-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kasus Feliks Nesi dengan Romo A, Tukang Kritik akan Dipenjarakan, Ini Buktinya

Selasa, 07 Juli 2020 | 13:11 WIB Last Updated 2020-07-07T08:22:45Z
Kasus Feliks Nesi dengan Romo A, Tukang Kritik akan Dipenjarakan, Ini Buktinya
Kasus Feliks Nesi dengan Romo A, Tukang Kritik akan Dipenjarakan, Ini Buktinya

Sastrawan Felix K. Nesi, pengarang novel Orang-orang Oetimu meluapkan amarahnya dengan memecahkan kaca jendela rumah Pastoran SMK Bitauni karena dianggap  institusi Gereja Katolik sangat lamban menyelesaikan kasus kekerasan seksual Romo A.

Tindakan brutal Feliks bukan tanpa alasan karena ingin menjaga kemurnian Gereja (imam, biarawan/i, kaum religius) dari kasus kekerasasan seksual. Niat dan keberanian Feliks perlu diapresiasi, karena dia adalah salah satu anggota Gereja Katolik yang mengambil bagian untuk memerjuangkan kebenaran. Namun di sisi lain, Feliks lupa bahwa memerjuangkan kebenaran dengan cara brutal itu merugikan orang lain dan diri sendiri karena secara tidak lansung, dia sedang menghakimi. Motivasinya dalam menegakan kebenaran tidak lagi murni.

Kasus Feliks Nesi dengan Pastor bermasalah membuat para netizen khususnya para pengkritik terbentuk dalam dua kelompok. Kelompok yang satu memojokan Romo A karena jelas-jelas dia melakukan tindakan amoral. Sedangkan kelompok yang satu lagi memersalahkan Feliks karena melakukan tindakan brutal meskipun niat sebelumnya baik. Pertanyaannya, apa kaitannya para tukang kritik akan dipenjarakan? Apakah ada buktinya atau mana buktinya?

Tatkala imam A jatuh, "umat" dalam hal ini tukang kritik bukannya memerlihatkan belaskasih tetapi malah semakin menyudutkannya sehingga dia yang sudah jatuh semakin jatuh dalam jurang kehidupan. Namun kebaikan-kebaikannya dilupakan. Apakah satu persoalan benar-benar menguburkan beribu kebaikan yang sudah dia taburkan di hati umatnya? Adilkah kritikan pedas para netizen? Demikian juga ketika Feliks jatuh dalam tindakan brutalnya, orang juga semakin membuat dia terpojok dalam kesalahannya. Siapakah Feliks bagimu? Bukankah dia saudara kita yang harus kita rangkul? Para tukang kritik dari kedua kelompok pro dan kontra, sama-sama menghakimi kedua saudara yang sudah jatuh.

Tindakan menghakimi para tukang kritik entah lewat tindakan ataupun dengan kata-kata yang semakin memojokkan kedua pelaku, hemat saya tidak baik dan adil. Alasannya, karena para tukang kritik tidak luput dari dosa dan kesalahan, termasuk ketika mereka mengkritik kedua saudara kita tanpa pertimbangan rasionalitas yang matang. Jika anda tidak berdosa, bolehlah Anda menghakimi. Tetapi jika anda dan saya juga manusia tidak sempurna, barangkali kebijaksanaan dalam menilai dan mengkiritik harus bersifat solutif. Kritikan solutif itu lebih indah dan menyejukan daripada kritikan karena luapan emosional.

kasus Feliks Nesi dengan Pastor bermasalah membuat para tukang kritik akan dipenjarakan. Penjara yang dimaksudkan adalah mereka akan dipenjarakan oleh dosa dan kesalahan mereka sendiri. Apa itu? Tindakan menghakimi merupakan penjara bagi mereka - Penjara kehidupan! Sebab tindakan menghakimi adalah suatu kesalahan dan dosa.

Saya mencoba memakai bahasa Kitab suci barangkali tidak sesuai dengan konteks perikopnya. Kata-kata kitab suci tersebut demikian, "ukuran yang kamu pakai untuk mengukur orang lain akan diukurkan juga kepadamu". Atau perikop lainnya, "jangan hanya mengeluarkan selumbar di mata orang tetapi balok di mata sendiri tidak kamu keluarkan". Dari dua ayat ini, saya mau katakan, jangan sampai kita mengharuskan orang supaya berjalan di jalan yang benar tetapi kita sendiri tidak mau berjalan dalam kebenaran tersebut.

Jadi, kita yang suka mengeritik yang tidak memberi solusi soal kasus ini, tidak perlu mengumbarnya sejauh kita mau. Kita serahkan semuanya ke pihak yang berwajib dan punya otoritas.

Tugas kita, hemat saya, menjadikan persoalan ini sebagai cermin yang mendorong kita melihat diri sendiri. Sebab orang lain (subjek dalam konteks subjektivitas) juga bisa dijadikan cermin kehidupan agar kita semakin bertumbuh dalam kebijaksanaan hidup.

Oleh: Nasarius Fidin
×
Berita Terbaru Update