-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ino Madur ke Surga Pakai Sepeda

Senin, 06 Juli 2020 | 11:48 WIB Last Updated 2020-07-06T04:48:44Z
Ino Madur ke Surga Pakai Sepeda
Ino Madur ke Surga Pakai Sepeda

“Nia ket te dia dian taa. Asi do bail debat. Bantang cama, cai nai taung; Mana yang terbaik, jangan terlalu banyak berdebat, musyawarah harus satu hati, satu pemikiran”.

Inilah kalimat kas yang keluar dari mulut Kae (kakak) Ino Madur kalau lagi berdiskusi suatu hal dalam Paguyuban Kajong Raya Jakarta. Kajong adalah nama Desa, di Kecamatan Reok Barat, Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT).

Yang tergabung dalam Paguban Desa Kajong di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) bukan hanya orang yang berasal dari Desa Kajong, tetapi juga desa tetangga, sehingga kami menyebutnya Kajong Raya.

Ino, dengan nama lengkap Inosentius Madur, S.H.ialah salah satu senior, orang yang kami tuakan. Karena itulah kami sangat membutuhkan dan memperhitungkan pendapatnya dalam mengambil suatu keputusan.

Kami yang tergabung dalam Paguyuban ini bertempat tinggal di Jabodetabek. Sebagian besar dari kami bekerja sebagai karyawan dan buruh di perusahaan-perusahaan di Jabodetabek.
Untuk melepas kangen dan saling membantu dalam banyak hal kami harus bertemu, terutama acara akhir tahu (Tahun Baru) dan Natal Bersama. Namun, beberapa tahun terakhir kami jarang berkumpul lagi karena kesibukan kami masing-masing.

Pada Minggu, 5 Juli 2020, menjelang siang, kami semua di Jabodetabek dan semua keluarga di Kampung dan Manggarai umumnya kaget dengan berita bahwa Kraeng Ino Madur meninggal dunia.
 Saat itu, saya saat barusan selesai olahraga sepeda, istirahat sebentar, kemudian mandi. Tengah saya mandi telepon saya berdering. Karena sedang mandi, telepon saya tak terima. Selesai mandiri, saya lihat, Adik Hendro Mansur telepon.

Saya menelepon balik, dan malah ia bertanya,”Apa benar Kae Ino Madur meninggal dunia ?”. Saya jawab,”Saya belum tahu”. Maka kami sama-sama memastikan kabar itu, jawaban yang pasti pun, datang.

Minggu petang, saya dan istri mendatangi rumah duka di Tangerang. Dari istrinya tercinta, Ibu Yasinta; dan teman-temannya bersepedanya Minggu pagi itu, saya mendapatkan cerita tentang penyebab Ino meninggal dunia.

Minggu pagi, pukul 06.00 WIB, Ino bersama sekitar 10-an teman di lingkungan perumahannya pergi berolarahraga sepeda.

Mereka mengayuh sepeda sekitar 30 km, dalam waktu sekitar 1 jam.  Dalam perjalanan pulang, sekitar 1 km dari rumahnya, Ino kecapean, ia terjatuh dari sepedanya di pinggiran sawah. Ia ditolong teman-temannya, di bawa ke klinik terdekat. Namun, sampai di klinik, Ino sudah tidak bernafas lagi. Ia pergi selamanya.

Ino merupakan alumnus Ilmu Hukum Universitas Janabrada, Yogyakarta. Selama mahasiswa, ia aktif di Menwa. Selain itu, ia juga aktif dalam organisasi payububan Ikatan Keluarga Manggarai di Yogyokarta.

Ino merupan pemain sebak bola di kampusnya, dan di Ikatan Keluarga Manggarai. Pria kelahiran Kajong, 19 Februari 1970 ini berkepribadian luwes, sabar dan “pembawa damai”.

Ino lama bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta, dan baru tahun 2018 dilantik sebagai advokat yang tergabung dalam Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

Ini meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Delvi (perempuan) anak pertama mereka, Agustus 2020 ini, memulai kuliah Ilmu Hukum di Universitas Atma Jaya, Yogyakarta.
Mimpi

Ya kepergian Ino selamanya di saat mengayuh sepeda, memang cara Tuhan. Beberapa minggu sebelumnya Ino bermimpi menumpang pesawat dan mendarat di sebuah Kota Metropolitan yang indah, rapi, aman dan nyaman.

Dalam mimpinya itu, ia bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara, namun tak satu pun yang ia kenal dari orang-orang itu. Mimpi ini diceritakan Ino kepada teman-teman bersepedanya.
Selang beberapa malam kemudian, Ino kembali bermpimpi bahwa beberapa anggota keluarga yang telah meninggal dunia mendatangi Ino dan mengajak Ino pergi sambil memegang pundak Ino.

“Ya, ia memang sudah disudahi Tuhan berada bersama kita,” kata teman bersepedanya, Lobi.
 Ya sebagai orang beriman, kita semua tentu percaya bahwa semua manusia pasti mati, kembali kepada Tuhan. Tuhan memanggil kita dengan berbagai cara: ada yang melalui sakit berkepanjangan, ada yang sedang tidur, di lapangan badminton, lapangan basket, dan lain-lain.

Tuhan memanggil Ino di saat ia berolahraga sepeda. Ino ke rumah Rumah Tuhan, ke Surga bersepeda ! Selamat Jalan Kae Ino, berbahagialah bersama para Kudus di Surga.

Kae Rencana Tuhan semua indah, sebagaimana engkau nyanyikan seminggu sebelum engkau pergi dengan bersepeda ke Rumah Tuhan. Istirahatlah dalam Damai !

Oleh: Edi Hardum
×
Berita Terbaru Update