-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Trinitas Penguasa

Senin, 15 Juni 2020 | 10:46 WIB Last Updated 2020-06-15T03:46:12Z
Trinitas Penguasa
Trinitas Penguasa - Ilustrasi: mongabay

Oleh: Anselmus Sahan
Dosen Universitas Timor, Kefamenanu, Timor, NTT

Kisah tambang dan pabrik semen di Manggarai Timur, yang terus menghangatkan media massa dan diskusi di warung kopi, ternyata melahirkan ‘agama baru’. Para pengikutnya ramai-ramai mencari pusat ajarannya dan berusaha menunjukkan bahwa diri mereka pantas memuja dan memuji kepada sumber ajaran agama itu. Mereka bisa menggunakan apa saja untuk meninggikan kualitas puja dan pujiannya.  

Di dalam membangun komunitas ala milenial ini, semua anggotanya memiliki kepentingan masing-masing dan saling bertentangan. Kepentingan ini diperjuangkan dengan sesungguh hati untuk mencapai kesuksesannya. Tujuan akhirnya ialah setiap pejuang mengembangkan mimpi indah yang akan dia peroleh sebagai pemenuhan keutuhan, harapan dan cita-citanya.

Pusat puja dan puji mereka berada di sebuah tempat strategis, seperti kantor dari apa yang mereka puja dan puji itu. Di sana, terdapat banyak atribut yang mengeksposekan kejatidirian sang penguasa. 
Gambaran di atas adalah kisah bagaimana orang berusaha meyakinkan tiga penguasa, yang di dalam tulisan ini, saya sebut sebagai trinitas penguasa. Menurut saya, dalam kasus tambang dan pabrik semen, sebenarnya deskripsi tentang situasi itu amat kental dengan pesan ‘agama baru’ tersebut. 

Untuk memahami ‘agama baru’ itu, saya akan berusaha mendeskripsikan awal mula orang-orang hiruk-pikuk membahas masalah tambang: pro dan kontra bersikutan, saling menelanjangi, membela kepentingan dan mencela masyarakat di mana usaha pelubangan bumi dan pengrusakan lingkungan itu hendak dibangun.

Hakekat Trinitas

Dalam situasi tambang dan pabrik semen, trinitas tetap berada di kursi kekuasaannya. Dengan bantuan teknologi, mereka bisa memerintah dan atau memberi komando kepada kaki tangannya untuk berbuat apa saja sesuka hati mereka. Kekuasaan mereka sangat kuat dan saling mendukung dalam menjalan tugas operasional, baik antarsesamanya (dialog horsontal – mutalistik parasitisme) dan intrakaki tangan hingga masyarakat bawah.

Pertama, propinsi. Di tingkat ini, pengendali ada di tangan sang gubernur. Ia memiliki jabatan politis strategis pada wilayah kekuasaannya. Dengan jabatannya, ia bisa meyakinkan dan menjamin perjuangan dua trinitas lain di bawahnya melalui kebijakannya. Selain untuk melindungi dirinya (jabatannya), ia juga mampu mengokohkan dan menggelorakan semangat juang kedua trinitas di bawahnya itu. Di level ini, uang tidak ada. Yang ada ialah kemampuan, karena jabatannya, untuk memuluskan usulan dari bawah dan bila perlu dengan gigih memperjuangkan ke level atas aspirasi tersebut atau ke luar trinitas, seperti pusat, yang mungkin dimaknai sebagai sumber berkat bagi usaha trinitas.  

Kedua, kabupaten. Kekuasaan kedua berada di tangan seorang bupati. Dengan perangkat kerjanya, dia bisa meyakinkan masyarakat dan membangun cerita indah tentang apa yang dia inginkan. Pada tingkat ini, para pihak yang adalah bagian integral dari perangkat kerjanya, yang harus patuh dan tunduk kepada perintahnya. Perangkat ini sangat diandalkan untuk menjadi penghubung dengan trinitas ketiga: pengusaha dan bahkan berada di tengah masyarakat. Trinitas kedua ini tidak memiliki modal. Dia hanya memiliki wilayah dan rakyatnya, yang dia bisa promosikan untuk mencapai tujuannya. Dia bisa bercerita bahwa rakyatnya sangat miskin dan wilayahnya penuh batu yang tidak bisa diubah menjadi roti.

