-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Membaca Orang Manggarai dan Alasan Logis Menolak Tambang di Manggarai

Kamis, 09 Juli 2020 | 20:33 WIB Last Updated 2020-07-09T13:38:06Z
Membaca Orang Manggarai dan Alasan Logis Saya Menolak Tambang di Manggarai
Membaca Orang Manggarai dan Alasan Logis Saya Menolak Tambang di Manggarai

Orang Manggarai itu adalah Text. Text dari bahasa latin Textus atau bentuk verbanya texere (Tenunan/Jaringan).
Jaringan ini tereksplisit dalam prilaku,  tuturkata dan berbagai segi kehidupan orang manggarai.  Maka saya cukup berani membuat pernyataan untuk membuka tulisan sederhana ini yaitu filsafat kehidupan orang Manggarai adalah Text atau Jaringan. Tambang hanya akan merusak Jaringan Kehidupan.

Mengapa demikian?  Untuk memahami antropo-filosofis Kemanggaraian, baik pendekatan epik maupun emik harus berani tercebur dan  berselancar seperti laba-laba dalam berbagai ranah kehidupan orang Manggarai.  Sebab pilar-pilar kehidupan orang Manggarai dibangun dalam sistem jaringan.

Filsafat Text 

Fisika modern,  Quantum Teori berpadu dengan mistisme Timur dalam tulisan Fritjof Capra, menemukan kenyataan dasar bahwa kosmos adalah jaringan. Bahkan partikel yang disebut partikal Tuhan adalah jaringan.

Begitu juga dalam filsafat ketimuran, Budhisme ataupun filsafat Nusantara,  kehidupan adalah jaringan interdepenensional atau matrix. Atas dasar penemuan dan perubahan paradigma dalam ilmu fisika ini Fritjof Capra menulis banyak buku dan mempromosikan filsafat Jaringan (Web Conection)  sebagai dasar gerakan dan hegemoni global dalam politik, ekonomi yang ramah pada lingkungan hidup.

Nah,  sebagai orang Manggarai,  saya sangat terkejut bagaimana pandangan kosmo-antropologi "Jaringan" ini, sangat tereksplisit dalam kehidupan orang Manggarai. Bukankah sesuatu yang sangat keren?

Bangunan dasar kehidupan Manggarai adalah Jaringan. Baik ide maupun praxis semua berbentuk Jaringan. Itulah yang saya sebut filsafat teks atau jaringan.
Filsafat Jaringan ini nyata dalam cara orang Manggarai berelasi,  membuat rumah,  membuat kebun dan bahkan sistem religinya.

Pertama,  dalam berelasi misalnya,  kecendrungan untuk membangun organisasi berbasis etnik sangat kuat.  Teori ini bisa saja dipatahkan dengan teori pakem bahwa burung cendrung berkumpul sesama bulu,  dan juga terdapat dibudaya lain.

Tetapi ada keunikan dalam relasi orang Manggarai.  Relasi Orang Manggarai berbentuk jaringan. Contohnya,  ketika dua orang berasal dari Manggarai walaupun beda Kabupaten atau letak kampungnya di utara dan selatan tetapi ketika mereka saling berkenalan,  akan sampai pada kekerabatan atau kekeluargaan.  Padahal orang Manggarai tidak memiliki sistem pemberian nama klen (terutama di zaman modern).
Sebut saja kampungmu,  pasti disana ada keluargaku.

Kedua,  sistem membangun Rumah.  Teknik orang Manggarai membuat rumah adalah Jaringan.  Atapnya berbentuk kerucut (lihat Mbaru Niang Wae Rebo). Rumah bukan hanya tempat hunian tetapi mengejakan jaringan perkembangan kekerabatan (wela).
Karena sistem kekrabatan Patrilinear, setiap orang laki-laki Manggarai disebut "ata one" (orang dalam)  atau penerus warisan dan penjaga kampung,  sedangkan perempuan adalah "ata peang" (orang luar) karena kalau ia menikah,  ia akan mengikuti suaminya.

Nah,  Tiang Utama di tengah Rumah Adat merupakan tempat pewaris adat bersandar. Ia akan duduk di "Tange" (Bantal duduk yang ditenun dari daun pandan dan diisi kapas kapuk) untuk menerima kelompok "ata peang" (keluarga perempuan dari klennya bersama dengan suami dan anak-anaknya)   dalam berbagai acara dan ritual adat. Pusat di bubungan rumah ditaruh kepala kerbau,  mengingatkan akan leluhur atau akar dari klen di kampung tersebut. Maka orang Manggarai mengenal istilah "Sabi Bangkong". Kepala kerbau itu Sabi Bangkong yang tinggi maknanya dan diberikan kepada klen asal dari klen yang menerima jujuran atau belis dari adat perkawinan. Akan sangat rumit dijelaskan secara detail.  Intinya menggambarkan relasi text atau jaringan.

Ketiga, dalam sistem pembagian tanah. Proses pertanian tidak hanya mengolah tanah secara intensifikasi (pemupukan, dsbnya) atau ekstensifikasi (perluasan lahan)  tetapi menerapkan filsafat jaringan ini. Pembagian Tanah seperti model Parabola atau jejaring laba-laba dan pusatnya disebut Lodok.

Tanah-tanah dibuat dalam bentuk Lingko sebelum dibagi.  Lingko-lingko ini kemudian dibagi kepada masing-masing kepala keluarga.  Ini nampak kalau membuka lingko baru. Prioritas untuk yang tidak mempunyai tanah.

Pembagian ini sebuah strategi agar pengerjaan lahan dikerjakan secara bersamaan.  Tujuannya membangun etos kerja berkelompok atau komunitas.  Selain itu agar hama tanaman menyebar secara merata.  Sehingga suplay kebutuhan dengan sendirinya merata dan tidak saling iri hati.
Keempat,  begitupula dalam tata kampung.  Kampung ditata dan pusatnya adalah Compang.
Compang adalah susunan batu-batu yang dijadikan tempat atau mesbah mempersembahkan kurban pada leluhur atau untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa.

Maka sistem religi, sistem pertanian,  perumahan dan relasi Manggarai selalu menggambarkan Jaringan yang memiliki pusat kehidupan.
Penegasan yang menarik juga adalah Orang Manggarai menempatkan nilai rohani dan spiritualitas di pusat struktur kehidupannya.

Dengan penjelasan seperti inilah dasar argumentasi saya menolak Tambang di Manggarai.  Tambang akan merusak jaringan ini. Merusak Jaringan jelas merusak tatanan kehidupan dan pusat kehidupan.
Saya tidak mengabaikan bahwa secara ekonomi barangkali tergiur dengan logika praktis-kapitalis. Tetapi cara berpikir praktis dan hanya mementingkan perut saja akan mengikis dan menyingkir Orang Manggarai dari kekayaan kearifan lokal dan sistem berpikirnya dimana menjadi cara berbikir sebuah peradaban baru yang ekosentris,  interdependensi, komuniter  dan jaringan.

Mengabaikan local genius ini akan menghapus jejak kejeniusan Orang Manggarai dalam membangun kehidupan.  Mestinya kita promosi kultur dan sistem filsafat lokal kehidupan jaringan ini untuk memperkuat paradigma global yang ekosentris,  jejaring,  komunitas dan menolak bentuk monopoli.
Maka kalau orang bertanya kepada saya mengapa pater menolak tambang hadir di Manggarai?  Inilah Argumentasi dasar saya.
Bukankah pembangunan itu mesti berbasis kearifan lokal juga?

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF
×
Berita Terbaru Update