-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tiga Angkah di Halaman Rumah Tetangga (Cerpen Chan Setu)

Rabu, 03 Juni 2020 | 14:05 WIB Last Updated 2020-06-03T07:05:36Z
Tiga Angkah di Halaman Rumah Tetangga  (Cerpen Chan Setu)
Tiga Angkah di Halaman Rumah Tetangga - Chan Setu

Oleh: Chan Setu

Subuh sekali, ketika seekor jatan memanggil pagi dari sangkarnya. Berkokok, berkali-kali dengan harap pagi lekas datang, biar lambung dan kerongkangan mereka bisa segera menerima makanan dan minuman dari anak-anak bumi. 

Subuh sekali, ketika hari terlalu dini dibirahi oleh embun, seorang wanita berusai sekitar duapuluh-an datang menghampiri halaman-halaman wallpaper handphone. Fian, apa sih maksud dari story WhatsAppmu itu, ucapnya via voice note. 

“ya, beberapa menit yang lalu, Fian sempat memuat story WhatsAppnya dengan menggunakaan bahasa-bahasa puitis yang tentu tidak semua, sanak-saudara, sahabat dan kenalan di WhatsAppnya bisa memahami maksud storynya itu. beberapa menit yang lalu, Fian hanya memuat sebuah judul tulisan yang ingin ditulisnya “Tiga Angkah di Halaman Rumah Tetangga.” Itu lah kalimat-kalimat story WhatsApp Fian, beberapa menit yang lalu.”

Sebenarnya, Fian sendiri pun tak benar-benar paham maksud dari kalimat-kalimat pada stotynya. Seperti biasa, “ya, Icha sebenarnya saya sendiri pun belum paham apa maksudnya. Kan, saya baru saja ingin menulis sesuatu dari judul itu. soalnya, kalimmat-kalimat itu yang tiba-tiba datang menghampiri pikiran saya. Sekarang pun sebenarnya saya sedang mencoba memahaminya sambil berpikir tentang alur-alur yang akan diceritakan di dalamnya pun karakteristik tokoh yang ingin saya ceritakan di dalamnya nanti. Mungkin, setelah selesai semuanya nanti, barulah bisa saya jelaskan maksud kalimat-kalimat tersebut. “Jawab, Fian meyakinkan Icha, sahabat masa kanak-kanaknya dulu.” Kira-kira itulah percakapan singkat kami berdua subuh kemarin.

                                                                         ***** 
Terkadang, kita tak bisa memaksa orang untuk masuk dan memahami apa yang kita pahami, begitu pun sebaliknya. Dunia ini, seperti terisi oleh pemahaman-pemahaman yang bervarisi. Hidup tidak semuanya sama. Pagi dan langkah awal kaki dari setiap anak-anak pun tak bisa kita ajak untuk sama-sama melangkahkannya. Kadang ada yang sedang asyik mendengkur di balik bantal tidurnya. Terkadang ada yang telah bercermin, merias satu per satu urat wajah yang masih dibawah oleh mimpi-mimpi malam. Kadang pun ada yang telah bercerita dengan kisah-kisah malam di dalam selimut bunga tidurnya. Kadang juga ada sebagian anak yang berpikir tentang nasib, takdir dan makan-minum yang akan mereka santap sepangjang hari itu, ya untuk sehari saja. Di samping itu, banyak yang sedang mencari dan menrindukan ayah dan ibu mereka. Itu lah hari, pagi dan langkah awal kehidupan anak-anak bumi. Toh kita tak mungkin memaksanya untuk “begini” dan “begitu” semau dan sekehendak kita.

Seperti itulah Icha. Subuh sekali, ia datang bertamu ke dalam sebuah dunia yang begitu asing baginya. “mencakar dan merumuskan hukum-hukum angka dalam turunan-turunan  - menghidupkan angka-angka yang terlihat baik dan biasa-biasa saja jadi lebih asing serta sulit, itulah sebenarnya dunia rutinitasnya. Pagi ini, ia datang bertandang pada sebuah dunia yang begitu berbeda.  ia menemukan abjad-abjad panjang yang berisi ratusan anak-anak kalimat yang dipenggal dalam bait-bait doa sepasang kekasih, dunia yang begitu berlawanan dengannya.” “Lalu bagaimana memecahkan semuanya itu.” setelah sekian lama terlena dengan pikirannya sendiri. Akhirnya Fian di heningkan dengan pertanyaan singkat buah pikirannya itu. “Akh, perlukah saya yang memecahkannya atau kita berdua sama-sama memecahkanya.” Batin Fian, saat itu. meskipun ia tahu jarak begitu jauh membiarkan ruang dan waktu pincang di natara ia dan Icha. Ia berada di Kota Teluk Maumere sedangkan Icha kini berada di Ibu Kota Metropolitan. Mengais dan mengendus jejak demi masa depan yang tak ingin pupus dari balik punggung keringat tubuh ayah dan ibunya. 

                                                                          ***** 
Sepuluh – Misterius 

Sepulangnya Kiran usai lembur yang panjang di Kantar Camat. Sepih dan sendiri tak lagi dipikirkannya. Lelah dan resah menjadi santapan mimpi yang ingin ia luapkan bersama kasur dan anak-anak kasur. Tak ada basa-basi, selamat malam dan lain sebagainya. Pintu rumah yang terbuka tak lagi dipersoalkan, rumah yang berserakkan, piring-piring kotor yang berceceran ke sana – ke mari, air-iar kran kamar mandi dan wc yang tidak ditutup, jendelan dan gorden-gorden ruang tamu serta ruang keluarga  yang juga belum ditutup tak lagi mencuru hati dan matanya untuk sekadar bertanya, apa yang terjadi. Semuanya hilang dan terlelap dalam lelah yang sangat. 