Dari hakekatnya, trinitas 1 dan 2 adalah penguasa. Cirinya ialah memiliki kursi atau jabatan untuk menguasai wilayah dan masyarakatnya. Mereka juga memiliki sejumlah perangkat resmi, dalam bentuk satuan perangkat kerja daerah (SKPD) dan institusi lain di luar perangkat resmi tersebut. Umumnya, karena perangkat resmi kurang mampu menerjemahkan keinginan pimpinannya, terbentuklah kesatuan informal itu untuk melancarkan agresi rahasia. Mungkin di sinilah peran ‘preman pembangunan’ muncul.

Ketiga, pengusaha. Jika trinitas satu dan dua tidak memiliki modal dan hanya memiliki kemampuan untuk membuat kebijakan, rakyat dan wilayahnya, anggota trinitas ketiga ini hanya mengandalkan modal besar untuk mendekati trinitas satu dan dua. Makanya, anggota trinitas kegita ini saya sebut pengusaha. 

Sebagai pengusaha, trinitas ketiga ini akan berani menggelontorkan modalnya, seberapapun besarnya, untuk mencapai tujuannya: investasi. Terminologi investasi itu menyembunyikan hakekat kedirianya dan profit sebagai tujuan akhirnya. Ia bisa dibaca dengan upayanya dengan sengaja menggelontorkan kepada trinitas satu dan dua sejumlah dana. Bahkan dengan memanfaatkan kelemahan kedua trinitas tadi, anggota trinitas ketiga bisa membeli wilayah dan rakyatnya dengan harga berapa saja. 

Kekuatan modal yang dimiliki pengusaha menjadi magnet bagi banyak orang untuk merapat padanya. Mereka yang saya sebut sebagai ‘kaki tangan’ akan bela mati-matian usaha pengusaha untuk menggapai impiannya seperti akan saya bahas di bawah ini.  

Diksi Bersayap

Jika diamati secara seksama, ada tiga jenis diksi yang sengaja digunakan trinitas pertama dan kedua untuk menggapai cita-citanya. Pertama, isu kesejahteraan. Upaya membangun sebuah industri lebih banyak disebabkan oleh rendahnya penghasilan masyarakat di sebuah wilayah. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, trinitas 1 dan 2 biasanya mengkampanyekan bahwa industri padat modal akan mampu menyejahterakan masyarakat. Diksi ini tidak pernah dibandingkan dengan efek langsung dari usaha tambang sebelumnya atau di tempat lain. Pokoknya, dinarasikan secara apik bahwa tambang waktu lalu telah membuat masyarakat sehajtera. Dan, tambang di tempat lain juga aman-aman. Tanpa polusi, destruktif dan ekstratif. Ah …. Trinitas, yang benar saja.

Kedua, atasi pengangguran. Diksi milik trinitas pertama dan kedua ini juga didengungkan dalam sosialisasi pendirian industri bahwa industri itu akan menyerap banyak tenaga kerja dari kampung di mana industri itu dibangun. Diksi ini tidak pernah memikirkan bahwa masyarakat di sekitar lokasi industri itu adalah petani. Juga, tidak pernah dievaluasi secara menyeluruh apakah benar masyarakat di masa tambang dulu bekerja di situ dan hingga kini memiliki kemampuan modal untuk mengembangkan usahanya. Kenyataannya: Ngos pemborong, ngos jodo. Koles proyek, koles ngoeng. (Pemborong pergi, jodo (pasangan hidup: rezeki) juga pergi. Proyek pergi, keinginan (sumber hidup: penghasilan) juga pergi).     

Dan ketiga, PAD meningkat. Sejak industri tambang dibangun hingga menggulungkan tikarnya dari masyarakat, belum ada laporan resmi tentang jumlah pemasukan ke kas daerah yang menyebabkan meningkatnya pendapatan asli daerah (PAD) dan bukti nyata apa dari pemerolehan uang tersebut bagi upaya Pemkab Matim untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Matim. Kenyataannya, diksi milik trinitas pertama dan kedua ini hanya merekayasa suasana: Jauh panggang dari api. Jauh harapan dari fakta. 

