-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

'Pedang Politik' Semakin Tajam Seusai New Normal, Aksi "Membunuh dan Dibunuh" di Mabar akan Terjadi

Minggu, 12 Juli 2020 | 23:26 WIB Last Updated 2020-07-12T16:51:35Z
'Pedang Politik' Semakin Tajam Seusai New Normal, Aksi "Membunuh dan Dibunuh" di Mabar akan Terjadi
'Pedang Politik' Semakin Tajam Seusai New Normal, Aksi "Membunuh dan Dibunuh" di Mabar akan Terjadi - Ilustrasi: google

Oleh: Sil Joni*

Ruang politik lokal kembali semarak dan menggeliat pasca-penerapan skema New Normal menghadapi pandemi covid-19 saat ini. Publik semakin bergairah mempercakapkan isu-isu politik teraktual di level lokal dalam pelbagai kanal diskursif. Alhasil, tema seputar kontestasi politik Pilkada Mabar 9 Desember 2020 mendominasi perbincangan publik dalam aneka platform media sosial tersebut.

Umumnya, diskusi itu berfokus pada isu kemungkinan paket A diusung oleh sejumlah partai politik (parpol), kans paket B untuk menjadi kontestan aktif, skenario lain yang sedang dirancang oleh beberapa partai untuk meloloskan calon yang kurang mendapat perhatian publik dan kemungkinan 'perceraian' dari paket calon yang sudah mendeklarasikan diri di depan publik. Singkat kisah, energi atensi publik lebih banyak tersedot untuk membuat spekulasi dan prediksi politik seputar 'kendaraan politik' dari para pasangan calon yang sudah beredar luas dalam masyarakat saat ini.

Perang klaim dukungan begitu dinamis hari-hari ini. Hampir semua media lokal menyediakan porsi ruang pemberitaan yang lebar terkait pernyataan politis, baik yang langsung berasal dari mulut kandidat, maupun para calo politik. Bahkan tidak jarang dijumpai fenomen menjamurnya 'media partisan' yang hanya fokus menyebarkan berita salah satu paket calon itu. Dengan gaya dan mutu penulisan berita seadanya, para awak media itu sangat agresif memproduksi dan mendiseminasi berita yang bersifat tendensius atau hanya untuk menggiring opini publik semata.

Selain itu, publik juga membaca dan mendengar 'analisis amatir' soal peluang dari paket C untuk menjadi pemain aktif dalam kontestasi ini. Analisis prediktif semacam itu kendati hanya berbasis asumsi subyektif, sukses membetot perhatian para pendukung dari paket yang bersangkutan. Apalagi kalau ditemukan konklusi tegas bahwa sang calon bakal 'gagal' dan diganti oleh paket lain. Telaah seperti itu pasti mengundang reaksi yang emosional para simpatisan dan pendukung fanatik dari duet politik itu.

Isu-isu diskusi yang bersifat polemis dan kontroversial, bisa menjadi bumbu penyedap dan dinamika sebuah momen pertarungan politik. Para partisipan diskursus tentu terpolarisasi secara ekstrem berdasarkan arah dukungan politik personal. Terlampau sulit untuk mengoptimalkan 'nalar yang jernih' ketika kita bercakap tentang 'pesona politis' para aktor itu. Kita cenderung terperangkap dalam arus emosi dan fanatisme sempit terhadap sang jagoan politik itu.

Politik dalam era demokrasi elektoral dan digital berwatak tribalistik, siapa lawan dan siapa kawan. Naluri animalitas diperlihatkan secara vulgar untuk melibas lawan dan merangkul yang dianggap kawan. Namun, relasi kawan dan lawan itu ternyata bersifat temporal dan pragmatis. Tidak ada kawan dan musuh abadi dalam politik. Logika dikotomis 'musuh-teman' itu bergantung pada kepentingan ekonomi-politik yang diburu.

Sampai di sini, kita mempunyai gambaran serba ringkas soal arah dukungan parpol terhadap para calon yang sedang 'berburu tiket politik' untuk berlaga dalam kontestasi Pilkada Mabar 2020. Para pekerja partai tidak serta merta memberikan 'kendaraan politik' kepada orang yang publik anggap sebagai 'sahabat atau keluarga politik'. Analisis berbasis 'kedekatan relasi emosional' tak berlaku dalam logika pemberian 'dukungan politik parpol' ini.

Bukan tidak mungkin ada 'calon' yang terbunuh dalam proses finalisasi dukungan parpol. Sebuah 'pedang politik' akan menghunus jiwa sebab parpol yang 'dirayu' mengalihkan dukungan ke figur lain. Ketika politik direduksi hanya sebatas kompetisi memperebutkan kuasa, maka tentu ada yang 'kalah'. Segala kemampuan dikerahkan untuk memenangkan pertarungan, termasuk bertarung mendapatkan 'restu politik' dari parpol.

Karena itu, para kandidat dan semua broker politik perlu diingatkan agar jangan terlalu percaya diri dan ambisius melontarkan klaim mengantongi dukungan lebih dari tiga parpol. Kita perlu juga bersikap dan berpikir realistis dalam membuat kalkulasi dan prediksi yang akurat sesuai dengan sumber daya politik yang dipunyai.

Optimisme yang berlebihan memang di satu sisi bisa dilihat sebagai 'pembangkit gairah', tetapi di sisi lain bisa berakibat fatal jika ambisi itu tidak sesuai kenyataan. Apa artinya membusungkan dada dan mendaku secara meyakinkan bahwa paket kami telah mendapat dukungan dari berbagai parpol, tetapi pada akhirnya 'tak meraih apa-apa'. Bukankah itu sebentuk kebohongan yang bisa merusak citra dan reputasi diri? Dan yang paling tragis adalah sang calon akan frustrasi, depresi, dan bunuh diri jika emosinya tak stabil tak tahan menerima kenyataan politik getir yang menimpa dirinya.

Jadi, poin utama saya dalam tulisan ini adalah para calon bersama barisan pendukung, mesti 'siap mental' dalam menerima segala kemungkinan yang terjadi dalam proses kandidasi di tingkat parpol. Jika ada yang terpaksa 'tidak dilirik  oleh Parpol', kita mesti arif dan cerdas membacanya sebagai efek logis dari politik yang berwatak kompetitif' tersebut. Dalam politik kekuasaan, manusia selalu berpotensi untuk menjadi 'pembunuh' dan dibunuh. Apakah kapasitas dan kapital para petarung itu sudah memenuhi kriteria untuk menjungkalkan rival politik atau justru menjadi mangsa dari politisi bernaluri predatoris? Anda, para pendukung paket calonkan yang tahu persis soal kekuatan dan kelemahan para calon tersebut. Selamat bertarung!

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update