-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tidak Hanya Menjadi Katolik Yang Baik Tapi Juga TAAT

Kamis, 25 Juni 2020 | 21:39 WIB Last Updated 2020-06-25T14:39:57Z
Tidak Hanya Menjadi Katolik Yang Baik Tapi Juga TAAT
Tidak Hanya Menjadi Katolik Yang Baik Tapi Juga TAAT

Banyak dari kita seringkali mengatakan bahwa, “Intinya menjadi Katolik yang baik” ketika ada nasehat atau kritikan terkait cara hidup dan cara beragama kita sehubungan dengan perayaan-perayaan Sakramen terutama perayaan Ekaristi yang tidak sesuai dengan ajaran iman dan moral Gereja Katolik.

Kalau hanya alasan “Yang Penting Baik”, tidak hanyak Katolik yang baik. Umat beragama lain juga baik. Bahkan seorang atheis sekalipun baik juga kehidupan mereka. Dengan kata lain, jika sekedar “baik” lantas untuk apa menjadi Katolik toh agama lain atau atheis sekalipun juga baik.

Menjadi Katolik tidak hanya baik dan benar melainkan lebih dari baik dan benar yang menjadi pembeda cara hidup kita sebagai umat Katolik dengan umat beragama lain. Pembeda tidak hanya terkait simbol, doa-doa dan cara beragama serta berliturgi dan ajaran-ajaran Gereja tetapi juga lebih dari itu yaitu KETAATAN sebagai sikap dan tindakan iman mengimani dan mengikuti Yesus.
Tanpa sikap TAAT semua yang ada pada kita yaitu yang baik dan benar dalam kehidupan kita sebagai umat Katolik dengan sendirinya akan hancur. Tanpa sikap TAAT yang lahir adalah perpecahan, saling membandingkan dan masing-masing menggunakan kacamatanya sendiri untuk melakukan apapun sesuai selera.

Seorang Katolik yang lebih baik dan benar karena ia menjadi seorang Katolik yang TAAT meski berbeda cara menghayati dan menghidupinya bukan karena sesuai selera pribadi tetapi sesuai dengan ajaran iman dan moral Gereja.

Dalam pengalaman hidup kita sehari-hari, seorang anak menjadi anak yang lebih baik dan benar ketika ia taat, patuh pada nasehat orang tua, para guru dan semua yang mengenal dan menasehatinya. Dan sebaliknya menjadi seorang anak yang gagal ketika ia hanya mengikuti selera pribadinya tanpa mau mendengarkan, taat dan patuh pada mereka yang mengasihinya.

Semua ajaran Gereja adalah sangat baik dan benar dan sangat sesuai dengan kebutuhan hidup dan perkembangan zaman untuk bertumbuh kembangnya kehidupan beriman kita. Persoalan yang sering terjadi adalah kita menafsirkan sendiri dengan cara pandang dan selera pribadi sehingga menimbulkan persoalan.

Jika saja ada KETAATAN meski cara menghayati dan menghidupinya berbeda namun tidak menghilangkan inti yang terkandung di dalam ajaran-ajaran tersebut maka tidak akan pernah ada bahasa yang terucap; “YANG PENTING MENJADI KATOLIK YANG BAIK”.

Ini adalah sebuah PENGHAYATAN MINIMALIS. Bagi orang beriman Katolik sejatinya harus lebih yaitu TAAT yang menjadikan kita sebagai seorang Katolik yang lebih baik dan benar dalam tutur kata, tindakan dan perbuatan.

Banyak orang beralasan; “Iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:14-26). Perbuatan yang dimaksud di sini bukan sekedar tindakan-tindakan baik dan benar yang dilakukan tetapi juga tindakan dan perbuatan KETAATAN yang menghasilkan tindakan dan perbuatan yang lebih baik dan lebih benar.

Ketaatan adalah sikap dan tindakan iman yang darinya lahir dan mengalir semua perbuatan dan tindakan yang lebih baik dan lebih benar sebagai perwujudan iman kita. Dengan kata lain, KETAATAN adalah perbuatan itu sendiri dan KETAATAN adalah perwujudan iman kita.

Manila: 25 Juni 2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update