-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Talia dan Bayangan Semu Kesuksesan

Rabu, 24 Juni 2020 | 16:41 WIB Last Updated 2020-06-24T09:45:00Z
Talia dan Bayangan Semu Kesuksesan
Talia dan Bayangan Semu Kesuksesan

Talia gadis remaja yang elok rupawan usianya kira-kira tujuh belasan secara sekarang ia duduk di bangku kelas 2 SMA yang ada di kampungnya. Bukan hanya berparas cantik talia juga terkenal sebagai salah satu siswi yang paling cerdas di sekolahnya. Tidak diherankan lagi jika ia selalu menjadi bintang soal akademik di sekolah. Talia juga ramah dan selalu senyum kepada siapa saja, makanya banyak lelaki di sekolahnya yang berusaha untuk bisa meluluhkan hatinya. Tentu hal ini bertolak belakang dengan talia yang belum ingin berpacaran.

Sudah banyak teman lelaki ditolaknya meskipun mereka telah menyiapkan seribu satu jurus untuk mengungkapkan perasaannya. Alasan penolakan yang diberikan talia tak sedikit pun membuat mereka merasa kecewa atau tersinggung buktinya Tomi dan beberapa laki-laki lain yang pernah ditolaknya pun akhirnya menjadi teman dekat talia.

“Cinta sebenarnya bukan sesuatu ajang tumbuh suburnya kebencian yang akan menjadi biang permusuhan jika tahu-tahu cinta ditolak atau yang lebih kuno dan goblok lagi cinta ditolak dukun bertindak”. Untunglah anak lelaki di SMA talia tidak seperti itu. Sebenarnya alasan fundamen talia belum ingin berpacaran karena talia selalu mengingat setiap tetesan peluh ibunya yang tiada henti bak mata air yang terus ingin mengalir. Ia selalu membayang jerih payah ibunya seorang diri yang bekerja mencari rupiah untuk memperoleh sesuap nasi juga mengongkos talia sekolah. Yah... maklumlah ayah talia meninggal ketika ia masih berada di kelas empat SD, semenjak itu ibunya mengayomi tugas ganda menjadi kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebenarnya talia tidak tega membiarkan ibunya bekerja sendiri bahkan ia sempat memutuskan untuk tidak lanjut SMP ataupun SMA ketika tamat. Ia berniat membantu ibunya bekerja. Namun keinginan ibunya lebih kuat untuk tetap menyekolahkannya.

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya talia tidak mau membantah keinginan ibunya untuk terus bersekolah. Ibunya selalu berpesan agar kelak talia mampu menjadi orang sukses dan bisa menikmati hidup bahagia tidak seperti orang tuanya. Amanat itulah yang merekah di hati dan kepalanya yang memacu talia untuk terus giat belajar hingga akhirnya ia mampu mewujudkan keinginan orang tuanya terlebih khusus ibunya tercinta. Kesuksesankulah yang akan menjadi kebanggaan ibuku. Ibuku akan tersenyum lega akhirnya, talia mulai menduga-duga.

Siang ini talia pulang sekolah sendirian ia berjalan menyusuri jalan setapak panjang yang sedikit berbatuan karena memang sudah usang termakan usia. Tidak seperti biasa siang ini matahari cukup panas dan tanpa ampun menyengat ke sekujur tubuh setiap orang yang berpapasan langsung sinarnya. Seakan kali ini matahari hendak memberi isyarat tentang kabar  yang menggembirakan atau kesedihan. Entahlah talia tak tau ia tidak memikirkan itu yang pasti dalam hatinya ia terus berjalan meskipun keringat bercucuran tak terkira jumlah di seluruh tubuhnya ia tetap memantapkan dirinya untuk terus berjalan. Ingin rasanya talia untuk cepat sampai di rumah yang berjarak kira-kira 3 kilo dari sekolahnya itu. Di tangan talia menenteng bungkusan kado yang dibelinya di kios dekat sekolahnya. Talia sudah tak sabar ingin segera memberikan surprise kepada ibunya di hari ulang tahun yang ke 38, ingin cepat-cepat memeluk dan mencium ibunya yang tercinta. Meskipun terkesan sederhana yah memang hanya itu yang dapat dilakukannya talia.

“Kebahagiaan yang terbesar bagi talia adalah ketika ia melihat wanita satu-satunya di dunia yang sangat dicintainya itu tersenyum bahagia”. Dalam perjalanan ia terus membayangkan wajah ibunya, senyumnya yang merekah bak mawar indah di taman yang membawa kedamaian. Seluruh isi kepala talia sudah terpenuhi oleh bingkisan-bingkisan wajah ibunya dengan terus ia mempercepat langkahnya. Tak disadarinya akhirnya talia tiba di pekarangan rumahnya. Ada sesuatu yang tampak sedikit aneh di rumahnya hari ini. Rumah talia yang sudah terbiasa bersahabat dengan sepi hanya talia dan ibunya saja karena rumah mereka sedikit jauh beberapa meter dari tetangga yang lain.

