-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Catatan atas Puisi Enigma, Tuhan dan Tuan dalam Buku Antologi Puisi Enigma Karya Ignas N. Hayon*

Sabtu, 27 Juni 2020 | 21:26 WIB Last Updated 2020-06-27T14:27:56Z
Catatan atas Puisi Enigma, Tuhan dan Tuan dalam Buku Antologi Puisi Enigma Karya Ignas N. Hayon*

Ulasan Buku

Judul Buku  : Enigma
Penulis Buku : Ignas N. Hayon
ISBN : 978-602-53944-3-0
Penerbit        : Zuba Publisher
Tebal Buku       : 92 halaman
Cetakan     : Pertama, Januari 2020

Menemukan “Kemungkinan” dalam Sebuah Ziarah Panjang tentang Kata: Catatan atas Puisi Enigma, Tuhan dan Tuan dalam Buku Antologi Puisi Enigma Karya Ignas N. Hayon*
(Oleh: Chan Setu)

Kemungkinan itu selalu berpintu.
--- Agus Noor ----

Mengenal Penulis dalam Barisan Sajak  <Puisi>

Agus Noor dalam cerpennya yang berjudul Kunang-Kunang dalam Bir dengan lihai mengisahkan bahwa setiap manusia selalu dihadapkan dengan pintu. Pintu menjadi sebuah kemungkinan yang perlu diambil dan diisi oleh setiap manusia. Terlepas bahwa manusia memiliki kebebasan secara kodrat dalam menjawabi panggilan hidupnya. Memilih dan tidak memilih keduanya juga merupakan sebuah pilihan atas dasar kehendak bebas dari setiap individu. Demikian juga dengan menulis. Menulis menjadi sebuah pilihan yang tidak dipaksa untuk memilih. Setiap individu memiliki kehendaknya untuk digunakan secara baik dalam budi dan nuraninya.

Menulis terkadang menjadi kata yang lazim dikonsumsi oleh manusia sebagai sebuah pekerjaan. Jika menulis dikaitkan dengan pekerjaan tentu prioritas utama dari sebuah pekerjaan adalah upah. Namun hampir jarang bagi setiap kita untuk mempercayai jika menulis itu sebagai sebuah selingan atau dengan bahasa gaulnya iseng-iseng saja. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hampir jarang kita menemukan individu-indivudu yang memiliki minat atau hobby dalam hal menulis. Mungkin saja, yang lebih sering kita temukan ditengah peradaban dunia saat ini ialah kesibukkan kaum milenial dalam dunia gadget, smartphone, dan lain sebagainya bahkan lebih memperlihatkan euforia game mobil legend, free fire dan berbagai situs/aplikasi game lainnya. Menulis menjadi asing dalam dunia kaum milenial. Dikesampingan seperti meninggalkan ia terbaring tapi susah untuk menjaganya tetap terlelap namun tetap ingin agar ia terlelap. Mungkin demikian jika saya masukkan dalam frasa puitis, yang kemudian lahirlah sebuah kata “enigma.”

“Rabun Membaca, Lumpuh Menulis”, demikianlah pepatah lama yang sempat diceritakan oleh guru Bahasa Indonesia saya ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar, dauu. Menulis saja omong kosong belaka jika tidak diimbangi dengan membaca. Seorang individu bisa menulis karena dilatarbelakangi dengan semangat membaca. Membaca menjadi satu sarana bagi seseorang untuk menulis sekaligus menjadi satu-satunya alasan bagi setiap orang untuk menulis. “membaca” tidak saja terpaku pada buku dengan berbagai jenisnya. Realitas kita saat ini seringkali melihat kata membaca dalam konteks dunia buku dengan berbagai jenis genrenya. Namun lebih jauh sebenarnya membaca menghantar kita kepada segala hal yang menjadikan kita bingung dalam binalnya mata kita. Artinya bahwa ketika kita bingung dengan apa yang tampak dalam penglihatan kita sebenarnya saat itu kita sedang berusaha untuk membaca apa yang bisa kita pahami dengan benda atau sejenisnya yang tampak itu sehingga dia membuat kita binggung.

