-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Umat Ndiwar Tidak Menodai Kekudusan Gereja ((Tanggapan Atas Tulisan Saudara Jondry Siki, CMF)

Senin, 15 Juni 2020 | 08:16 WIB Last Updated 2020-06-15T01:19:21Z
Umat Ndiwar Tidak Menodai Kekudusan Gereja ((Tanggapan Atas Tulisan Saudara Jondry Siki, CMF)
Umat Ndiwar Tidak Menodai Kekudusan Gereja (Tanggapan Atas Tulisan Saudara Jondry Siki, CMF)

Oleh: Riko Raden
Setiap umat Katolik pasti senang apabila di daerahnya akan dibangun sebuah gedung gereja. Hal ini dirasakan oleh umat stasi Ndiwar, Lelak Manggarai. Seluruh umat merasa senang karena mereka akan memiliki sebuah bangunan gereja sebagai tempat beribadat. 

Selama ini mereka sangat merindukan adanya rumah Tuhan (Gereja) untuk ibadat dan Perayaan Ekaristi. Selama bertahun-tahun mereka mengadakan misa dan ibadat hari minggu di sebuah gedung sekolah atau di rumah adat. Saat Natal dan Paskah tiba, mereka harus pergi ke kampung tetangga yang sudah memiliki gereja, yang berjarak kurang lebih 2 km, melewati bukit kecil.

Dalam situasi seperti itu, umat di stasi Ndiwar telah berupaya duduk bersama mencari upaya untuk membangun gereja. Beberapa waktu yang lalu, seluruh diskusi umat bertahun-tahun mencapai titik puncak.  Dengan bantuan rahmat Tuhan dan adanya semangat dari umat, maka mereka akhirnya bisa perlahan-lahan membangun gedung gereja. Hingga saat ini, bangunan gereja tersebut masih dalam proses pengerjaannya. 

Namun, beberapa bulan terakhir proses pembangunan gereja tersebut belum bisa dilanjutkan. Ada dua alasan utama yaitu wabah pandemi virus corona. Para tukang memilih untuk berhenti sejenak dari proses pengerjaan sampai pandemic ini benar-benar pulih. Selain itu, ada alasan yang lebih kuat yaitu keterbatasan uang. Kita harus mengakui bahwa membangun gedung gereja membutuhkan uang yang banyak. Pandemi covid-19 melumpuhan pelbagai sector kehidupan masyarakat. Hal berimbas pada kurangnya dana sumbangan dari umat untuk melanjutkan proses pembangunan gedung Gereja. 
Karenanya, gedung Gereja ini masih dalam taraf-taraf awal pengerjaannya, dan belum punya bentuk yang memadai sebagaimana layaknya tempat ibadat. Gedung ini masih dalam proses pembangunan awal, ditambah atap yang sudah rampung. Gedung tersebut belum diberkati dan belum disimpan barang kudus seperti Tabernakel dan Altar. Di tengah kendala proses pembangunan tersebut, mereka menggunakan gedung ini untuk sarana olahraga seperti bermain bulu tangkis. 

Namun, penggunaan gedung ini untuk olahraga juga punya alasannya sendiri, berhubungan dengan Gereja juga. Ada bagian tertentu dari jasa penggunaan gedung ini, yang dibayar untuk melanjutkan pembangunan gedung. Walau tidak banyak, bagaimanapun tetap jadi upaya umat di tengah pelbagai kekurangan yang ada. 

Umat di Ndiwar tahu bahwa segala benda rohani yang dipakai untuk berdoa masih kurang sakral kalau belum mendapatkan berkat dari seorang pastor. Fungsi dari pemberkataan itu adalah kita memperoleh buah-buah rohani dari benda atau barang yang diberkati sesuai apa yang diucapkan pada waktu pemberkataan. Besar kecilnya barang atau benda itu bukan menjadi ukuran, bukan menyangkut kualitas tapi nilai rohaninya yaitu berkat. 

Begitupun kalau membangun gedung gereja. Selama gedung itu belum diberkati, maka tempat itu tentu belum punya makna rohani signifikan di dalamnya. Sama halnya, jika selama ini umat stasi Ndiwar menggunakan sekolah untuk berdoa, namun tetap sekolah kemudian digunakan untuk hal-hal lain, karena tidak ada tabernakel di dalamnya, dan sekolah belum ditahbiskan atau diberkati untuk jadi rumah ibadat.

Akan tetapi, apabila sudah diberkati Uskup, maka ia sudah resmi menjadi gereja. Di sini kita bisa memahami bahwa setiap gedung ibadat yang telah ditahbiskan adalah tempat kudus, apalagi terdapat tabernakel yang berisi Tubuh Kristus di dalamnya. Untuk saat ini, proses pembangunan gereja di Ndiwar masih seperti gedung kosong.

