-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BUDAYA SEPA; Cara Komunikasi Paling Efektif di Tengah Gempuran Tehnologi

Sabtu, 20 Maret 2021 | 10:56 WIB Last Updated 2021-03-20T04:00:10Z
Budaya sepa tidak sekedar momen rutinitas untuk mengisi kekosongan atau sekedar hobby kaum Ibu atau Bapak. Sepa bagi kaum Ibu-Bapak Manggarai memiliki makna khas budaya. Sepa mengakar dalam nilai-nilai substansial yang dapat mendorong kaum Ibu-Bapak untuk berkaca pada cinta yang sifatnya universal. 

Dewasa ini, cara hidup manusia beralih haluan menuju ke-tehnologi-an. Gempuran tehnologi mengalih perhatian manusia modern sehingga tanpa di sadari nilai-nilai dalam budaya sepa perlahan tergerus.  Pertanyaannya, apakah sepa dalam budaya Manggarai? Mengapa sepa menjadi momen fundamental yang wajib diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam budaya sepa? Bagaimana cara komunikasi kaum Ibu-Bapak di tengah gempuran tehnologi?

Dalam konteks tersebut, penulis membatasi artikel sederhana ini dengan mengulas kemajuan tehnologi, sepa dalam adat Manggarai, cara komunikasi kaum Ibu-Bapak lewat sepa dan kesimpulannya. Budaya sepa bermaksud agar rahasia yang terkandung dapat dihidupi di tengah kemajuan era digital.

Kemajuan Tehnologi
Di dunia moderen ini manusia mengalami kemajuan dalam pelbagai aspek kehidupan. Sarana-sarana tehnologi sudah hampir dimiliki oleh setiap manusia di desa ataupun kampung-kampung. Pengetahuan-pengetahuan, media komunikasi, internetan, dan aspek lainnya menjadi sarana yang memacu kemajuan dan kecerdasan. Semua manusia baik di kota maupun di desa mengalami dan merasakan sensasi kemajuan tersebut.

Langkah maju kehidupan manusia moderen menjadi sukacita tersendiri bagi pribadi-pribadi khususnya dipedesaan. Gempuran tehnologi ini mengharuskan setiap orang bahkan yang lanjut usinya belajar tentang cara pemanfaatan atau pemakaian sarana-sarana tehnologi tersebut. Sarana seperti mobil, sepeda motor, televisi, HP canggih, penerangan (PLN), dan sebagainya sudah dianggap dan diakui sebagai kebutuhan fundamental. 

Sensasi kemajuan yang dirasakan dan dialami manusia khususnya di pedesaan merupakan angin segar yang dapat membuka pintu ketertutupan dan kebuntuan. Suasana kehidupan rumah tangga pun penuh sukacita. Cara berkomunikasi penuh dengan aroma kenikmatan dan gairah moderen. Dunianya bagaikan firdaus yang mendorong jemarinya ataupun bibir-bibirnya semanis madu saat untaian-untain kata terdengar di HP android. Indahnya pun ada "di sini ataupun di sana".

Seni hidup di dunia tehnologi saat ini semakin menjauh perbedaannya daripada kehidupan sebelumnya. Realitas kemajuan tehnologi merupakan suatu kebanggaan dan sukacita. Luar biasa!! Dalam dunia komunikasi, HP menjadi sarana ampuh untuk mendekatkan yang nun jauh di sana, atau menjauhkan yang dekat meskipun dia mendekat. Namun, sarana ini patut dijempolkan, sebab kehadirannya membuat pemakai mampu mengakses semua informasi, pengetahuan, media pembelajaran; belajar ataupun berlatih, relasi-komunikasi, ruang dialog, dan sebagainya. Karena di dalam HP bila diaktifkan maka tersedia hampir semua apa yang pemakai butuhkan atau carikan. Kemajuan di dunia tehnologi ini menjadi kesuksuksesan bersama meskipun tanpa diketahui seluk-beluk terbentuknya sarana tersebut. 

Selain HP, penerangan (PLN) menjadi suatu kenikmatan tersendiri di ruang rindu. Apa yang dinantikan sudah dan akan terpenuhi. Kedambaan masyarakat terkait penerangan dan kerja keras pemerintah untuk mewujudkannya menjadi suatu dinamika kehidupan yang saling terkait dan pasti terealisasikan, oleh karenanya kerinduan yang dipadukan dengan kesabaran pasti berbuah manis nantinya. Pemerintah pasti mencintai rakyatnya karena dia datang dari rakyat dan hidup untuk rakyat, pasti merindukan hal yang sama.

Demikian juga sarana-sarana lain, semisalnya sepeda motor, setiap orang berjuang untuk memilikinya. Sepeda motor bagaikan sang kekasih. Kemana pun pergi, engkau pasti mengendarainya. Engkau selalu ditemani sarana ini untuk mewujudkan apa yang hendak dicapai. Tatkala pergi kuncar (kunjungan pacar), engkau pasti ditemani meskipun lepaskan dia sejenak demi bercumbu dengan kekasih sejatimu. Sarana ini menatap dan menjadi saksi bisu cumbuanmu dalam ketidakcemburuannya. Engkau dan kekasihmu pun terbantu dalam rahasia cinta sejati yang tiada noda dan dosa. 

Kemajuan tehnologi dewasa ini secara lansung mengubah nasib manusia. Adaptasi dan pacuan semangat hidup di era digital mengharuskan manusia untuk belajar secara terus-menerus dan tak terkecuali. Semangat manusia yang lanjut usia pun perlu diremajakan kembali, setidaknya mereka mengenal sedikit kemajuan tehnologi, semisal, sekedar memegang HP atau menelpon.