Menemukan “Kemungkinan” dalam Sebuah Ziarah Panjang tentang Kata: Catatan atas Puisi Enigma, Tuhan dan Tuan dalam Buku Antologi Puisi Enigma Karya Ignas N. Hayon
Enigma: Keberadaan Otonom tentang Ignas sendiri.

Ignas N. Hayon bisa saja menjadi iseng-iseng saja ketika melahirkan karya perdananya “Enigma” ini. Apalagi ketika dia melucuti satu per satu huruf dalam kalimat-kalimat sederhana dengan frasa-frasa tersirat maupun tersurat yang menjadikan “ia” sebagai sebuah sajak dan puisi yang tidak bertele-tele namun pasti. Dalam hal ini, sebenarnya Ignas N. Hayon sedang menunjukkan bahwa dirinya tidak suka berbelit-belit dalam hal-hal sepele sekalipun itu tentang “jatuh cinta” hingga menentukan sebuah pilihan atas panggilan hidupnya. Sebagai seorang mahasiswa Filsafat Ignas N. Hayon menunjukkan keingintahuannya tentang realitas hidupnya. Bukankah filsafat memberi eksistensinya tentang kebingungan yang akhirnya memaksa setiap individu untuk terus mencari tahu dan mengalih apa saja yang menjadikannya bingung? Meskipun secara harafiah filsafat berarti cinta atas kebijaksanaan. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa sesungguhnya Ignas N. Hayon telah menunjukkan bahwa ia tidak suka untuk bertele-tele dalam segala hal.

Enigma dalam judul besar Antologi perdananya ini dan sekaligus menjadi judul salah satu puisi di dalam bukunya itu, sebenarnya ingin menggambarkan diri Ignas sendiri. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kata enigma merujuk pada sebuah pertanyaan, teka-teki, tidak jelas sehingga secara gamblang bisa disimpulkan bahwa enigma merupakan suata frasa yang dapat menimbulkal kebingungan bagi siapa saja. Namun dalam hal ini saya lebih suka menggunakan tafsiran bebasnya mengenai enigma yang berarti “kemungkinan.”
Sajak Tuhan: Sebuah Diolog yang Sunyi

Karel Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan telah menjelaskan secara otonom pemahaman akan siapa itu Tuhan? Di mana dalam penjelasannya Karrel Amstrong mencoba menilik dari sudut pandang sejarah bangsa Yahudi yang dikisahkan dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Tuhan? <Yahwe> dan <Elohim>. Ketika dua sebutan akan Tuhan dipaparkan dalam konsep mengenai sejarah Tuhan, barangkali Karrel Amstrong sedang mencoba mengatakan bahwa bahasa seringkali memberi simbol tersendiri untuk satu maksud dan tujuan. Bahkan, Karrel Amstrong di dalam bukunya itu sempat menunjukkan sebuah enigma pemikiran di dalam dirinya sendiri yang lebih merujuk kepada para pembaca mengenai “Apakah benar Tuhan yang disembahkan oleh Abraham sama dengan Tuhan yang disembah oleh Yakobus?” pernyataan ini memberikan gambaran kebingungan atas dirinya sendiri. Di sini, Karrel Amstrong sedang mengatakan bahwa Tuhan itu satu dan esa. Dalam ke-esa-annya itu Tuhan menjadi satu simbol dalam gaya bahasa tutur yang bisa memudahkan orang Yahudi dalam Kisah Perjanjian Lama untuk memahaminya berdasarkan konteks dan situasi lingkungan masyarakatnya. Mungkin soal kultur dan kebiasaan untuk mengeja sebutan akan Tuhan itu sendiri.