Kekeliruan Jondry Siki

Menulis gagasan di media massa merupakan sebuah proses kreatif, namun juga butuh tanggung jawab dan pertimbangan konkret yang serius. Ide-ide dan niat boleh baik, namun saat menilai situasi konkret, maka mesti datanya harus benar dan adil. Perlu diingatkan bahwa menulis di media massa bukan hanya menunangkan ide begitu saja  tetapi perlu adanya fakta atau kebenaran. Kesanggupan mengaplikasi fakta dengan tepat, akan memberikan warna yang khas pada setiap situasi.

Dalam konteks ini, Jondry Siki adalah seorang penulis yang baik. Sebagai kebebasan berpikir dan berpendapat, gagasan Jondry yang dimuat dalam media patut diapresiasi.  Dan pada 08 Juni 2020, di media ini, dia sempat menulis sebuah artikel dengan judul “Kita Belajar Lagi Dari Gereja Ndiwar”, dengan ulasan  yang dibangun dengan baik dan terstruktur. 

Namun, ada beberapa kalimat yang saya petik dari artikel tersebut, yang saya rasa berlebihan dan tidak adil untuk umat di Ndiwar. Pertama, pada paragraf pertama, dia mengatakan bahwa Kita belajar dari Gereja Ndiwar. Kejadian memalukan dan mengelirukan yang terjadi di Gereja Ndiwar adalah satu contoh kasus ketidaktahuan umat akan arti Tubuh Mistik Kristus. 

Kedua, dalam pada paragraf keempat, terdapat pandangannya mengenai Melanggar Amanat Tuhan. Kita belajar dari Gereja Ndiwar. Pemakaian gedung ibadah untuk berolahraga adalah penodaan terhadap amanat Tuhan. Kejadian itu menunjukkan betapa masih banyak penyamun yang berkeliaran di dalam Gereja. 

Ketiga, pada paragraf keenam, tindakan ini dianggap melawan Allah. Peristiwa yang terjadi dalam gedung Gereja Ndiwar adalah suatu tindakan melawan Allah. Apalagi dalam Gereja ada altar, salib dan Tabernakel. 

Keempat, terdapat pada paragraf ketujuh, kasus yang terjadi pada minggu 7 Juni 2020 di Gereja Ndiwar adalah cerita tentang ketidaktahuan orang akan tanda dari nama Gereja. Gereja adalah tanda untuk umat manusia berkumpul dan memuji Allah. 

Hemat saya, apa yang ditulis oleh Jondry Siki di atas tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di stasi Ndiwar. Pertama, tulisan Jondry menghadirkan kesan seakan-akan umat di Ndiwar mengalihfungsikan gereja sebagai sarana olahraga. Namun, tentu umat di sana tahu bahwa gereja itu tempat kudus. Mereka bukan umat yang bodoh dan ateis yang tidak tahu makna dan fungsi gereja itu sendiri. Namun, mereka juga tahu lebih baik bahwa pengerjaannya tersebut masih lama, dan jika sekurang-kurangnya tempat itu sudah digunakan sebagai tempat berdoa, maka mereka akan memperlakukannya sebagai tempat doa pula. 

Menurut Kitab Hukum Kanonik Nomor 1217, Gereja selekas mungkin dikuduskan atau sekurang-kurangnya diberkati dengan mengindahkan undang-undang liturgi suci apabila pembangunan Gereja sudah selesai dengan semestinya. Pemberkatan Gereja tersebut dibuat dalam upacara meriah.  Melihat Hukum Kanonik ini, saya boleh mengatakan bahwa “gedung” di Ndiwar belum layak untuk diberkati oleh bapak Uskup untuk dijadikan sebagai gereja karena proses pembangunannya masih lama. Umat masih mencari dana dan berusaha untuk terus berjuang membangun gereja tersebut. Kita mengartikan Hukum Kanonik di atas apabila “gedung” yang akan menjadi gereja nanti bangunannya sudah selesai dan perlengkapan rohani di dalamnya sudah ada.  Kemudian baru ditahbiskan atau diberkati oleh bapak Uskup.

Juga tidak ada hubungannya dengan konsep “Tubuh Mistik Kristus”. Tubuh mistik Kristus itu konsep untuk Gereja sebagai persekutuan “jiwa-jiwa umat beriman” yang berziarah menuju rumah Bapa. Kita hanya bicara tentang “gereja” sebagai sebuah gedung, yang proses pembangunannya masih di taraf awal, yang digunakan untuk fungsi lain. Tidak ada hubungannya dengan ide besar pencemaran (G)ereja sebagai “tubuh mistik Kristus”. Klaim yang sangat berlebihan dan di luar konteks. 

