-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sia-Sia, Dongeng Pagi, Pagi Ini, (Antologi Puisi Petrus Nandi)

Rabu, 10 Juni 2020 | 15:49 WIB Last Updated 2020-06-10T08:49:53Z
Sia-Sia, Dongeng Pagi, Pagi Ini, (Antologi Puisi Petrus Nandi)
Sia-Sia, Dongeng Pagi, Pagi Ini, (Antologi Puisi Petrus Nandi)

Sia-Sia 1

Di tangan kita ada sesuatu yang digenggam:
Ampas yang dikirim Tuhan lewat langit,
Matahari, hujan dan angin
Yang telah kita babtis atas nama kita sendiri
Meskipun esok hilang 
Atau pergi ke tangan-tangan yang lain.

Sungguh, takdir kita sekadar buat menghayati 
Rupa-rupa semu.
Esok, kita bakal mengenang segala kesombongan ini
Esoknya lagi, kita pandang segala hina
Saat mati kelak, kita hanya akan meninggalkan 
Kefanaan yang kita ciptakan sendiri.

Sia-Sia 2

Apakah yang dapat kaumaknai tentang hidupmu kini
Bila waktu tak lain dari detik yang berkelebat
Tanpa melambaikan tangan, menuju masa lalu

Hari-harimu tiada berhenti
Mengejar bayang-bayang rindu yang tak pernah tuntas
Sedang ia tiada henti pula menertawaimu setiap saat

Sungguh, kau telah mencurahkan derai keringatmu 
Sungguh, kau telah berdarah-darah 
Untuk sebuah kesia-siaan.

Dongeng Pagi

Ada yang selalu menyapaku pada setiap permulaan pagi.
Dihamburkannya berkas-berkas cahaya lewat jendela
Dan mengecup kelopak mata yang masih terkatub
:Jadilah ia pandangan pertamaku hari itu.

Pagi memang selalu setia merawat kiatnya
Dikirimnya nyanyian tua dengan bunyi syair
Yang tak pernah berubah
Dan meletakkannya pada mulut ‘si jago’
Yang penuh bangga melantunkannya, 
Sesaat setelah ia terbangun.

Dan jika saja aku tegar memeluk mimpi, 
Tentu saja ada cara lain yang hadir tanpa kuduga:
Dipaksaksakannya isi pikiranku pergi ke sebuah dunia lain,
Menembusi dinding kamar 
Dan mulai membayangi deretan detik masa depan 
Atau terbang ke angkasa dan merobek langit-langit rumah

“Gila! aku sedang bermimpi”.

Kualihkan mataku ke luar jendela 
Kudapati udara dingin sedang memeluk pagi yang basah.

Pagi Ini
:Dr. Leo Kleden

Pagi ini engkau kembali hadir 
Dengan swara yang selalu sama warnanya
Pun aku teguh mengakrabinya.
Kaulantunkan syair yang tak lekang dari ingatanmu
Dan aku benar-benar mabuk
Hingga kata-katamu tumpah di telaga anganku.
Ledalero, September 2019.

Petrus Nandi: mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, tinggal di Biara Scalabrinian. Saat ini ia aktif di komunitas sastra Djarum Scalabrini dan Kelas Puisi Bekasi (KPB).
×
Berita Terbaru Update