Dalam bukunya itu Karrel Amstrong telah mempertegaskan bahwa Tuhan adalah Esa, dengan demikian keesaannya menunjukkan bahwa ia ada secara nyata dalam konteks manusia seperti biasanya namun di sisi lain ke-esa-annya mau merujuk bahwa ia adalah semu dan patutlah jika ditanyakan Apakah Tuhan itu ada? Untuk menjawabi pernyataan tersebut Ignas N. Hayon telah membuka dalih nalar imajinatifnya sendiri tentang Tuhan dalam Puisinya yang berjudul Tuhan: Ah, itu ya.

Antara pertanyaan dan jawaban serta pernyataan seolah sedang menjadi bias di dalam sajak tersebut. Ah, itu ya. Ada dua tafsiran saya atas sajak kecil Ignas ini. Pertama, Ignas seoalah membuka sebuah percakapan batin antara dirinya sendiri dengan Tuhan. Dialog ini menjadikan dua orang yang saling berbgai atau kata gaulnya saling curhat. Ingat bukan gosip! Sebuah dialog antara percakapan-percakapan seorang anak labil yang ingin didengarkan orang lain, dalam hal ini Tuhan. Tuhan memberi sebuah panggilan yang perlu dijalani tidak sekadar dijawabi oleh Ignas. Sebuah pergolakkan batin yang tidak saja dangkal tapi pergolakkan batin yang mengarah pada sebuah dinamika panggilan. Benarlah jika Yesus pernah bersabda “Banyak yang dipanggil sedikitlah yang dipilih.” Barangkali, Ignas sedang menceritakan dinamikan panggilan hidupnya. Sekadar menerka Ignas mungki sedang tidak baik-baik saja. Mencari Tuhan, dan mendengarkan nasehat dalam batin bisa menjadi sarana untuk menenangkan akal budi dan hati nurani. Sehingga, Ignas bisa merasakan bahwa Ah, itu ya. Kedua, Ignas memberi jarak di dalam bahasa isyaratnya ini Ah, itu ya. Isyarat bahasa ini menjadi bagian lain dari panggilan hidup yang sedang dijalani oleh Ignas. Sebagai seorang terpanggil Ignas ingin mencari kepastian di dalam panggilannya. Kita tidak tahu, barangkali Ignas diam sambil berteriak, sebagaimana pepatah latin yang berbunyi demikian Cum Tacemus, Clamamus. Di sinilah seringkali hidup menjadi begitu dilematis. Akal budi cenderung berdiskursus dalam pergolakan batin di dalam tubuh mungil meminjam ungkapan Yeremia “Tuhan, sesungguhnya aku ini masih kecil dan polos.”

Jarak bagi Ignas mungkin sebuah dialog antara ayah dan anak atau antara kakak dan adik. Namun jarak yang saya maksudkan di sini bukanlah jarak yang seringkali dihafal dan dihalalkan dalam komunikasi dan menjadilin hubungan sebagaimana yang menjadi lebih tren saat ini Long Distances Relationship (LDR), khusus untuk pada remaja yang sedang atau yang akan jatuh cinta. Lebih jauh yang ingin saya tafsirkan ialah jarak dalam konteks kenikmatan. Ignas mencoba menikmati dinamikannya namun jarak antara tubuh dan pikirannya seperti memberi ruang kosong untuk menanyakan ah, itu ya. Bukan terhadap siapa-siapa (orang lain) namun kepada dirinya sendiri. Ruang itu kosong, membentuk sebuah kediaman lain yang mengarah pada jalan pintas yang lebih dangkal akhirnya jatuh dan jatuh berulang kali. Demikianlah seringkali jatuh dan bangun menjadi dilematis yang mengharmonikan kehidupan setiap manusia. Kata orang, jika hidup hanya baik-baik saja, bukanlah sebuah kenikmatan, hidup yang begitu nikmat ialah ia harus makan garam dengan jatuh – bangunya reliatas hidup yang dijalaninya.

