-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Uang Tidak Berbau (Sil Joni)

Sabtu, 13 Juni 2020 | 10:37 WIB Last Updated 2020-06-13T03:37:08Z
Uang Tidak Berbau (Sil Joni)
Uang Tidak Berbau (Sil Joni)

Oleh: Sil Joni*

Siapa yang tidak butuh uang? Hidup tanpa uang, tentu mendatangkan bencana demi bencana dalam hidup seseorang. Hampir tidak ada manusia yang 'bisa hidup tenang dan damai' tanpa menggenggam uang.

Makna kehidupan dan kemanusiaan kerap ditakar dari sisi finansial semata. Status dan prestise seseorang diukur dari seberapa banyak tumpukan modal yang dipunyainya. Golongan yang tak berpunya (the poor) tentu semakin termarginalisasi dalam arus pengkultusan terhadap materi (uang).

Kita rela 'berbuat apa saja' demi mendapatkan uang. Terkadang, gegara tak tahan mengendalikan nafsu mengakumulasi uang, kita terjerembab dalam lembah pekerjaan yang nista. Kreativitas iblis dirayakan dengan antusias meski menabrak rambu moralitas dan religiusitas.

Bahkan, demi uang kita 'tega memeras dan mengeksploitasi' alam dan tenaga kaum miskin. Kita tidak pernah memikirkan efek negatif dari serangkaian kebijakan dan aktivitas yang nyata-nyata merusak alam dan mencederai martabat manusia. Selain itu, kita sering mendengar ada yang dengan enteng membunuh sesama demi mendapat segepok uang. Ada semacam kebanggaan semu bila dicap sebagai 'pembunuh bayaran'. Demi uang, membunuh, merampok, mencuri, dan serangkaian tindakan sadis lainnya, diperlihatkan secara vulgar.

Tegasnya, pesona uang jauh lebih memikat dari standar nilai apapun di dunia ini. Ada semcam pergeseran persepsi soal eksistensi uang dewasa ini. Uang tidak lagi menjadi 'sarana' menggapai kebahagiaan, tetapi uang sudah bermetamorfosis menjadi 'tujuan yang mesti disembah'.

Uang adalah 'dewa' dan idola manusia. Tidak peduli apakah "tampang" sang dewa itu kumal, kotor, kusam dan busuk, manusia tetap menyembahnya dengan hikmat dan nikmat. 

Panggung politik kita pun tak luput dari fenomen penyembahan  terhadap sang idola palsu itu. Politisi mana yang tidak menggunakan uang dan mengincar uang dalam seluruh alur dan dinamika perjuangan politiknya? Apa pun retorika yang terucap di depan panggung, satu yang pasti mereka adalah para pemburu dan penyembah sang dewa duniawi itu.

Skenario politik bisa terwujud jika dan hanya jika ditopang oleh "kekuatan uang" itu. Perjuangan dan beraktivitas dalam dunia politik tanpa bernafsu mengejar uang, tentu sebagai "kegilaan" yang tiada duanya. Bisa dipastikan bahwa tidak ada politisi atau penguasa yang tidak "bermain dan bermesrahan" dengan kekasih uang itu.

Saya kira daya pikat dari uang, tidak hanya menyasar ke tubuh para elite, tetapi sudah merasuk ke sum-sum hati manusia pada umumnya. Kita semua coba mengerahkan seluruh daya dan kreativitas untuk mendapatkan uang. Kebahagiaan dan makna hidup dipatok oleh seberapa banyak kita mengumpulkan rupiah setiap hari.

Karena itu, aneka diskusi politik yang melengking ke ruang publik hari-hari ini, sebenarnya bagian dari "siasat" untuk memburu uang dalam arena politik. Target yang dikejar adalah akumulasi uang.

Pilihan politik kita, dalam banyak kasus, sering dilatari dan didikte oleh 'kekuasaan uang' itu. Hati nurani kian terdepak ketika mendapat gempuran yang agresif dari politisi yang 'berdompet tebal'. Kita merasa berutang budi terhadap kandidat yang telah memberi uang atau materi lainnya saat kontestasi politik sedang bergulir. Martabat kita 'diikat dan disandera' oleh uang pemberian para politisi hipokrit itu.

Saya kira, demokrasi kita sulit beranjak ke level yang lebih bermutu, ketika uang dipakai sebagai senjata untuk merebut dukungan politik dari publik-konstituen. Demokrasi telah dibajak oleh kelompok kapitalis dan oligarkis yang berselingkuh dengan penguasa dalam mengejar ambisi mencaplok sumber daya ekonomi-politik untuk memfasilitasi interes yang bersifat parsial.

Fakta bahwa uang itu tidak berbau, ternyata memicu nafsu liar para politisi pemburu tante untuk 'membajak mempreteli' praksis demokratisasi saat ini. Oleh karena itu, publik mesti mengaktifkan 'intuisi politik' dalam mengendus bau tengik dari aliran uang politisi di musim kontestasi saat ini. Sebetulnya, aroma busuk politik partisan dan pragmatis, begitu menyengat ketika para calon dan timnya 'mebagi-bagi' barang dan uang kepada masyarakat. Jangan terkecoh dengan 'tipu saya' politik semacam itu.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update