Namun kali ini ramai banyak orang di rumahnya, hal ini membuat pikiran talia kacau, hatinya dak dik duk tak aruan membuat jantungnya berdegup kencang dan semakin kencang ketika gendang telinganya menangkap suara parau tangisan orang-orang dari dalam rumahnya. Tanpa aba-aba talia lari menerobosi masa yang berdiri dekat pintu yang penuh penasaran melihat apa yang terjadi. Serasa jantung talia mau copot melihat wanita yang dibayangkan akan tersenyum bahagia di hari ulang tahunnya, wanita yang selalu mengingatkannya untuk terus belajar yang rajin untuk menjadi orang sukses, wanita satu-satunya di dunia yang sangat dicintai itu terbaring kaku. Tak peduli semua orang yang ada di situ termasuk talia anaknya. Sontak teriak talia lari dan memeluk ibunya yang terbaring kaku itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia seakan tak percaya ibunya harus meninggalkannya secepat ini, ia merasa bersalah belum mampu membahagiakan ibunya dengan menjadi orang sukses seperti yang diimpikan ibunya. Pelukan talia pada mayat ibunya semakin erat seakan ia tak mau berpisah dengan ibunya. Kenapa ibu harus pergi di saat hari ulang tahun ibu? Aku ingin kita merayakan hari ulang tahun ibu bersama di sini ibu... mengapa ibu harus pergi secepat ini? ....dengan suara yang letih dan sendu talia berteriak dalam tangisannya dengan harapan ia mendapat jawaban dari ibunya.

Namun itu sia-sia ibunya tetap terbaring kaku. Air mata talia yang tak pernah terbayangkan sebelumnya sekarang bercucuran tiada hentinya talia tak begitu percaya semuanya akan terjadi seperti ini. Mungkin hari yang seharusnya bahagia itu tak selamanya kita tertawa dan tersenyum terkadang hari bahagia itu menyakitkan. Namun apa hendak dikata itulah yang terjadi dengan talia di hari ulang tahun ibunya ia harus menanggung duka yang tak terlupakan dalam hidupnya. Perempuan yang disayanginya harus pergi meninggalkan dia seorang diri menapaki hidup selanjutnya. Talia menangis semalaman membuat matanya sedikit bengkak. Besoknya setelah upacara penguburan selesai banyak orang berhamburan pulang ke rumah masing-masing di tempat kuburan itu hanya talia seorang yang tak mau beranjak ia masih ingin menemani ibunya. Tetapi untunglah berkat bujukan bibinya talia mau pulang ke rumah.

Matahari yang sedari tadi panas menyengat siapa saja yang dijumpai oleh pancaran sinarnya kini telah hilang atau pergi entah ke mana sekarang hanya gumpalan-gumpalan awan hitam yang tebal menyelimuti bumi kemudian disusul hujan yang sangat deras memberi kesegaran kepada bumi yang sedikit layu. Seakan alam juga ikut menangis atas kesedihan talia gadis remaja yang sekarang telah menjadi seorang yatim piatu. Dentuman guntur yang berbalas-balasan seolah sedang menyanyikan kidung duka sebagai ucapan belasungkawa atas kepergian ibunya talia untuk selamanya atau mungkin kidung suka untuk menghibur talia yang terlarut dalam kedukaan.

Semenjak ditinggal pergi oleh ibunya, talia merasa hidup sudah tidak ada gunanya semuanya terasa hampa. Tak lagi ada  orang yang bersedia membelai rambutnya ketika sedih. Semua kebahagiaannya telah direnggut hilang lenyap. Talia sekarang sebatang kara ia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali bibinya yang merupakan saudari bapaknya, bibinya mengajak talia untuk tinggal bersama mereka di kota. Tentunya ini sangat membuat talia bahagia karena masih ada orang yang ingin membantunya dan bahkan bersedia membiayai untuk melanjutkan pendidikannya hingga sarjana dan menjadi orang sukses seperti impian ibunya yang belum terbayar. Yah memang karena bibinya bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan dengan gaji yang lumayan besar. Sedangkan pamannya seorang pengangguran yang hari-harinya mengantar dan menjemput istrinya kerja. Namun di lain pihak ini sedikit berat bagi talia untuk meninggalkan makam dan rumah kedua orang tuanya di kampung yang telah menyimpan sejuta kenangan indah. Singkat cerita.

