-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Senja Kala Buronan Gelap (Cerpen Petrus Nandi)

Sabtu, 06 Juni 2020 | 15:23 WIB Last Updated 2020-06-06T08:23:26Z
Senja Kala Buronan Gelap  (Cerpen Petrus Nandi)
Senja Kala Buronan Gelap  (Cerpen Petrus Nandi) - Ilustrasi: google

Oleh: Petrus Nandi*

Tayum senja telah meninggalkan jejaknya di balik bukit yang berdiri tegak di sisi kiri kota itu. Malam kian rakus melahap serpihan-serpihan kisah yang terbungkus dalam mimpi warga kota. Sedangkan Roy dan Rani, pasangan suami-istri yang menghuni sebuah gubuk tua di penghujung kota masih terus berjaga. Mereka bekerja sebagai pengemis jalanan yang selalu mengitari kota. Setiap hari. Hanya mengemislah pekerjaan yang tersedia bagi mereka, sebab pekerjaan lain yang lebih mulia membutuhkan banyak persyaratan termasuk dokumen kependudukan, yang sama sekali tak ada dalam tangan mereka. Selama lima tahun tinggal di negeri itu, mereka menyandang status warga negara asing ilegal yang menurut peraturan negara harus dideportasi dari kota itu. Hal inilah yang melatarbelakangi aksi serang-silih antara mereka dan petugas keamanan kota selama ini.

Dua minggu yang lalu, mereka nyaris tertangkap di kota tempat tinggal sebelumnya. Kejadian itu merupakan kali ketujuhnya mereka mengalami pengejaran. Beruntung, mereka dapat melarikan diri, menghilang dari hadapan para petugas itu, dan kini menghuni gubuk reot itu. Petugas keamanan negeri itu sedang dihadapkan pada tuntutan pemerintah untuk mengamankan warga asing yang tidak berdokumen lengkap, termasuk Roy dan Rani. Mereka geram, Roy dan Rani terancam. Wajah Roy dan Rani sudah terekam dalam memori petugas keamanan dan siap untuk dikejar setiap saat. 

Malam melangkah kian  dalam menjamu mereka dalam sensasi yang mengerikan. Bising kota tak lagi memperdengarkan suaranya, tak ada bunyi-bunyian, dan jangkrik enggan bersuara. Yang tersisa hanyalah keheningan. Mereka duduk mematung sembari saling menatap wajah yang sama-sama mengimpikan kehidupan nyaman. Senyap mendekam, sepi mencekik. Roy menggenggam erat tangan Rani dan memeluknya. Dia tahu, hanya inilah satu-satunya cara yang bisa membuat Rani mengalami dan menemukan ketenangan di tengah carut-marut persoalan yang dihadapi. Rani mengerti. Malam pun setuju, meski sedikit malu menyaksikan sendirian kehangatan itu. Ah malam, tidak maukah engkau mengajak sunyimu tuk berhenti berlagak, biar jangkrik menepis sepi dengan bernyanyi tuk mengiringi keharmonisan itu? 

“Kita sudah cukup lama mendiami negeri neraka ini, pak. Sudah ratusan orang dari negeri kita yang matinya seperti binatang. Tidak ada sanak saudara yang mengurus, sebab tiap orang memikirkan keselamatan diri masing-masing. Keluarga mereka juga tidak mendapatkan kabar kematian  mereka. Aku takut kita juga nanti mengalami nasib yang sama. Aku takut pak…“. Rani membuka dialog dengan keluhannya. Roy memimpal, ”Ia bu, tapi masalahnya, kita belum mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai perjalanan pulang ke tanah air. Sudahlah, ibu tenang saja. Aku masih ada di sini, tidak akan pernah membiarkanmu sendirian memikul kesulitan ini.” 

Malam kian larut dalam jalinan waktu yang terus mengalir tanpa henti. Waktu tepat pukul 1 Am. Mata mereka tak sedikitpun menunjukkan rasa kantuk. Dua jiwa yang malang terus berjalan dalam malam suntuk mencari kehidupan yang nyaman. Memang sedikit sulit bagi setiap orang untuk menaruh asa pada gelap malam, sebab gelap bukanlah terang yang dapat melapangkan harapan itu. Dan bila angan itu muncul dalam gelap malam, itu hanyalah ilusi yang dibawa angin dari ruang mimpi, yang ‘mustahil’ untuk jadi kenyataan. Meski hal itu cukup disadari, mereka tetap berharap akan ada sesuatu yang lebih indah dari yang mereka alami kini. 