Kedua, pernyataan bahwa kejadian itu menunjukkan betapa masih banyak penyamun yang berkeliaran di dalam Gereja kelihatan hebat dan gagah berani, namun menjadi penghakiman dan tuduhan yang berlebihan dan tampak kedengaran arogan. Gereja butuh calon gembala yang menganyomi, bukan para jaksa penuntut umum atau hakim yang menilai dan menghakimi kasus tertentu dengan semangat algojo.   

Ketiga, saudara Jondri menyebut bahwa tindakan ini melawan Allah, apalagi dalam Gereja ada altar, salib dan Tabernakel. Dalam arti ini pasti Jondri adalah korban hoaks. Ia tidak tahu bahwa tidak ada salib apalagi tabernakel di sana, karena masih dalam proses pengerjaan. Namun, sayangnya ia merasa terlalu yakin dan pasti, bahkan menghakimi orang lain di tengah fakta tidak ia ketahui.  
  
Keempat, mengatakan bahwa gereja adalah tempat umat berkumpul dan berdoa itu benar. Namun mengatakan umat Ndiwar tidak tahu fungsi Gereja tentu salah. Umat di stasi Ndiwar bukan orang ateis atau bodoh, namun saudara Jondri telah menghakimi mereka, tanpa paham konteksnya.  

Kesadaran Umat

Umat di Ndiwar tahu bahwa gedung Gereja tempat kudus. Saya tidak ragukan intuisi umat tentang kekudusan sebuah tempat, apalagi Gereja. Jika gedung Gereja itu nanti sudah rampung, atau sekurang-kurangnya sudah layak untuk digunakan untuk kegiatan rohani, maka umat Ndiwar pasti tidak akan menggunakannya untuk fungsi-fungsi yang lain.

Pada hemat saya, maksud Saudara Jondri Siki mungkin benar, bahwa orang harus menghormati tempat kudus, namun konteks kasus konkretnya tidak benar dan tidak adil untuk masyarakat Ndiwar. Bahwa mencemari sebuah tempat rohani tentu buruk, dan masyarakat Ndiwar tentu sadari ini, sebagaimana semua umat beriman. Namun, menuduh bahwa umat Ndiwar dalam kasus ini telah mencemari tempat rohani karena menggunakan sebuah gedung yang direncanakan sebagai gedung gereja, kiranya sikap yang berlebihan, dan tidak adil untuk umat Ndiwar. Itu sama sajanya menuduh seseorang mencemari tubuh Kristus, hanya karena ia menjatuhkan roti tak beragi yang belum diberkati dan dikonsekrir. 

Di sini saya sama sekali tidak bermaksud untuk menganjurkan umat Ndiwar untuk meneruskan atau tidak meneruskan aktivitas lain mereka sampai pembangunan selesai. Jika umat ingin tempat itu dipakai sementara sebagai tempat pertemuan seperti fungsi balai desa, atau ada yang anjurkan tempat itu jadi seperti fungi Posyandu, maka tergantung kesepakatan umat di sana tentukan. Atau kalau ada keberatan dari umat lain, dan ada sebagian besar umat yang merasa bahwa tempat itu tidak perlu dijadikan tempat dengan fungsi lain karena bagaimanapun tempat itu nanti jadi tempat ibadat, maka tergantung kesepakatan umat di sana, berdasarkan pertimbangan pastoral atau rasa religius setempat. 

Dalam kasus seperti ini, jika ada yang mau mengkritik atau memberi masukkan, maka mereka berikan masukkan sebagai sebuah anjuran, bukan penghakiman. Saudara Jondri seakan ingin menghakimi umat di sana, dalam kasus yang sebenarnya tidak hitam putih. Kalau dia ingin berikan anjuran demi alasan pastoral, atau “rasa” religius sebagian besar umat lain, maka hal tersebut mungkin bisa diterima. Keberatan saya ialah bahwa secara yakin dan percaya diri, saudara Jondri menghakimi sesuatu yang sebenarnya butuh banyak pertimbangan dan kehati-hatian untuk menilai, yang bisa menimbulkan kesan yang salah dan juga luka yang tidak perlu di hati umat. Umat kita kiranya butuh gembala yang menunjukkan mereka jalan iman dengan penuh kasih, bukan para hakim yang tanpa belaskasihan menghakimi mereka dengan semangat algojo. Apalagi fakta dan data-datanya salah. Tentu sangat tidak elok bagi “tubuh mistik Kristus” (persekutuan jiwa-jiwa umat beriman).

Penulis adalah umat Stasi Ndiwar, sekarang tinggal di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.
×
Berita Terbaru Update