Sudah dua tahun talia tinggal bersama bibi dan pamannya sedikit demi sedikit talia mulai bisa merelakan ibunya pergi. Dia bahkan menganggap bibinya sudah seperti ibunya sendiri meskipun tak dapat dibandingkan dengan kasih sayang seorang ibu yang telah melahirkannya. Dalam kesibukan hariannya di lubuk hati talia masih tersimpan amanat dari ibunya yang menggebu-gebu belum terpenuhi untuk menjadi orang sukses agar dapat membanggakan kedua orang tuanya di alam sana. Sekarang talia tampak lebih cantik dengan kulit putih, rambut panjang terurai, lentik matanya seperti pelangi, dengan bibir berwarna merah jambu yang membuat layaknya seorang bidadari. Karena memang talia sudah semakin dewasa.

Talia sekarang tampak lebih ceria dan semangat menjalani hidupnya dan ia lebih rajin lagi untuk belajar. Sehingga ia tak dapat digeser soal akademik hingga sekarang mau memasuki tingkat dua semester tiga. Namun Entah apa yang merasuki akhir-akhir ini talia kelihatan tidak begitu semangat seperti sebelumnya. Wajahnya yang cantik tampak lemah lusuh tak terawat. Ia kadang menangis sendirian di kamarnya mengingat ibunya yang penuh harap anaknya akan menjadi orang sukses nantinya. Dari kampus mengatakan prestasi talia sangat menurun. Tentu ini merupakan kejanggalan yang terjadi dengan talia gadis yang terkenal pintar itu. Hal ini sungguh dirasakan oleh teman-teman talia di kampus perihal perubahan yang drastis dari talia.

Ketika ditanya bibinya talia hanya menjawab ia sedang rindu ibunya. Tanpa curiga sedikit pun bibinya hanya mencoba menenangkan hati talia untuk berubah dan menjadi talia yang selalu ceria dan semangat. Jawaban yang sama diberikan talia ketika ditanya teman-temannya. Sudah memasuki tiga bulan talia dengan sikap barunya itu. Dan semakin parah lagi ia tampak selalu murung di rumah maupun di sekolah. Bunga mawar merah yang indah di taman kampus tak dapat lagi memikat talia untuk memandang dan sekedar menyunggingkan senyum di bibirnya seperti yang dilakukannya kerap kali ke taman tersebut.

Pada suatu sore yang indah mentari seolah merangkak dengan cepatnya dan akan segera tenggelam bersama senyum dan keceriaan talia selama ini dan taburan  warna jingga yang bertebaran di ufuk barat yang tampak teduh dipandang tak dapat juga mengundang talia untuk menatapnya. Talia sedari tadi hanya duduk melamun dengan tatapan kosong tanpa makna entah siapa yang ditatapnya. Tiba-tiba saja seperti kerasukan talia terperanjat dari tempatnya dan tertawa terbahak-bahak tanpa sebab. Terkadang ia menangis dengan sekeras-kerasnya disambung dengan tertawa lagi tanpa kontrol,  kemudian talia tiba-tiba meringis ketakutan entah apa atau siapa yang dilihatnya. Rambut talia beracak-acakan tidak teratur. Talia tenang! Apa yang terjadi?, sahut bibinya. Tanpa menunggu jawaban talia, bibinya yang tak kehabisan akal langsung menghubungi pihak rumah sakit. Tidak lama talia dijemput dan dibawa ke rumah sakit untuk di periksa. Diagnosis yang diterima talia mengalami gangguan psikologis yang sangat berat untuk disembuhkan dan gangguan psikologis ini terjadi karena luapan dari segala masalah yang dipendam talia di hatinya selama ini, demikian penjelasan dokter. Talia akhirnya di kirim ke rumah sakit jiwa untuk menjalankan psikoterapi. Impian kesuksesan dari talia seakan hilang dalam sekejap.

Talia sekarang bagaikan kuntum mawar siap mekar dan merekah harus gugur diterpa badai akhirnya mati. Begitu talia gadis cantik dengan senyum khas indah selalu ceria dan memiliki impian yang kuat untuk menjadi orang sukses seperti kerinduan ibunya harus pupus di tengah jalan. Semua perjuangannya harus berhenti. Kesuksesannya itu hannyalah bayangan semu belaka. Talia mengalami depresi dan traumatis yang hebat atas kebejatan monster ganas. Didapati keterangan bahwa ketika talia memasuki semester tiga, demi bisa tetap kuliah, talia menjadi budak dan dipaksa melayani nafsu bejat pamannya.

Oleh: Latrino Lele
Penulis lahir pada tanggal 09 November 1999, asal Bokogo, Wolowea. Sekarang penulis tinggal di Maumere.
×
Berita Terbaru Update