                                                                                 ***
Roy menyimpan sebuah perkara besar. Dari tatapan matanya yang kaku, ia terlihat takut akan kehilangan Rani dan kisah kasih yang selama ini mengiringi hidupnya, seakan waktu akan segera memangkas kebersamaan itu. Tekadnya sudah sedikit bulat untuk menyampaikan perkara itu kepada Rani. “Bu, tadi ketika pergi membeli makanan di warung, aku melihat wajah kita terpajang di sebuah poster besar di dekat warung itu... Akh!” Suara Roy terhenti, ia sedikit menyesali keberaniannya menyingkapkan perkara yang tidak sesuai dengan psikologi Rani yang selalu takut itu. Air matanya berlinang. Sesuatu yang jarang terjadi pada diri Roy yang tangguh dan tegar itu. Rani enggan melepas genangan air matanya. Kali ini Rani lebih kuat. Iapun meminta suaminya itu melanjutkan ceritanya. Roy setuju, dan kini ia sadar bahwa menangis tidak cukup untuk keluar dari persoalan; dan mengambil langkah untuk berdiam diri dalam kesesakan bukanlah pilihan yang bijak.

“Kita adalah buronan para penguasa negeri ini. Hanya aku dan kau, dua wajah imigran gelap yang telah diberi label ‘buronan lincah dan kuat’. Kita terlanjur telah mempermalukan petugas keamanan kota yang gagal menangkap kita dalam peristiwa pengejaran minggu lalu. Dan kita, dua wajah lugu dan lusuh ini mesti ditangkap sesegera mungkin.Tidak ada pilihan lain, kita harus pergi dari sini. Aku punya firasat buruk tentang nasib kita sesudah malam ini berlalu.” Roy kembali tegar, seakan nasib buruk membisik nuraninya untuk membawa Rani keluar dari kota itu. Kedua insan malang pun berkompromi untuk meninggalkan gubuk. Malam tak terlampau jauh berlangkah. Matahari masih bermalasan di  ufuk timur sembari menyaksikan penduduk kota bermain-main di alam mimpi. Masih ada kurang lebih empat jam waktu yang tersisa untuk menampung tenaga. 

Namun, nasib malang kini mendekat. Tak sedikitpun disadari, rencana mereka ternyata telah diketahui para petugas keamanan kota yang sedari tadi bersembunyi di balik dinding gubuk. Roy dan Rani telah tertidur sedang para petugas itu masih setia menanti pergerakan awal dua buronan yang akan melarikan diri itu. Rasa geram yang selama ini tertimbun dalam hati para petugas itu sebentar lagi meluap. Empat jam lagi, aksi lincah pasangan imigran gelap ini terhentikan. Jeruji besi telah disiapkan khusus bagi mereka di bui. Sebuah keputusan yang memang tidak manusiawi, tetapi mesti diutarakan secepatnya kepada Roy dan Rany demi keamanan negara. Empat jam lagi. 

Empat jam berlalu terlampau cepat dan waktu kini menunjukkan pukul 5 pagi. “Bangun sayang, kita harus berangkat sekarang“. Rani membangunkan Roy yang masih tertidur. Roy mengamininya. Semua perlengkapan yang telah disiapkan pun dibawa serta. Roy dan Rani mengambil langkah untuk meninggalkan semua mimpi buruk di gubuk itu dan mencari harapan baru untuk hidup aman di tempat lain. Langkah pertama, langkah kedua, langkah ketiga.... “Berhenti!“, sebuah suara bernada keras muncul dari balik dinding gubuk. Roy menoleh dan dilihatnya lima buah pistol dari lima orang petugas itu membidik mereka berdua. Roy bergeming. Disuruhnya Rani berlari sekilat mungkin. Rani pun mengikutinya. Dan, dalam tiga langkah pertama, “prakk….. “ sebuah peluru mendarat persis di punggung Rani. Nyawanya yang malang ternyata tidak lebih daripada segumpal amarah yang disatukan dalam sebiji peluru yang meluncur, menembus, dan melumpuhkan kujurnya, menghentikan laju hidupnya. Rani mati tertembak. Roy terhenyak, tanpa suara, sedang kedua tangannya terangkat. Sebuah isyarat kekalahan sekaligus ketaksanggupannya menyaksikan sang istri tergeletak di lantai. Firasat buruknya beberapa jam lalu kini terjadi. Tiada tangisan, seakan tak ada kenyataan buruk yang merenggut kebahagiaannya. Ataukah ia sedang menyangka bahwa Rani lagi bersandiwara dengan main tidur-tiduran di lantai, entahlah. Yang pasti ia sedang hilang akal. Bukan pingsan. Raionalitasnya sedang dicuri oleh sebuah peluru yang tidak pernah diimpikannya untuk mendarat di suatu tubuh yang lebih berharga dari emas permata baginya. 

