-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MASALAH TIDAK BERTAHAN SELAMANYA

Senin, 06 Juli 2020 | 11:01 WIB Last Updated 2020-07-06T05:15:10Z
MASALAH TIDAK BERTAHAN SELAMANYA

“Troubles don’t last always” – masalah tidak bertahan selamanya adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh Diana Hayes (The Liturgical Press, Collegeville Minnesota, 1995) yang terinspirasi dari narasi pribadi seorang laki-laki muda keturunan Africa-Amerika ketika dia mencoba memahami pesan Tuhan tentang ‘dosa dan penderitaan.

Dia mengatakan, hidup saya paradoks, penuh kontradiksi. Tiba-tiba muncul tikungan aneh. Berbagai jenis masalah silih berganti lalu lalang di jalan hidupku. ‘Saya kadang-kadang bangun di malam hari hanya untuk menangis semampuku. “Tetapi, saya sadar hari akan pagi, ada yang baru, Yesus akan memperbaiki tubuh dan hidupku yang lemah”  batinnya.

Stinkin Thinking

Ada banyak penyebab yang membuat hari-hari kita hanya memproduksi ratapan dan air mata kesedihan. Salah satu diantaranya karena kita terlibat dalam pemikiran yang busuk, berpikir negatif, pesimis tentang diri sendiri. Malam yang panjang kadang menjadi ruang “jual-beli” argument, ruang debat tentang “diri”. Saya masih layak untuk hidup atau saya harus segera mengakhirinya.

Semakin jauh kita bertarung dan bertahan dalam ide gila jenis ini, kita tidak pernah tau apa artinya pagi yang indah, apa artinya siang dan apa artinya malam. Kita ‘taat’ dan mempercayai pikiran-pikiran sinting/gila tentang diri kita sendiri. Credo gila.

Ketika mulai melihat ke belakang yang dilihat hanya hal-hal buruk yang sudah menimpa kita. Menatap hari esok pun seakan-akan lebih banyak masalah di masa depan, lebih banyak kekosongan. Kita berpasir, abu-abu, lesu, tidak mampu. Pemikiran negatif  dan buruk terlalu kuat mengontrol kita.

Memotivasi Diri 

Siapa yang tidak pernah gagal, tunjuk jari. Hampir pasti, kegagalan akrab menemani perjalanan setiap manusia. Kegagalan selalu ada di depan mata kita. Dia sangat dekat. Sebelum kita lahir pun kesulitan, kegagalan sudah terlempar di dunia.  Daripada memikirkan hal-hal buruk dan kegagalan hidup, mari coba untuk mengubah emosi kita menjadi sesuatu yang positif dan realistis.

Alih-alih mengatakan ‘aku jelek’ ubahlah dengan mengatakan aku mempunyai senyuman dan mata yang indah. Alih-alih mengatakan ‘saya tidak berharga’ ubahlah dengan mulai berbaik hati kepada diri sendiri dan berkata, sebenarnya, saya sangat baik. Saya hebat. Bukan sebaliknya, saya tidak bisa, saya tidak akan, saya menyerah.

Cobalah untuk mulai membuka resep dari ayat-ayat Kitab Suci untuk kesehatan mental dan emosional. Apa yang benar dan terhormat, apa yang baik dan murni, apa yang luar biasa dan indah, apa yang layak dipuji, apa yang patut dikagumi dan dijadikan berita-berita yang benar, itulah yang menjadi fokus kita. Ayo, mulailah dari hal-hal itu.

Oleh: Pater Garsa Bambang, MSF
×
Berita Terbaru Update