Tuan: Usaha Menyadarkan Kebiasaan

Ignas mencoba mengesampingkan kebingungan dengan merawat lupa. Ignas lupa pada tempat tidur. Ia lupa bahwa dipojok kiri atau kanan kamar tidurnya ada mata yang kelam menatap rindu. Ignas lupa, bahwa hidupnya sedang dispionase oleh lupa. Ia ingin merawat lupa namun ia gagal merawat kenangan. Mungkin saja demikian jika dibahasakan lebih panjang andai kata Ignas sendiri menyetujuinya. Ketika percakapan ia dan Tuhan berakhir di halaman ke-36 buku Antologi puisinya itu. ignas kembali membuka sebuah ingatan akan lupa memanggil atau lupa menjawabi panggilan Allah. Di halaman 89, Ignas meluangkan waktu untuk menyadarkan dirinya sendiri dengan merawat lupa sepanjang harinya. Bukankah, akal budi, tuan atas diri kita sendiri? Mengutip pendapat F. Budi Hardiman dalam buku Humanisme dan Sesudahnya ia mengatakan bahwa hukum alam tidak lain adalah hukum akan budi. Dengan demikian, karma akan lupa adalah usaha kita untuk mengamininya dalam akal budi yang diimbangi dengan hati nurani untuk merasakannya. Sehingga tidak heran jika dalam dunia etika praktis (prudential) sebagaimana dijelaskan oleh K. Bertens dalam buku Etika Revisi terbarunya bahwa akal budi tidak lain adalah sebuah kesadaran yang mengarahkan setiap individu pada kebebasan dan tanggungjawabnya (dalam hal ini berkaitan dengan etika dan moral).
Halaman ke-89 Ignas mengembalikan kesadaran akan usahanya merawat lupa dengan demikian usahanya gagal untuk merawat lupa dan ia berhasil merawat kenangan. Itu artinya ia mencintai kenangan yang tiap hari ia semaikan dalam ruang dan waktu mungkin dalam kisaran waktu 15-30 menit untuk berdiam di dalam sebuah diam dan keheningan yang menamakan dirinya sunyi. Puisi Tuan di halaman 89 itu menjadikan Ignas lebih matang dalam dialognya.

Ketika dialognya berakhir dalam jawaban yang membinggungkan oleh karena ketiadaan pertanyaan atau percakapan yang mendahuluinya ah, itu ya, akhirnya ia mencoba mengenang itu dengan ada yang lupa dikamarmu/saat doa tertidur di ranjang tamu//. Sajak yang berdiri dalam dua baris yang begitu otonom ini seolah merawat lupa namun mengenang kenangan bahwa ada tamu yang menyelinap masuk. Dalam sajak pertamanya bisa saya katakana bahwa Ignas telah gagal meyakinkan orang lain (mu) – yang bukan lain adalah dirinya sendiri. Kegagalan menyakinkan bahwa ia lupa untuk berjaga-jaga dalam lelap. Ia lupa untuk terjaga sebelum terlelap. Mungkin kita bertanya ia lupa apa atau siapa? Dan bagaimana ia bisa lupa?.