Lima puluh menit kemudian ia sadarkan diri. Namun ia kini menderita. Ingatan akan kejadian lima puluh menit yang lalu telah dikembalikan oleh cerita singkat dari petugas rutan yang berdiri di luar jeruji besi. Ia mengingat semuanya. Air mata mengairi pipinya yang kering dibalut debu tatkala nyawa malang Rani mengorek luka dalam hatinya. Ia tahu, Rani telah tiada. Namun, Roy adalah lelaki yang sangat kuat juga dewasa dalam menanggapi kenyataan. Dia menyesal tetapi tidak mengutuki dua nasib malangnya, yaitu kematian Rani dan hukuman penjara yang diterimanya. Ia hanya bisa berdoa memohon bantuan Tuhan dalam menghadapi dua kenyataan pahit itu. Alhasil, dalam lautan kesedihan itu, ada satu kabar yang cukup menghibur hatinya, bahwa jenazah Rani telah dipulangkan ke tanah airnya. Ia gembira meski sedang berduka.

                                                                                   ***
Semuanya bermula dari sini. Lima tahun lalu, ketika negerinya tidak dapat menghidupi dirinya dan keluarga, ketika tanah yang digarap tidak memberikan hasil yang maksimal, Roy memutuskan untuk mencari lahan yang lebih subur di negeri yang satu ini, negeri yang dalam kacamata orang di kampungnya menampung susu dan madu berlimpah. Rezeki. Kemewahan. Bayangan akan nasib sial seperti sekarang ini tak sedikitpun terlintas dalam pikirannya kala itu. Bencana kelaparan yang mengusik keluarga telah melapangkan langkahnya ke negeri itu. Persyaratan migrasi dan dokumen identitas tidak terpenuhi. Pemerintah tidak punya banyak waktu, terlalu sibuk untuk mengurus surat transmigrasi bagi rakyat kecil yang hendak mencari hidup baik di negeri orang. Rani tak ditinggalkan. Roy dan Rani menempuh jalur ilegal. Sebuah kesalahan yang fatal. Dan akibatnya kini terbayar tuntas. Kesialan menimpa, kemalangan tak ketinggalan cara memenjarakannya dalam kesengsaraan. Nyawa Rani sekaligus menjadi taruhan Roy untuk menebus kesalahannya dan klimaks dari kisah kelamnya. Kematian Rani telah membawa luka yang membalut rasa bersalah itu dan kini tinggallah ia seorang diri mengakui kesalahan yang sama. Semuanya serba sial. Kemiskinan yang melilit masa lalunya, tindakannya menyalahi aturan pindah domisili ke luar negeri, nasibnya bersama Rani yang selalu dikejar petugas keamanan, dan akibat dari semuanya itu yakni kematian Rani, semuanya serba sial. Ya ampun, betapa malangnya takdir itu. Namun, Roy terlalu kuat untuk menjalaninya dan takdir itu tidak lebih daripada cita-citanya kini. Kembali pulang dengan selamat, meski tanpa sosok Rani yang dapat mendampinginya. Inilah akhir kisah buronan gelap.

Puncak Scalabrini, Agustus 2017

Petrus Nandi lahir di Pantar – Manggarai Timur – Flores pada 30 Juli 1997. Tiga cerpennya dengan judul “Kembalikan Tanah Kami”, “Beranda Rumah dan Senja yang Bisu” dan “Kenangan di Pondok Teduh Kakek Tadeus” tergabung dalam antologi cerpen Komunitas Rumah Sastra Kita yang berjudul “Narasi Rindu”. Ia bergiat di Komunitas Sastra Djarum Scalabrini dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Saat ini tengah menyelesaikan studi filsafat pada STFK Ledalero, Maumere, NTT. Ia dapat dihubungi melalui WA: 081237080773 atau email petrusnandi18@gmail.com.

×
Berita Terbaru Update