-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Apakah Semua Agama Itu Sama atau Beda? Ini Penjelasan Pater Tuan Kopong, MSF

Jumat, 10 Juli 2020 | 11:13 WIB Last Updated 2020-07-10T04:14:42Z
Apakah Semua Agama Itu Sama atau Beda? Ini Penjelasan Pater Tuan Kopong, MSF
Apakah Semua Agama Itu Sama atau Beda? Ini Penjelasan Pater Tuan Kopong, MSF

Dalam pengalaman keseharian kita sering mendengar ungkapan; “semua agama itu sama”. Bahkan ungkapan demikian tidak hanya diungkapkan oleh umat awam tetapi juga kadang oleh oknum imam.
Saya secara pribadi ketika mendengar ungkapan ini, jawaban saya adalah semua agama tidak sama, berbeda satu dengan yang lain. Karena jika sama mengapa saya harus bertahan dan menjadi seorang imam Katolik?

Kalau dikatakan sama, maka bisa saja hari ini saya Katolik, besok saya Protestan, lusa saya menjadi Hindu dan seterusnya. Justru karena berbeda maka ada sebuah kekuatan untuk mencintainya dan menjaganya dengan setia.

Yesus yang saya imani sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6) jelas berbeda dengan yang diyakini oleh agama lain. Tuhan yang saya imani adalah yang bersekutu dalam persekutuan Allah Tritunggal. Bunda Maria yang saya hormati adalah Bunda Allah yang perawan tanpa noda dosa. Para santo dan santa yang saya hormati memiliki peran penting dalam perjalanan hidup beriman saya.
Hanya Katolik yang memiliki tuju (7) Sakramen. Hanya Katolik yang merayakan Ekaristi. Hanya Katolik yang memiliki Paus, para Uskup, para Imam dan Diakon. Hanya Katolik yang memiliki waran liturgi, lagu-lagu liturgi dan lain sebagainya.

Dari segala prinsip ajaran iman dan moral, hirarki dan juga kepemimpinan serta fungsi atau peran awam Katolik sangat berbeda dengan yang lain. Bahkan secara pribadi saya merasa bangga bahwa hanya di dalam Gereja Katolik, tokoh agamanya entah itu Paus, Para Uskup, para Imam dan kelompok hidup religius lainnya yang adalah manusia-manusia normal justru dengan ketulusan hati mempersembahkan hidup dan diri untuk Tuhan dan Gereja. Artinya tidak menikah.
Bahwa kemudian ada persoalan terkait kehidupan mereka-mereka ini, itu hal lain tetapi tidak mengurangi sedikitpun perbedaan agama Katolik dengan agama-agama lain, karena itu menjadi sebuah kekayaan rohani Gereja yang tak pernah rusak sampai kapanpun walau harta itu hanya berada dalam sebuah bejana tanah liat.

Meskipun agama Katolik berbeda dengan agama-agama lain bukan berarti Gereja menutup pintu dialog dan perjumpaan dengan agama lain. Gereja Katolik meskipun berbeda dengan agama lain namun tetap membuka pintu dialog dan perjumpaan dengan agama-agama lain karena berada dalam asal dan tujuan bersama sebagai umat manusia:

"Semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya,  bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang, sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci" (NA 1, bdk. KGK. 842).
Meskipun berbeda, Katolik menjadi jalan yang mewartakan dialog, perjumpaan dan perdamaian tanpa ada sekat. Justru karena berbeda, Katolik hadir mewartakan Yesus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup kepada sesama yang berbeda.

Saya Katolik dengan tetap memegang teguh bahwa Katolik berbeda dengan agama lain bisa tuh menjadi pendiri Forum Pelangi Kaltim, forum diskusi dan dialog orang muda lintas agama, menjadi anggota Jaringan Gusdurian, anggota Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika serta menjadi pertisipan setiap organisasi kemanusiaan yang nota bene kebanyakan adalah rekan-rekan muslim.

Maka ketika ada yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama hanya untuk tujuan toleransi, minta maaf saya harus mengatakan itu sebuah kekeliruan. Jika itu dikatakan oleh seorang imam maka saya mempertanyakan perutusannya sebagai seorang imam Katolik.

Untuk semua umat Katolik, termasuk kami para imam harus mampu membedakan antara iman sebagai umat Katolik yang kehidupan berimannya ditopang oleh Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium dengan Tindakan kemanusiaan sebagai umat Katolik.

Tindakan kemanusiaan termasuk toleransi tidak bisa mengesampingkan iman sebagai orang Katolik. Dan tidak dibenarkan bahwa atas nama tindakan kemanusiaan dan toleransi lantas seenaknya mengatakan semua agama itu sama.

Manila: 09-July-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update