehingga sejarah-sejarah itu dan roh-roh nenek moyang berubah menjadi kemajuan. 

Cerita Pondik digemakan oleh rekan-rekannya.  Mereka mulai menyendir satu yang lain.  Dengar itu,  kita akan maju,  kita akan kaya,  kita tidak akan banting tulang lagi tetapi kita akan banting uang.  Siapa yang tidak mau menikmati kemanjaan,  barangkali sehari daripada lutut dan tulang-tulang tubuh melepuh bersama skop dan tofa?  

Publikpun mulai ribut.  Mulai galau.  Racun telah diberikan. Semua orang terbangun dan berkisah tentang hidup disebuah kerajaan dengan dindingnya dari emas dan terang sepanjang malam,  tidak seperti hidup kemarin, tidur dibawah pelita, tanpa mimpi. 
Oh Pondik!  Dia lalu mencuci tangannya.  Suatu saat nanti kalau terjadi hal yang tidak baik,  Pondik akan berkata,  ingat bukan aku yang menjual tanahmu,  tapi kalian sendiri,  jadi jangan salahkan aku?" katanya.  

Pondik bermimpi dan mimpi pondik sebenarnya juga mimpi orang-orang di sekitarnya.  Ia tahu akan mimpi mereka.  Apalagi ia tahu,  banyak babi masyarakat yang belum beranak dan kopi kadang tak mengeluarkan putik-putiknya.  
Tetapi ia tidak menceritakan bahwa batu kapur itu seperti spons yang menyimpan air cadangan. Kalau batu-batu itu diambil,  makin keringlah. 

Pondik juga tidak ceritakan dengan jujur plus dan minusnya.  Padahal ia tahu di kampung itu ada tradisi kerjasama yang kuat sekali.  Ada istilah bagi hasil,  bukan monopoli. Jika kamu punya alat,  kami punya tanah dan isinya, maka kita harus bagi tiga, dua bagian untuk kampung itu, satu bagian untuk yang punya alat,  kalau seandainya narasi pondik dipercayai. 

Sebenarnya pondik,  untuk membangun kampungnya ia tinggal meningkatkan skill warga kampung itu.  Pondik tahu dan banyak orang tahu,  banyak yang keluar dari kampung itu dan merantau,  tetapi kebanyakan yang tidak punya skill tetapi punya otot robot. 

Pondik mesti tahu juga bahwa kemajuan itu bukan satu faktor saja yaitu uang yang banyak.  Kemajuan itu manusianya.  Mulai dari keluarga,  mentalitas dan pendidikannya. Jika skill orang-orang kampung itu ditingkatkan maka akan maju karena yang menciptakan kemajuan dan pembangunan itu manusianya. Contihnya Pondik,  saudara dari negeri Cina,  yang ada di Indonesia,  mereka tak menyerahkan tanah dan karena tidak memiliki tanah yang luas tetapi mereka sangat maju.  Maju itu ternyata orangnya terlebih dahulu.  Kaderkan dulu generasi yang baik,  biar mereka nanti yang mengolah batu menjadi roti itu, untuk mereka sendiri. 

Pondik selaku pakai cara lama,  cara kapitalis,  dengan menjadikan penduduknya sebagai obyek. Cara oligarki yang ujung-ujungnya mencengkram penduduk itu sendiri.  Pondik menyimpulkan dengan gegabah bahwa kemajuan itu dari uang dan tambang.  Padahal yang membuat uang dan tambang itu adalah manusianya.  Manusianya harus maju dulu supaya bisa tahu kelola keuangan,  tahu memikirkan yang terbaik dan antisipasi masa depan.  Masyarakat diajak menabung,  yang cerdas disekolahkan! 

Walaupun banyak uang tetapi kurang pandai mengurusnya,  sama saja.  Selain itu perlu juga kritis dengan budaya konsumeristis.  Sebab warga Pondik paling bahagia,  suka pesta dan sosialnya tinggi. Mereka perlu tahap dalam membangun.  Apalagi sebagai kampung baru. Pikirkan baik-baik! 
Yah kisah tentang pondik memang melegenda di daerah kami.   Ia seorang yang cerdik dan pandai mengelabuhi.  Ia lucu tetapi gegabah. Ia tidak tahu betapa kecil kampungnya. Luas kampung itu 2,600 Km2 dan jumlah penduduknya 289.000. Kalau dibagikan maka dalam 1 km2 didiami 111 orang.  Artinya setiap orang memiliki lahan 9 meter. 

Coba bayangkan pondik,  jika 1 org hanya punya 9 meter maka pondik harus melarang orang untuk tidak kawin dan melahirkan. 
Mari minum kopi!  Atau kopi juga sudah dibabat?
×
Berita Terbaru Update