-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sekilas Tentang Sejarah Kampung Lamba

Rabu, 03 Juni 2020 | 16:10 WIB Last Updated 2020-06-03T09:15:25Z
Sekilas Tentang Sejarah Kampung Lamba
Sekilas Tentang Sejarah Kampung Lamba

Sebuah permenungan bagi generasi muda Lamba, Wogel dan Ntene. Kampung " LAMBA " antara  teralinasi atau terkikis tempo postmoderen. 

Saya coba menganalisa keadaan masyarakat kampung Lamba dari terminologi kata Lamba. Ada sejarah mengatakan kata " Lamba " berasal dari sebuah sungai kecil di "palang" di sebuah tanah rata dekat penguburan di kampung Lamba sekarang. Karena sungai itu " palang "  tanah rata itu, bisa dikatakan kampung palang. 

Menurut arti kata "palang" bernuasa agak keras atau memiliki nuasa negatif, maka kata palang itu diperhaluskan dengan kata Lamba. Kata palang dan lamba memiliki makna yang sama yakni "tutup". Kalau kita mengaitkan analisis ini dalam konteks ilmu pengetahuan moderen, kata Lamba meiliki arti yang sangat luas. Orang mengatakan kata Lamba atau palang bisa diinterperstasikan dalam kazanah filosofis khususnya kita sebagai orang Lamba. 

Saya coba mengalokasikan pemikiran ini dengan beberapa topik yakni, sejarah masa lalu kampung Lamba dan eksistensinya, kampung Lamba dengan kekayaan budaya dan kampung Lamba yang akan datang (bagi ase kaen yang ada dokumen lengkap dengan sejarah kampung Lamba, artikel ini bisa dilengkapi, saya hanya coba mengangkat topik ini sebagai wacana diskusi kita.)

Sejarah Zaman Dulu Kampung Lamba

Menurut data non formal yang saya miliki, bahwa kita orang Lamba berasal dari keturunan Modo dan keturunan Wae Rebo. Petunjuk jalan bagi nenek moyang kita pada saat itu yakni animal Niki (kelelawar). Nikilah yang membawa mereka sampai ketempat palang atau Lamba. Tidak salah kita sebagai orang Lamba tidak makan daging Niki. Kalau makan daging niki, kita bisa mengalami kesakitan. Sejarah seperti ini terjadi juga di tempat lain.  

Ada sebuah keturunan di kota Viqueque Timor Leste, tidak boleh makan daging tuna (belut) karena nenek moyang diselamatkan oleh tuna. Di rumah adat mereka ada seekor tuna besar yang disimpan dalam ember besar dan mereka sembah kalau hari-hari adat dirayakan. Ada juga masyarakat tidak boleh makan daging kerbau karena mereka berasal dari keturunan kerbau. 

Dalam konteks sebagai orang Lamba, kita tidak boleh makan daging niki karena nikilah yang membawa nenek moyang kita sampai di kampung palang atau Lamba sekarang. 

Nenek moyang yang dibawa Kelelawar ke kampung Lamba tersebut, memiliki hubungan khusus dengan kraeng dalu Todo. Dalam zaman Kerajaan Todo tersohor, hubungan antara Kraeng Dalu dengan keluarga besar Lamba sangat baik. Pihak Kraeng Dalu melihat kita sebagai orang Lamba (pada waktu itu) cukup disegani apalagi kraeng Dalu pernah bersembunyi di kampung Lamba karena dikejar oleh tentara pemerintahan Belanda. Apalagi ada hubungan keluarga Woe agu Ine ame (hubungan kekeluargaan karena perkawinan). Hubungan ini masih ada bekas sampai sekarang, lewat perkawinan kae (saudara lebih tua) Nde Hes dengan kae Pit dari Narang. Compang dikampung Lamba sebagai tempat " Ngelong kraeng Dalu " kraeng Raja pada waktu itu. 

Kampung Lamba tempat persembunyi para tokoh-tokoh yang melawan pemerintahan Belanda. Sebuah pertanyaan kritis bisa muncul di sini. Apa alasan mereka bahwa Lamba sebagai tempat persembunyian bagi kraeng dalu? Alasannya yakni; a. Hubungan darah sebagai ine ame sangat kuat. b. kampung Lamba sangat jauh dari laut atau jauh dari jalan umum. Pada waktu itu jalan utama adalah jalan-jalan yang dekat dengan pantai. Transportasi yang digunakan kaum pejajah yakni perahu atau kapal. Sehingga tidak salah kraeng dalu sembunyi dikampung Lamba.  Lanjut nanti.

Oleh: Romo Benediktus Randung, Pr
×
Berita Terbaru Update