Tusuk Balik

Jika masyarakat miskin, tak berdaya secara ekonomi, tanah mereka sudah tidak bisa memberikan hasil yang menghidupi mereka, hanya menghidupi keluarganya dengan menjual kayu, ditanami jambu mentepun hanya sedikit hasilnya, wilayahnya masih terdapat banyak lubang menganga oleh karena ulah tambang sebelumnya, lantas siapa yang salah dan harus bertanggung jawab? Lalu, berapa banyak warga yang menjual tanahnya dan berapa banyak lahan miliknya yang hendak dijual, apa saja isi dari lahannya, dan apakah mereka mempunyai sawah dan hanya lahan kering?

Pertama, ukuran kemiskinan mereka memang nyata tetapi mereka masih bisa hidup. Keadaan mereka, jika dibandingkan dengan masyarakat lainnya, mungkin masih baik bahkan ada yang sama dengan mereka. Tetapi, di tengah kesulitan itu, mereka, misalnya, masih bisa menyelenggarakan acara, menyekolahkan anak-anak mereka dan tetap hidup sampai sekarang.  

Kedua, harapan masyarakat sama: ingin mengubah hidupnya. Tetapi, karena mental bantuan langsung tunai (BLL), dan jenis bantuan lainnya, mereka sangat tergantung kepada pemerintah atau pihak lain, pemberi bantuan. Mereka memiliki tanah tetapi jarang merawat tanahnya agar bisa ditanami tanaman produktif. Masih banyak cara untuk mengubah tanah kering menjadi tanah basah. Namun jika tidak pernah bekerja dan mengharapkan bantuan atau ‘rahmat’ langsung dari Allah sendiri, sangatlah tak mungkin tercapai.  

Ketiga, lubang sisa tambang sebelumnya tak pernah jadi agenda pemerintah untuk mengubahnya. Sebaliknya, keadaan ini menjadi senjata andalan pemerintah untuk meyakinkan investor dan masyarakat sekitarnya bahwa tanah lubang itu tak layak lagi dijadikan lahan pertanian. Padahal, dalam pernyataan ini sebenarnya tersirat kelumpuhan strategi pembangunan pemerintah. Bayangkan, jika sejak tahun 2015-2017 lokasi itu direboisasi atau direklamasi, tentu wilayah itu sudah hijau atau bisa digunakan sampai sekarang. Mungkin ada maksud tertentu untuk membiarkannya menganga atau sebagai alas an kuat untuk meyakinkan investor.

Keempat, yang bersuara keras untuk menjual tanahnya belum tentu tinggal di dua wilayah itu dan mungkin hanya memiliki sebidang tanah. Tapi, nada mereka tinggi sekali menarasikan bahwa semua warga memiliki tanah yang tidak produktif lagi. Lalu mengapa mereka masih hidup sampai sekarang dan menyekolahkan anak-anak mereka serta membangun rumah bagus? Apakah ada masyarakat yang  stunting (busung lapar)?

Itulah sebabnya saya katakan bahwa fakta-fakta ini hendaknya dapat diselami secara cermat. Kesalahan kita ialah mengawinkan fakta kemiskinan atau fakta-fakta lain dari seseorang untuk menarik benang merah bahwa semua seperti itu. Di sisi lain, justru itu menjadi celah bagi para penghubung (kaki tangan trinitas di atas) untuk merayu pemilik lahan dan meyakinkan mereka bahwa di tempat baru, mereka akan hidup jauh lebih makmur dari sekarang. Di tempat baru itu, mereka akan bisa memiliki rumah bagus, mengembangkan usaha baru dan tentu tidak akan menyatakan selamat tinggal kepada profesi petani, yang membuat hidup mereka sengsara selama ini.

Bahkan, hasil perselingkuhan antara trinitas kedua dan ketiga, dan mungkin didukung oleh trinitas 1, ialah lahirnya sekelompok orang yang setia ‘berkantor’ di Luwuk dan Lengko Lolok. Jika ada orang yang patut dicurigai mendatangi warga, kelompok ini akan siap menghadang dan menginterogasi setiap pendatang baru. Kelompok ini menganggap dirinya ‘penjaga kampung’, yang tiap saat selalu berada di tengah masyarakat dan mengamankan mereka dari gangguan orang lain.  