Pertama, ia lupa tentang dirinya sendiri. Kebiasaan dan rutinitasnya bisa menjadi lupa yang ia lakukan sewaktu-waktu. Sehingga kebiasaanya itu tertinggal diam dalam kamarnya. Kedua, dirinya sendiri yang menjadi penyebab atas lupa itu. ia lebih egois dibandingkan hati atau malam-malam sebelumnya. Sehingga egoisnya itu mengarahkan dirinya kepada kejenuhan dan kebosanan. Ketiga, karena ia telah dipenuhi oleh sesuatu. “sesuatu” di sini bisa jadi seseorang (objek – subjek) atau benda (handphone, laptop dan sebagainya). Untuk menjawabinya, Ignas berusaha memastikan bahwa ia lupa bahwa dirinya terlelap di atas ranjang tamu. Sebagaimana dalam baris keduanya. Oleh karena itu pertanyaan lebih lanjus benarkah yang dilupakan Ignas adalah dirinya sendiri atau doa? Atau jangan ia lupa cara berdoanya ketika ia berada di ranjang tamu? Di sini sangat terlihat ambigu dari si pembaca, termasuk saya sendiri. Mungkin Ignas suka membingungkan para pembaca dan dalam realitas ia barangkali memiliki sifat yang suka membingungkan orang lain, mungkin saja perkiraan saya. Namun, saya yakin bahwa yang Ignas lupa ialah kebiasaannya saja. Kebiasaanya mungkin ialah berdoa dan rutinitasnya ialah menjaga lelap di sudut kamarnya sebelum benar-benar bermimpi. Ini yang bisa saya namankan, kecanduan dalam “sesuatu.” “sesuatu” yang merupakan kenikmatan atas hidup. Bisa jadi Ignas sedang betamu di dalam chattinggan, gami (free fire, mobile legend), buku-buku bacaan, dan lain sebagainya sehingga ia lebih mudah tertinggal dalam kesibukkan semu dan akhirnya lupa. Lupa itulah yang kadang fatal. Bisa untuk lupa asal kita lupa kenangan saat kita dikhianati oleh seseorang sehingga kita berani untuk move on. Ah, sepertinya sajak ini bisa masuk dalam kategori tafsiran orang yang sedang jatuh cinta yang endingnya adalah “ngompol” di atas tempat tidurnya sendiri.

Semoga Ignas <kita> Baik-Baik Saja

Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa Ignas sedang mencari “kemungkinan.” “Kemungkinan” yang maksudkan adalah sebuah kepastiaan dalam ziarah panjang tentang kata. Ignas dalam hari-harinya selalu bergumul dalam pergolakan batin yang mendalam. Sebagai pribadi terpanggil dalam hal seorang calon religious biarawan Serikat Sabda Allah, Ignas sedang berusaha melawan kenikmatan atas dirinya sendiri. Kenikmatan secara gamblang adalah ungkapan perasaan atas penglihatan atau pencecapan akan sesuatu yang mengairahkan dan begitu terpesona sehingga saya begitu menikmatinya. Namun ijinkan saya mengartikan kenikatan sebagai sebuah proses membaca kata. Dan berkenankan saya untuk mengartikulasikan “kata” dalam pemahaman akan konteks tentang tulisan ini sebagai panggilan hidup yang dijalaninya. Oleh karena itu, “kemungkinan” adalah sebuah penyangkalan diri atas usaha meninggalkan kenikmatan semu dengan mencari kenikmatan batiniah. Bukankah pada dasarnya setiap kita berusaha untuk mencari kebahagiaan atas hidupnya? Sehingga, dalam kesimpulan saya ini, apakah Ignas <kita> baik-baik saja? Semoga saja!

Nb
1. Ignas N. Hayon adalah nama pena dari Ignasius Nasu Hayon. Lahir pada tanggal 15 Januari 1993 di Ritaebang, Solor Barat. Beliau juga adalah seorang calon imam religius biarawan Serikat Sabda Allah (SVD). Saat ini beliau akan menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP)-nya di Tambolaka – Sumba Barat Daya. Ignas begitu orang biasa menyapanya, sangat menyukai sastra khususnya puisi. Beberapa karya-karyanya juga pernah ditayangkan di beberapa media kabar baik cetak maupun online. Dan ENIGMA merupakan buku Antologi Puisi pertamanya yang menjadi karya ter-sulung dalam usaha mengekalkan segala perasaan akan perjalanan panggilan hidupnya. Saat ini juga ia sedang menyiapkan buku keduanya yang berjudul ARUMI.

Tentang Penulis
Chan Setu merupakan mahasiswa STFK-Ledalero. Saat ini menetap di wisma Arnoldus Nitapelat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Sangat menyukai kopi pahit. Beliau adalah penulis buku Antologi Puisi dan Cerpen ”Embun Pada Sepasang Mata Lebam”, dan menjadi karya perdananya. 
×
Berita Terbaru Update