-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mereka Hendak ke Mana? (Urgensi Ritual 'Wuat Wa'i Politik' di Tengah Pandemi Covid-19)

Selasa, 14 Juli 2020 | 14:25 WIB Last Updated 2020-07-14T07:32:07Z
Mereka Hendak ke Mana? (Urgensi Ritual 'Wuat Wa'i Politik' di Tengah Pandemi Covid-19)
Mereka Hendak ke Mana? (Urgensi Ritual 'Wuat Wa'i Politik' di Tengah Pandemi Covid-19) Ilustrasi: jateng.tribunnews

Oleh: Sil Joni*

Mumpung skema New Normal sudah disosialisasikan dan diterapkan di semua daerah di Indonesia. Kita menggunakan 'skema kenormalan baru' itu untuk menjalankan pelabagai aktivitas baik yang dijalankan secara pribadi maupun melibatkan banyak orang (massa).

Kendati angka kasus positif Covid-19 melonjak tajam di masa New Normal ini, kita tak peduli. Aktivitas politik yang melibatkan massa pendukung terus digelar. Dengan menggunakan dalil 'hak politik' dan asal mengikuti protokol kesehatan, kita dengan bebas menggelar aneka 'ritual politik'. New Normal dilihat sebagai 'momentum' untuk mempromosikan diri di depan publik yang dikemas dalam rupa-rupa acara.

Setidaknya, sampai pada tulisan ini digodok, melalui pemberitaan media sudah ada 'dua paket calon' bupati dan wakil bupati Mabar
yang menggelar 'ritual Wuat Wa'i Politik'. Seperti yang dilansir oleh sejumlah media daring, acara Wuat Wa'i Politik itu dihadiri oleh 'tokoh-tokoh kunci' dan para pendukung loyal dari paket itu. Bupati Mabar, Agustinus Ch. Dulla 'sempat hadir' dan memberikan sambutan pada dua acara Wuat Wa'i politik pada waktu dan tempat yang berbeda itu.

Saya tidak tahu apakah memang 'mendesak dan signifikantif' kita menggelar acara adat untuk kepentingan politik di masa pandemi covid-19? Apakah ada semacam 'hukuman adat' jika acara itu ditunda atau tidak dilaksanakan sampai kondisi wabah relatif teratasi? Apakah ada semacam korelasi antara 'kemenangan calon' dengan pelaksanaan ritual "wuat Wa'i" itu?

Wuat Wa'i adalah term adat Manggarai yang bersifat figuratif-metaforis. Sebetulnya, makna denotasi dari ritual itu adalah 'pembekalan' secara adat terhadap seseorang atau sekelompok orang hendak pergi ke tempat jauh demi mengejar sebuah misi/intensi yang mulia. Kita sering mendengar atau bahkan mengikuti acara Wuat Wa'i dari seorang anak yang hendak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi di tempat yang jauh.

Kita meminta 'kekuatan dari keluarga besar dan arwah para leluhur' untuk bersama-sama mendukung dan mendoakan sang anak agar selamat dalam perjalanan dan cita-citanya tercapai. Itu berarti Wuat Wa'i merupakan sebuah 'ritual menyadap kekuatan dan modal' baik material maupun moral-spiritual yang bersumber dari mata-air tradisi lokal kita sehingga apa yang kita idealkan bisa membuahkan hasil atau tak mengalami kendala yang berarti.

Lalu, apa relevansi dan signifikansi ritual itu terhadap 'kehendak seseorang' untuk berkuasa melalui keikutsertaannya dalam kontestasi Pilkada Mabar 9 Desember 2020? Apakah para calon itu merasa atau menilai bahwa 'ritual semacam' itu sangat berdampak bagi perjalanannya dalam meraih tangga kekuasaan? Apakah para calon itu hendak pergi 'ke tempat jauh' untuk mengejar sebuah misi yang mulia? Apa yang mereka kejar dalam kontestasi ini sehingga harus diawali dengan melaksanakan ritual Wuat Wa'i secara meriah?

Sebetulnya, publik sangat mengapresiasi dan menghormati 'niat baik' para pasangan calon ini yang sangat menghargai khasanah tradisi lokal dalam mengikuti sebuah pertarungan politik. Rasa cinta mereka terhadap 'budaya lokal' patut diteladani. Mereka tidak pernah melupakan 'warisan rohani' dari para leluhur untuk digunakan demi menggapai misi pribadi yang bersifat luhur.

Namun, penghargaan terhadap 'kesakralan ritual adat' tidak hanya ditunjukkan dengan menggelar 'acara saja', tetapi juga mesti dirawat dalam proses menggapai misi itu sekaligus menggunakannnya untuk kepentingan orang banyak  jika misi 'memburu kuasa' itu terwujud. Dengan perkataan lain, para calon tersebut mesti menggunakan 'cara-cara berbudaya/bermartabat' dalam memenangkan pertarungan dan mengoptimalkan wewenang politik itu nanti untuk memperbaiki kondisi kesejahteraan publik.

Ketika paslon yang menggelar acara 'Wuat Wa'i itu, terbukti menggunakan cara-cara kotor dalam kontestasi, seperti membeli suara publik dengan uang atau material lainnya, menggunakan fasilitas umum untuk kampanye, menyalahgunakan jabatan politik, dan pelbagai pelanggaran lainnya, maka Paslon tersebut telah 'menodai kesucian' ritual Wuat Wa'i itu. Mengapa? Keluarga dan juga para leluhur 'mengutus' para paslon itu bukan untuk berbuat curang dan apalagi mengkhianati kepercayaan publik, tetapi semata-mata untuk menjadi terang dan garam bagi publik Mabar. Mereka adalah orang 'urapan leluhur' untuk membebaskan warga Mabar dari pelbagai penderitaan politik.

Atas dasar itulah, kita perlu menghargai dan mendukung pelaksanaan Ritual Wuat Wa'i Politik meski kita belum sepenuhnya bebas dari 'terjangan covid-19'. Kendati mereka tidak hendak pergi ke pulau yang jauh, tetapi bagaimana pun juga mereka butuh bekal untuk mengarungi dinamika dan kompleksitas pertarungan politik di musim Pilkada Mabar 9 Desember 2020 ini. Tugas kita adalah mengawal dan memastikan pergerakan dari paket-paket ini agar mereka benar-benar menjunjung tinggi nilai kesucian dari ritual adat yang diselenggarakan itu.

Tentu tak ada gunanya jika pada kesempatan ini kita mengkritik pelaksanaan ritual Wuat Wa'i politik di Masa pandemi itu. Pasalnya, acara itu sudah digelar dan hampir pasti semua pendukung dan keluarga besar mereka pasti telibat penuh dalam menyukseskan acara itu. Apalagi kalau alasan 'hak politik' dikemukakan untuk menjustifikasi pelaksanaan acara itu, semua perspektif lain yang berseberangan dengan narasi itu pasti ditepis.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update