Kelompok ini juga bisa memproduksi berita, menggunakan media sendiri, untuk membenturkan institusi agama dengan Pemkab dan investor. Bahkan, bantuan pihak lain untuk masyarakat, yang datang dari pihak yang tidak sejalan dengan mereka, biar institusi agama sekalipun, dinilai merusak silaturahim yang telah mereka bangun dengan susah payah dan memakan waktu yang sangat lama bersama masyarakat kecintaannya.

Kelompok ini, yang saya namakan ‘kaki tangan’ trinitas, semakin nyaman menjalankan operasinya dan berada bersama masyarakat selama ini, setiap saat, karena mereka berasal dari keluarga terdekat dengan pihak otoritas. Pihak otoritas memfasilitasi suanya dengan sang sumber modal. Maka, memang tidaklah sulit bagi mereka untuk selalu bersama masyarakat di sana.   

Fakta-fakta di atas sebenarnya tidak lain dari upaya mereka sendiri untuk menikam dirinya sendiri atau tikam balik. Mereka lupa bahwa tidak semua warga yang mereka cap miskin, ingin keluar dari kampungnya, atau terbuai dengan impian surgawi mereka. Mereka lupa bahwa keinginan beberapa orang tidak absolut mengubah pandangan hidup orang-orang lain, yang dengan setia mempertahankan harkat dan martabat warisan leluhurnya yang telah menghidupi mereka seama ini.

Menegasi Kritikan

Merasa tersudut, tiba-tiba kaki tangan trinitas 2 dan 3 berkoar-koar dan menuding bahwa sebab musabab dari penghentian sementara izin tambang dan pabrik semen itu atas desakan kelompok masyarakat Manggarai diaspora. Kelompok ini dinilai sebagai bagian dari kelompok yang gagal dalam suksesi pemilihan Bupati dan Wabup Matim tahun 2018 lalu dan sedang bermimpi untuk menjegal kekuasaan saat ini pada pemilihan kepala daerah tiga tahun lagi (tahun 2023). Anggotanya bergerak karena nasi bungkus. Diri mereka seperti orang tua bernafsu yang gunakan Viagra.

Menurut saya, diaspora tidak pernah melupakan ‘kuni agu kalo’-nya, yaitu tanah kelahirannya. Kritikan mereka hendaknya tidak dinilai untuk merusak seluruh aktivitas pembangunan di Matim. Mereka hanya ingin mengoreksi terhadap setiap kebijakan bupati yang bisa merusak kesatuan komunal, alam dan Allah. 

Dengan teori apapun untuk membedahnya, peristiwa tuding-menuding antara kelompok pro dan kontra tambang bukan jawaban dari masalah yang ada. Sebaiknya, masing-masing kubu menjadikan persilatan lidah ini ajang untuk menyatukan persepsi: mengisi kekurangan dan kelemahan masing-masing. Harus pula dengan jiwa satria menerima kenyataan bahwa satu kelompok mungkin bertindak sebagai Apolos yang menanam, yang lain sebagai Paulus yang menyirami dan Allah sendiri yang memberkatinya atau memberinya hidup.

Adagium biblis di atas mungkin menjadi momen yang mampu mengoreksi diri. Bahwa satu sisi mengeritik, sisi lainnya menerimanya dengan lapangan dada. Satu pihak melawan, satu pihak mengakrabinya. Ini satu-satunya sikap kita untuk menghadapi kritikan. Maka, jika merasa diri benar dan didukung pemilik tanah, memiliki kekuatan dan kekuasaan, modal dan daya dukung lainnya, majulah dan bangunlah perusahaan itu di Luwuk dan Lengko Lolok. Jadilah Kafila, yang biar digonggong karena bunyi ban gerobaknya menginjak bebatuan, bukan di jalan aspal, yang jalan terus, tiada peduli gonggongannya. Yang penting, jangan sekali-kali menegasi diaspora sebagai kelompok penganggu, parasit, tukang cari nasi bungkus, otak bebal atau negasi sejenis lain. Juga, jangan terus mengecap mereka sebagai kelompok yang hanya jago berteriak dari jauh dan bukan orang Luwuk dan Lengko Lolok. Hidup ini tidak ada tanpa duri dan onak. Keduanya selalu mengiringi kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran, yang diidam-idamkan. (***)
×
Berita Terbaru Update