-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Trump akan Masukkan Kelompok Antifa sebagai Teroris Seusai Demo Kematian George Floyd

Senin, 01 Juni 2020 | 13:37 WIB Last Updated 2020-06-01T06:44:45Z
Trump Masukkan Kelompok Antifa sebagai Teroris Seusai Demo Kematian George Floyd
Gambar: wartainfo

Amerika Serika (AS) dihantam demonstrasi besar-besaran di 30 kota yang berujung pada kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd. Setelah terjadi kejadian tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan dia akan memasukkan kelompok Antifa (anti-fasis) sebagai teroris. 

Presiden dan beberapa pembantunya, termasuk Jaksa Agung William Barr, menyalahkan kelompok Antifa tanpa disertai bukti yang kuat. 

Kelompok Antifa (anti-fasis) menentang ideologi sayap kanan ekstrem, di mana mereka melawan neo-Nazi atau kelompok supremasi kulit putih dalam setiap aksinya.

Dilansir Al Jazeera Minggu (31/5/2020), Gedung Putih menyebut kelompok itu sebagai "penghasut" karena memimpin protes di sejumlah tempat. "Amerika Serikat akan memasukkan Antifa sebagai organisasi teroris," ujar presiden itu dalam kicauannya di Twitter. 

Dilansir kompas.com, Barr dalam keterangan tertulis menyatakan, aksi organisasi itu dan kelompok lainnya dikategorikan sebagai terorisme domestik. 

Namun, analis maupun pakar hukum menyebut Trump tidak punya kewenangan memasukkan grup domestik sebagai teroris, seperti yang mereka lakukan di luar negeri. 

"Tidak ada dasar hukum saat ini yang menyatakan dengan jelas terkait bisa dimasukannya organisasi domestik sebagai teroris," ulas Mary McCord, mantan pejabat Kementerian Kehakiman. McCord, yang sebelumnya pernah bertugas di pemerintahan Trump, menjelaskan jika keputusan itu dipaksakan, maka bertentangan dengan Amendemen 

Pertama. Amendemen Pertama Konstitusi AS dengan jelas melarang perampasan kebebasan berpendapat, maupun hak bagi setiap orang untuk berkumpul. 

Pakar menekankan bahwa Antifa adalah pergerakan yang cair. Jadi, mereka mempertanyakan bagaimana dasar hukum yang dipakai untuk menangani mereka. 

Hampir 1.400 Orang Seantero AS Ditangkap "Terorisme adalah label inheren politik. Mudah disalahartikan dan disalahgunakan," kata Direktur Proyek Keamanan Nasional ACLU, Hina Shamsi. 

Tidak diketahui apakah Gedung Putih bakal tetap memproses status itu melalui jalur formal, seperti melibatkan banyak lembaga di AS. 

Jika iya, maka konsekuensinya adalah mereka bakal menghadapi gugatan hukum. Meski begitu, baik sang presiden maupun politisi Republikan pernah membuat seruan lain sebelumnya. 

Pemerintah lokal umumnya menyalahkan "kelompok luar" atas aksi yang berujung kerusuhan dan penjarahan, yang saat ini memasuki hari kelima. Mereka menerangkan "penghasut yang terorganisasi" membanjiri kota tidak untuk menyuarakan keadilan, namun menciptakan kericuhan. 

Hanya saja, baik otoritas negara bagian maupun pusat memberikan pemahaman berbeda mengenai siapa yang dimaksud "kelompok luar" itu. 

Ada yang menyebut ekstremis sayap kiri, nasionalis kulit putih, bahkan ada yang meyakini aksi ini merupakan ulah kartel narkoba. 

Demonstrasi itu terjadi setelah George Floyd tewas ketika ditangkap karena diduga menggunakan uang palsu di Minneapolis, Senin (25/5/2020). 

Salah satu polisi, Derek Chauvin, menjadi sorotan karena dia terekam menindih leher Floyd dengan lutut selama hampir sembilan menit. Padahal, saat itu Floyd sudah mengerang agar Chauvin tak menindihnya karena dia mengaku tak bisa bernapas, sebelum kemudian tidak sadar. 

Sumber: Kompas.com
×
Berita Terbaru Update