-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Cabup-Cawabup Mabar: "Bertolaklah ke Tempat yang Dalam"

Rabu, 08 Juli 2020 | 11:34 WIB Last Updated 2020-07-08T04:34:30Z
Cabup-Cawabup Mabar: "Bertolaklah ke Tempat yang Dalam"
Cabup-Cawabup Mabar: "Bertolaklah ke Tempat yang Dalam"

Oleh: Sil Joni*

Diskursus seputar pelaksanaan kontestasi politik Pilkada Mabar, kembali semarak seiring pemberlakuan skema new normal di tengah terjangan pandemi covid-19. Pihak KPU sebagai lembaga resmi penyelenggara pilkada sudah 'mengumumkan' pelaksanaan pelbagai tahapan pilkada serentak di era pandemi ini yang berpuncak pada tanggal 9 Desember 2020.

Ketika gong kontestasi itu kembali ditabuh, pasar politik lokal kian menggeliat. Para broker dan pedagang politik mulai bergairah dan agresif dalam 'memasarkan sosok politik' di ruang publik. Hampir semua hajatan sosial dan politik yang diikuti oleh figur pujaan itu diabadikan dan didiseminasikan secara kreatif dalam pelbagai kanal diskursif publik.

Sontak saja, pasar politik kita disemaraki dengan 'perang klaim dukungan partai politik (parpol) dan aneka polesan visual berupa 'potongan wajah' para kandidat yang dikemas secara elegan dan atraktif. Tegasnya, publik sedang menonton dan menikmati 'kumpulan adegan promosi calon' dengan mengoptimalisasi daya magis media virtual-digital saat ini. Aula persepsi dan kognitif publik dibombardir dengan 'peluru iklan politik' yang ditembakkan secara progresif oleh para calo politik itu.

Forum media sosial dalam pelbagai fitur dan platform disulap menjadi 'panggung penjualan' potongan wajah politik yang kaku. Untuk memengaruhi opini publik para pedagang politik itu tak lupa 'menyisipkan' sekeping narasi yang berisi slogan, jargon, semboyan, dan motto politik dari paket calon yang dipromosikan tersebut. Mungkin tim kreatif itu sudah membuat semacam survei perihal 'psikologi politik publik' sehingga mereka dengan penuh percaya diri menyodorkan 'foto dan semboyan' dalam pelbagai ruang diskursus.

Apa yang bisa kita petik dari trik dan manuver merebut pasar politik semacam ini? Saya kira, pengkultusan terhadap pola pemasaran yang bersifat artifisial seperti ini menggambarkan rendahnya kualitas budaya perpolitikan kita. Kita masih terjebak dalam asumsi politik klasik bahwa 'wajah dalam foto' jauh lebih ampuh ketimbang mutu wacana politik yang mereka sebarkan ke publik. Ada semacam anggapan bahwa 'konsumen politik lebih tertarik pada wajah dan slogan murahan tersebut'.

Esensi Pilkada direduksi sebagai 'kelihaian menghipnotis publik' dengan menggunakan teknik promosi yang bermain pada wilayah permukaan semata. Kita tidak pernah secara serius menjadikan kontestasi sebagai momentum untuk mendalami dan menguji 'komitmen dan gagasan politik' dari para kandidat itu dalam mengubah kondisi kemaslahatan publik di Kabupaten ini.

Energi atensi politik kita lebih banyak tersedot untuk berdiskusi soal parpol yang mendukung si A dan bagaiman memanipulasi kesadaran publik melalui serangkaian 'sandiwara politik' yang tergelar hari-hari ini. Nyaris tidak ada kandidat dan para pendukungnya yang menggarap secara serius soal analisis dan pembacaan yang serius atas pelbagai problematika di Mabar dan berdasarkan refleksi itu, mereka menyodorkan sejumlah ide politik progresif sebagai solusi yang signifikan dan efektif.

Publik nyaris tak pernah mengonsumsi 'produk politik bernas' dari para calon pemimpin tersebut yang digodok secara serius oleh para tim pemenangan mereka. Alih-alih mencicipi ide berkualitas, publik malah disuguhi foto wajah dan serangkaian aktivitas para calon semata. Ruang pertarungan badan lebih dominan ketimbang gagasan. Padahal, badan yang gagah tanpa ditopang dengan konsep yang brilian dan elegan, hasilnya tetap keropos. Publik sebetulnya tidak membutuhkan sosok pemimpin yang cantik dan ganteng secara fisik, tetapi pemimpin yang memiliki visi dan imajinasi politik yang cantik dan ganteng.

Karena itu, kita mendorong dan meminta para kandidat beserta para pedagang politik untuk menebarkan jala politik ke lautan persoalan Mabar yang lebih dalam. Hasil tangkapan terhadap pelbagai 'ikan persoalan' dalam samudra politik Mabar bisa dijadikan 'produk politik' yang dilayak dijual kepada publik-konstituen. Semua kandidat mesti 'mengayuh perahu politik' untuk mengarungi lautan  problematika yang dihadapi publik Mabar di sini dan kini. Refleksi dan kajian yang mendalam dan komprehensif terhadap rupa-rupa isu, tentu membuahkan komitmen dan solusi politik agar Mabar bisa keluar dari kubangan penderitaan tersebut.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update