-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tentang Malam Ini (Cerpen Riko Raden)

Rabu, 17 Juni 2020 | 09:09 WIB Last Updated 2020-06-17T02:09:24Z
Tentang Malam Ini (Cerpen Riko Raden)
Tentang Malam Ini (Cerpen Riko Raden)

Oleh: Riko Raden

“Nana, aku tahu engkau seorang penyair. Apakah engkau tidak tahu bahwa seorang penyair sepertimu terlalu banyak berdusta!”
Ahh,, engkau bohong. Aku bukan penyair. Aku hanyalah manusia yang tahu merawat kenangan. Jujur saja bahwa engkau pergi karena telah bosan merawat kenangan kita. Aku tahu bahwa engkau hadir sebagai penghibur hati tanpa ada rasa cinta yang mendalam. Hanya aku tidak suka cara kepergianmu. Engkau pergi tanpa meninggalkan pesan. Sehingga engkau tak perlu lagi merawat kenangan kita. Engkau hanya tahu mencintai dirimu sendiri. Mungkin bagimu hanyalah cerita tanpa ada kenangan dalam hati ini. Mungkin bagimu, cintaku hanyalah sebuah cerita tanpa nama.

Malam ini aku duduk seorang diri. Aku terdiam dalam sepi. Aku mencoba untuk membaca buku hanya sekadar untuk melupakan wajahmu. Aku tidak ingin engkau hadir kembali dan membawa rasa sakit dalam hatiku. Engkau telah pergi tanpa meninggalkan pesan. Engkau pergi dengan membawa sejuta janji dan kenangan. Engkau pergi meninggalkan luka dalam hati ini. Sekali lagi, aku tidak ingin engkau hadir kembali bersamaku saat ini. Aku belum sembuh dari luka kepergianmu. Aku tidak mau melukai yang kedua kalinya. Pergilah, jangan pernah datang kembali dalam hidupku. Aku telah nyaman hidup tanpamu. 

Sebenarnya bukan aku tidak menginginkan engkau untuk kembali dalam hidupku. Cara kepergianmu yang membuat hati ini tak ingin menerima dirimu. Engkau pergi tanpa meninggalkan pesan. Laki-laki mana yang bisa bertahan kalau wanita yang dicintainya pergi begitu saja bersama orang lain. Sakitkan!  Kalau memang aku salah mencintaimu, setidaknya engkau menegur dengan kata-kata halus. Atau aku selingkuh dengan wanita lain, setidaknya engkau marah. Ini tidak, engkau pergi begitu saja. Apa salahku! Kenapa dulu engkau begitu yakin menerima cintaku, lalu tiba-tiba engkau pergi. Selama ini engkau anggap ketulusanku sebagai apa! Pelengkap sebuah pendekatan! Atau hanya sekadar lelucon supaya engkau tersenyum! Mungkin karena aku terlalu berharap pada dirimu. Entahlah!

Kita pernah saling mengisi ruang kosong, merangkai bunga rindu yang berguguran. Aku pernah mengatakan dengan jujur di depanmu bahwa engkau membawa warna baru dan meluruskan liku-liku masa laluku, memperbaiki setiap kepingan hati dan mengubahnya menjadi lebih baik. Eh, ternyata aku salah. Kata-katamu menjadi duri dalam hatiku. Sungguh tajam dan menyakitkan. Sejujurnya, aku belum siap kehilangan. Aku tidak siap untuk engkau tinggalkan. Karena hati ini masih menyimpan rasa sayang akan dirimu. Mungkin karena dulu bersamamu, aku selalu belajar menjaga dan mempertahankan sehingga saat engkau pergi, sungguh hati ini luka tanpa bisa diobati lagi. Sejak ada kamu, kehidupanku penuh harapan untuk masa-masa depan. Indah dan cerah. Aku pikir tak ada lagi orang yang bisa membuatku tersenyum selain dirimu.  ehh, ternyata pada akhirnya, aku hanyalah seorang lelaki yang terlalu banyak berharap pada ketidakjelasan. Seluruh impianku yang kurangkai pelan-pelan tiba-tiba dihancurkan begitu saja oleh engkau wanita yang belum paham caranya setia. Kini, engkau pun pergi tanpa meninggalkan pesan. Jejakmu pada kenangan, membuat hati ini terluka.

Malam ini pun engkau hadir sekadar membawa luka lama dalam hatiku. Seperti mentari, kau yang hangat, lalu pergi. Bersinar menerangi, lalu meredup sendiri. Kau pernah bilang kita bisa saling mencintai, bersama sampai tua bahkan hingga mati. Mana kata-katamu itu! Kau bilang perbanyakan doa dan harapan, impian kita pasti akan terwujud. Namun apa yang terjadi? Biarlah waktu yang menceritakan semuanya. Sekarang harus ke mana kulampiaskan seluruh kerintihan hati ini! Kekecewaan dan rasa trauma terkemas buas ingin berteriak melegakan diri. Kau buat aku jatuh cinta sedalam mungkin. Kau buat aku juga luka sedalam mungkin. Sial! Kini, malam ini, tidak ada lagi nyanyian para malaikat sehabis hujan yang kudengar. Hanya ada rasa sakit yang kukenang malam ini.
*Riko Raden, tinggal di unit St. Rafael Ledalero. Suka minum kopi Manggarai. Baginya, minum kopi adalah cara menemukan keteguhan hati untuk kembali jatuh cinta.
×
Berita Terbaru Update