-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SUARA GADAMER TENTANG SENI

Rabu, 10 Juni 2020 | 13:27 WIB Last Updated 2020-06-10T06:35:05Z
SUARA GADAMER TENTANG  SENI
Ricky Richard Sehajun


Oleh : Ricky Richard Sehajun, S.S, M.Pd

Hans-Georg Gadamer (1900-2002). Aslinya, Gadamer, filosof hermeneutika. Namun, ia bicara banyak tentang seni. Ia menafsirkan seni, ditilik dari filsafat. Itu ada dalam buku, The Relevance of The Beautiful and Other Essays. Menarik sekali jika dikaji. Apalagi diterangi dengan lampu bakat seni, yang melekat pada diri pembaca. “Bergaul” dengan buku ini, seolah -olah kita dibawa pada nada-nada musik yang paling kita sukai. Karena itulah, suara Gadamer cukup menghentak, ketika bicara seni dan sejarah. Ia memberi wawasan, sekaligus interpretasi baru. Dengan seni, kita mampu memahami diri sendiri dan dunia. 

Gadamer melukiskan pengalaman seni sebagai perjumpaan dengan sebuah dunia. Jika kita mampu menyerap makna, dalam sebuah eksplorasi seni, barulah kita disebut penjelajah.  Penjelajah seni adalah seorang yang mampu menyatu, berjiwa seni dan mampu menangkap makna seni. 

Jika kita masuk ke dalam sebuah dunia seni, kita akan mampu memahami diri sendiri, terutama bisa mengontrol diri dengan segala kebrutalan sensivitas ke arah positif.  Lantas, kontrol diri sebetulnya bagian dari efektifitas berseni, dengan tujuan menjadi manusia yang damai, harmoni dan menenangkan. Gadamer percaya, pemahaman diri, akan yang lain, bisa disatukan dengan seni. Pemahaman diri mencakup kesatuan dan keutuhan yang lain. Pengalaman akan seni mengandung kebenaran. Efek dari logika ini, berada pada tingkat pertanyaan, ”bagaimana dengan orang yang tidak menyukai seni?”. Apakah tidak ada kebenaran?

Film memberi contoh tentang perjumpaan sebuah karya seni. Ketika penonton melihat film, dia harus masuk ke dunia film. Selagi menonton, diharuskan ada aspek keterlibatan, mata, ekspresi tubuh, akal dan perasaan. Elemen-elemen sinematografis film, akan dengan sendiri, masuk kedalam diri kita dan menjadi bagian dari diri kita. Konsekuensinya adalah siap menangis, siap bergembira, dan siap membenci. Jika kita, bertemu dengan konsekuensi tersebut, maka kita adalah film itu sendiri. Itulah dunia bagi seorang seniman. Tidak terasing dari  yang dilihat, didengar dan dirasakannya.
×
Berita Terbaru Update