-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jatuh Cinta pada Ampas Kopi

Sabtu, 11 Juli 2020 | 16:07 WIB Last Updated 2020-07-11T09:07:15Z
Jatuh Cinta pada Ampas Kopi
Jatuh Cinta pada Ampas Kopi - Ilustrasi: aremafood

Suatu ketika aku duduk di bawah atap gubuk tua sambil seruput kopi. Aku bergumul tentang keindahan yang pernah kutatap saat rona jingga berdendang ria di ujung sepasang mata. Aku sempat bertanya, apakah mungkin kerikil-kerikil bara menelurkan keindahan yang  bukan dari sudut warna, bentuk dan ukurannya? Apakah mungkin benang yang disabit kerikil tajam itu suatu keindahan?

Aku mendengar ringkikan kayu kering yang  jatuh dari pohon cemara akibat hempasan angin kencang.  Pada saat yang sama, aku menatap kupu-kupu senja yang tengah menari di antara bunga-bunga yang sebentar lagi akan layu. Bola mata dan dedaunan telinga seketika hening. Aku coba mencari jawaban yang Tuhan torehkan pada kayu kering dan kupu-kupu senja itu.

Aku semakin penasaran saat tegukan demi tegukan jawaban itu ada dalam kopi yang tengah saya seruput. Apakah jawaban itu merupakan pantulan tinta dari kupu-kupu yang hinggap di kayu kering itu. Ataukah kupu-kupu itu sedang menuliskan seuntai kata di antara kopi yang tengah saya sruput. Bagaimana logikaku menjelaskannya? Barangkali ini adalah situasi metafisis yang sedang saya pergumulkan.

Tak terasa kopiku hampir habis namun perjalanan imajiku tak kunjung usai. Aku mencoba bertanya pada ampas kopi ini? Apakah ampas kopi ini juga merupakan produk keindahan?

Di senja itu, kopi yang kuteguk mengalir sensasi yang menyegarkan, menghangatkan dan menenangkan. Dalam suasana penuh tanya, kutemukan jawabnya, bahwa semuanya itu adalah bagian dari cerita hidup yang perlu diabadikan.

Seruput kopi adalah cerita indah nan memesona. Aku akan menikmatinya sampai waktu menua. Selain menikmati, aku juga merenungkan teguk demi teguk, sehingga suatu saat nanti, aku bercerita kepada anak-anak cucuku bahwa saya pernah jatuh cinta pada ampas kopi. 😄😄

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update