Di kantor, Kiran terlalu lama duduk tanpa benar-benar menjauhkan mata dari layar komputernya untuk sekadar memecamkan matanya sesaat. Berhadapan dengan diagram-diagram, bagan, pun tabel-tabel yang penuh dengan angka-angkan juga huruf-huruf yang terus harus di baca, jangan sampai salah. Di samping tubuhnya, tumpukkan map-map tebal menanti untuk segera di selesaikan semuanya. Tanda tangan, cap dan pengesahan jadi bagian lain yang harus ia selesaikan juga malam itu. mengingat dua hari lagi, Tomy Direkturnya akan segera berangkat keluar kota untuk memaparkan program perusahan dalam usaha mencuri hati pada pemilik saham. Sebenanrya, yang dipikirkan Kiran bukanlah soal Tomy yang akan berangkat lebih dari itu tentang nasib dan masa depan anak-anak dan keluarganya andai kata, ia tak mukut menyelesaikan semua tugasnya sebagai Sekretasi perusahan. 

Ketika Kiran, berusaha untuk terlelap dan menjaga mimpinya. Tidak terlalu lama, tiba-tiba saja, Jam berdenting. Bel lonceng rumah mendesir. Segera ia keluar dari kamar tidur, mencoba menemukan jangan-jangan ada tamu yang ingin bertemu atau jangan-jangan rekan kerjanya di kantor membawa beberapa hal lain yang mungkin saja  lupa dikerjakan oleh Kiran. Di depan, pintu masih terbuka. Tak ada tamu pun tak ada siapa-siapa selain lampu taman yang terang di sepanjang jalan masuk menuju rumahnya. Kendati demikian, bel lonceng it uterus mendesir. Kali ini bukan dari pintu depan rumahnya. Kini lonceng itu mendesir dari arah ruang keluarga. Di sana pun. Semua terlihat baik-baik saja, tidak ada seorang pun. Televisi yang masih nyala, lembaran-lembaran koran yang masih saja berserakkan, bungkusan-bungkusan rokok yang tercecer bersama abu dan debu serta punting-puntungnya masih saja tercecer di sana-sini. Tinggal, suara-suara percakapan sinetron ftv di televise saja yang jadi begitu berisik dan bising. Lonceng itu kembali mendesir, bunyinya lebih keras. Berkali-kali mendesir, tekanan yang berulang-kali terdengar begitu pekik dan rishi. Kali ini, lonceng itu mendesir dari dapur rumah mereka. Tak ada siapa-siapa. Tinggal, termos air panas yang lupa ditutup, periuk dan kuali yang diletakkan begitu saja dengan bekas hitam diseluruh bagiannya, piring-piring kotor yang belum sempat di cuci, bungkusan-bungkusan kecap, minyal bimoli, ajinomoto, masako dan lainnya yang berserakkan di mana-mana. Terlihat seperti tak ada yang benar-benar datang untuk menekan bel itu. 

Kiran, semakin resah. Lelah yang telah lama ditahannya begitu membuatnya terlihat sedikit lebih linglung. Pikirannya tidak lagi terfokus. Mimpi yang sempat dijaga, hilang dibawa pergi oleh ras cemas dan takut. “Akh, siapa sih yang datang malam-malam tak dna ingin menganggu.” Bisiknya di dapur. Tiba-tiba lonceng itu mendesir kembali dari depan pintu rumahnya. 

Sesampainya di depan rumah, semuanya seperti biasa, tak ada siapa-siapa selain lampu taman yang terus menemani jalan kecil menuju rumahnya itu. suara televisi yang begitu gaduh dengan volume seolah-olah ada yang menaikan pun menurunkan volume suaranya. Di dapur seolah-olah suara seorang wanita dan anak perempuan sedang asyik memaksa. Suara-suara kran dan bunyi denting piring-piring yang berbenturan, di kamar seperti ada anak laki-laki yang asyik teriak mengekspresi euforia goal dari playstation yang dimainkannya. Rumah, itu seolah ramai dengan kisah-kisah yang begitu unik. “Akh, apa yang terjadi.” 

Kiran, ia semakin takut, kalut dan ingin memanggil penjaga siskambling di pojok gang kompelks perumahan dinas mereka. Ketika ia melihat jam dinding dan jam tangan yang dikenakannya. Anak-anak jam berada tepat pada jam sepuluh. Semuannya jadi sunyi dalam tubuhnya. Air mata jatuh, rindu membawa pergi begitu jauh, tubuhnya yang telah lelah – linglung akhirnya jatuh di bawah ubin lantai depan rumahnya. Semuanya jadi sesal dan kecewa. Malam itu, genaplah setahun yang lalu, Rumia istrinya dan Yuni anak perempuan pertamanya serta Yan anak laki-lakinya meninggal akibat kecelakaan mobil. Ketika, Kiran sedang berada dalam perjalanan tugas kantornya ke Metropolitan. Dan dia lupa, sepuluh itu angka ketika istrinya meninggal di usia pernikahan mereka yang ke-sepuluh dan pada jam sepuluh kedua anaknya dilahirkan pun pada jam sepuluh kematian itu jadi nyata bagi mata dan seluruh tubuh, Kiran.
Aku mencintai kalian semua. 

Maumere, 2020. 

Tentang Penulis: 
Chan Setu merupakan Mahasiswa semester III di STFK Ledalero Maumere. Saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nitapleat – Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere. 
×
Berita Terbaru Update