-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mengenal "KARDINAL" dalam Gereja Katolik

Selasa, 07 Juli 2020 | 17:07 WIB Last Updated 2020-07-07T10:07:40Z
Mengenal "KARDINAL" dalam Gereja Katolik
Mengenal "KARDINAL" dalam Gereja Katolik

Ulasan historis-yuridis kanonis sederhana ini tidak bermaksud untuk menanggapi viralnya video lulusan IVS (Injil Vatican School) dan katanya “anak seorang kardinal” tapi hanya sebagai “bacaan rohani” sederhana untuk semua kita yang mencintai Gereja, Umat Allah.

1. Sepintas Sejarah

 Kata Kardinal: Cardinale—Latin: “cardo” yang berarti engsel pintu (Italia: Cerniera la porta). Atau kata kardinal bisa diartikan pula sebagai sesuatu yang prinsipil.

 Abad-abad awal: Paus memilih 25 imam untuk membentuk satu unit kerja sebagai penasihatnya. Dan 25 imam penasihat ini disebut dengan nama Kardinal. Masih sebatas pada Gereja-gereja lokal sekitar Roma.

 Abad XII: mulai digunakan gelar Kardinal untuk Uskup-uskup lain yang jauh dari Roma.

2. Masa Kini: masih Bertahan sampai Sekarang 3 Tingkatan Jabatan Kardinal: Kardinal Diakonia

Kardinal presbiteral, Kardinal uskup. Ketiga 3 tingkatan ini selalu mempunyai ikatan kuat dengan Gereja-gereja di Roma. Para kardinal tingkat episkopal , yakni para kardinal yang oleh paus diberi gelar Gereja Suburbikaris. Sedangkan para kardinal tingkat presbiretal dan diakonal masing-masing diberi gelar Presbiterat atau diakonia di Roma. Alasan dasarnya agar mereka selalu ada ikatan dengan Gereja di Roma.

3. Dalam Kitab Hukum Kanonik

a. 1917: para Kardinal disebut dengan nama “senat” dari Paus. Tugas para Kardinal adalah mendampingi Paus sebagai penasihatnya (Kan. 230, KHK. 1917)

b. 1983 (kan. 349-359): istilah yang dipakai bukan lagi “senat”tapi “kolegium khusus” (collegio peculiare) yang juga bertugas sebagai penasihat Paus. Adapun dua (2) tugas poko dari para kardinal : Pertama, Memilih Paus dan kedua, Membantu Paus baik secara kolegial melalui konsistori (consistoro) dan secara singular melalui fungsi pemerintahan pada Kuria Romana (dikasteri-dikasteri atau lembaga-lembaga kuria Roma).

4. Kriteria menjadi seorang Kardinal: 

 Kanon 351§1 KHK 1983 mengatakan dengan jelas bahwa: Yang diangkat menjadi Kardinal adalah para pria yang dipilih dengan bebas oleh Paus, sekurang-kurangnya sudah ditahbiskan imam, unggul dalam ajaran, moral, kesalehan dan juga kearifan bertindak; mereka yang belum Uskup, harus menerima tahbisan Uskup.

 Dari kutipan kanon ini jelas bahwa untuk menjadi seorang kardinal itu adalah kaum tertahbis yakni sekurang-kurang imam. Meski dalam kenyataan kebanyakan yang diangkat menjadi kardinal adalah Uskup-uskup.

 Jadi adalah salah dan keliru besar sebagai buah dari halusinasi berpikir jika ada yang mengaku dia sebagai anak dari seorang kardinal.

Oleh: Pater Doddy Sasi, CMF

×
Berita Terbaru Update