-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Takdir atau Kebebasan (?)

Rabu, 17 Juni 2020 | 09:35 WIB Last Updated 2020-06-17T02:35:18Z
Takdir atau Kebebasan (?)
Takdir atau Kebebasan (?)

Sartre, tidak percaya takdir. Baginya, takdir adalah bentuk rantai dalam relung - relung hidup manusia. Ia melibas, sekaligus menekan manusia. Titik paling mengerikan adalah ketika manusia menjadi pasrah. Kepasrahan ini, sebetulnya, menjadi tanda kematian rasionalitas. Kemudian, cenderung memeroduksi banalitas atas kebebasan. Takdir, itu irasional. Bisa membunuh konsep kerja keras, kreativitas dan usaha. 

Gambaran takdir, sungguh menohok dan  menerkam kebebasan manusia. Baik lingkup berpikir maupun berbuat. Padahal, manusia bisa melakukan apa saja. Ia bebas. Soal tanggung jawab kepada Allah, urusan belakangan. Itu pun kalau IA ada.  Nalaritas ini, diturunkan dari rasionalisasi Allah yang diciptakan oleh kebebasan. Kita tidak sepenuhnya tahu, mengapa kaum Sartrean, seolah - olah mengambil peran oposisi terhadap konsep agama. 

Menurut Sartre, manusia terlalu mengada - ada. Sangat emblematis. Eksistensinya, dijerat oleh konsep Agama. Sebetulnya, manusia, kadang - kadang  memanfaatkan, alasan Allah untuk memuaskan dirinya saja. Tragis, kan? lalu, segala pergumulan manusia yang tidak bisa diselesaikan, diserahkan sebagai urusan Tuhan. Pada titik ini, Tuhan jadi tempat curahan tentang apa saja yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Liat saja, doa kita sering kali diarahkan untuk meminta sesuatu dari Tuhan. Kita lupa bersyukur dan memuji-Nya. Mungkin, pergelutan ini, efek dari ketidakpercayannya terhadap agama. 

Jika Anda menengok, kelakuan manusia abad pertengahan, banyak tindakan amoral dengan alasan agama. Sejujurnya, beberapa kasus zaman sekarang, juga memiliki derajat kesamaan alasan. Namun, apakah kita mesti mengikuti rasionalisasi Sartrean? Tergantung. Sartre sendiri memberi keluasan kebebasan untuk mengikuti atau tidak. 

Namun, apakah kebebasan itu sesuatu yang baik? Sartre bilang, itu sebuah kutukan. Apa ini bermakna negatif? Tergantung perspektif. Kebebasan, sangat menentukan kehidupan manusia. Dengan kebebasannya, manusia bisa menjadi seperti apa saja. Tergantung kehendaknya sendiri.  Entah, Ia mau menjadi orang baik atau jahat, itu manusia yang menentukan. Bahkan, sekalipun  ia ingin menjadi seperti Tuhan atau menolak Tuhan. Karena itulah, sering ada ucapan, hidup itu sebuah pilihan. 

Menarik dikaji bahwa Sartre, menilai keutuhan manusia dari tindakannya. Ia melihat, berbobot atau tidaknya manusia, tergantung perbuatannya. Jadi, penilaian tertinggi bagi Sartrean adalah perbuatan. Namun, manusia melakukan apapun, tetap dikehendaki oleh kebebasannya. Kebebasan adalah Tuhan bagi sartre. Iman Sartre ada pada kebebasan. Kebebasan itu, karya yang dasyat. Tetapi, apakah karakter kebebasan yang dimiliki itu, memiliki sifat maha pengasih dan maha penyayang?

Kebebasan itu, sebetulnya memiliki karakter pengasih dan penyayang. Manusia, lahir untuk tujuan saling mencintai dan dicintai. Ia harus menjadi penyayang bagi orang lain. Maka, ketika melihat orang yang tidak saling mengasihi, berbuat tidak adil, Sartre sangat marah. Hal ini, diulasnya dalam topik tentang "the other"/ liyan. Bahwasannya, manusia harus melihat dirinya pada orang lain. Barangkali, Sartre setuju, dengan Aristoteles, bahwa manusia, sejak lahir bergerak untuk mengejar kebaikan. Dalam proses pengejaran itu, Konsep humanis lebih bermain peran.

Oleh: Ricky Rikard Sehajun
Penulis adalah Alumnus STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur
×
Berita Terbaru Update