Kemajuan di era tehnologi ini tidak hanya menerima dan mengetahui hal-hal positif. Gempuran tehnologi menantang ketangguhan pribadi manusia saat ini. Manusia kuat berarti dia tidak mudah kalah dalam pelbagai pengaruh negatif dari kemajuan era digital. Orang yang tidak tangguh justru terjebak dalam keasyikan dan kelelapan sehingga dia lupa; "lupa istri atau lupa suami, lupa pacar, lupa keluarga, lupa sahabat, lupa waktu bahkan lupa Tuhan". Manusia mengalami degradasi kehidupan di tengah kemajuan dan persaingan-persaingan sarana digital. Pergumulan terkait kemunduran gaya hidup memaksa setiap pribadi bertanya tentang eksistensi dirinya. 

Dalam konteks di atas, manusia modern diajak untuk terlelap dalam keasyikan dan kemajuan tehnologi tetapi melawan lupa sebagai seni merawat hidup yang seimbang; mengutamakan Tuhan dalam setiap keasyikan dan kemajuan tehnologi. Dengan demikian, keseimbangan termeterai dalam nilai kebijaksanaan hidup. 

Sepa dalam Adat Manggarai
Berbicara tentang SEPA sangat baik untuk menjawab tantangan dalam kemajuan tehnologi dewasa ini. Sepa sangat dikenal di kalangan orang Manggarai. Di daerah-daerah lain pasti mengenal dan mengetahui hal tersebut meskipun namanya berbeda. Realitas yang sama dengan sebutan yang berbeda bukan menjadi persoalan rumit. Baik di Manggarai maupun di daerah-daerah lain, hal ini memiliki substansi yang sama. Pertanyaannya, apakah sepa itu?

Sepa dalam bahasa Manggarai bila diterjemahkan yakni makan sirih pinang. Sepa merupakan seni hidup orang tua yang sudah menjadi tradisi. Sepa dipahami sebagai sekedar 'makanan ringan' agar mulut kaum mama-mama atau Bapak tidak mengalami ke-lemeng-an (kekeringan) dan kekosongan. Makanan ringan ini bukan untuk ditelan agar perut kenyang. Bagi yang tidak hobby sepa mereka merasakan suatu keanehan dan kejijikan karena sirih pinang yang sudah dikunyah berwarna merah, airnya itu dibuang perlahan sesuai jangka waktu dan kemauan penyepa (tukang sepa) dan repangnya juga (ampas sepa) dibuang saat tidak ada rasanya. 

Sepa bisa dilakukan kapan dan di mana saja tergantung penyepa tersebut. Saat sendirian pun, kaum Ibu-Bapak makan sirih pinang. Dalam acara lonto leok (duduk bersama atau duduk melingkar dalam rangka mewujudkan acara adat) sepa wajib dilakukan. Sepa dalam lonto leok memiliki makna "menyapa dan menerima" tamu dengan penuh hormat. Sepa menciptakan suasana ris, raes dan reges (menyambut, berngobrol, tertawa dengan penuh bersukacita)  bersama. Dalam sepa, termaktub rahasia teing,  toing dan titong (pemberian, petuah, pengendapan) terkait nilai-nilai kebijaksanaan leluhur.

Budaya sepa merupakan warisan leluhur yang merupakan kuni agu kalo (nilai khas adat leluhur). Dalam lonto leok, acara sepa mendorong setiap pribadi untuk saling mengenal diri. Pengenalan identitas diri merupakan pengetahuan yang sangat efektif. Pepatah mengatakan, "dikenal maka akan disayang, tak dikenal maka tak akan disayang". 

Pengenalan identitas diri berujung pada relasi dan komunikasi positif bagi para penyepa. Dalam sepa, orang-orang yang masuk dalam duduk melingkar tersebut berdialog atau yang disebut dengan dialog budaya. Sensasi kebersamaan sungguh dirasakan dan dialami. Suasana sukacita pun bagaikan mentari pagi terbit dan memercik kehangatan cahaya lembut. 

Sepa dalam lonto leok mampu mengokohkan persaudaraan dan kekeluargaan. Kehangatan dalam suasana kekeluargaan dan persaudaraan tercapai tatkala kasih mesra menjadi substansinya. Kemesraan kasih tak ada batasnya. Mengasih sesama dalam budaya sepa merupakan konsekwensi dari mengasih "Mori Jari Dedek" (Tuhan) di atas segalanya. Sisi positif dari budaya sepa menelurkan pelbagai nilai kasih-setia antar Ibu-Bapak, orang tua dengan anak, antar sesama, antar keluarga bahkan orang yang tak dikenal sebelumnya. 

Budaya sepa juga mendorong para penyepa melakukan pergumulan tentang persoalan-persoalan hidup. Ruang curhat atau dialog tersedia dalam momen tersebut. Ada curhat, keluhan, pelbagai pertanyaan dan sebagainya dapat menghiasi sepa lonto leok. Dalam konteks demikian, sepa merupakan seni berdialog untuk merawat dan menghidupi nilai-nilai kebijaksanaan hidup yang berlandaskan pada kasih mesra Mori Jari Dedek.

Cara Komunikasi Lewat Sepa
Sepa menjadi sarana pengungkapan dan pengkomunikasian diri terkait simponi kehidupan. Sepa dapat dikatakan cara pengkomunikasian budaya yang memperat tali kasih. Jika dalam dunia moderen, sarana pengungkapan diri seperti halnya HP, Sepa juga memiliki makna yang hampir sama dalam keberbedaan hakekatnya.

Pengkomunikasian lewat HP memiliki keleluasaan karena kedua pihak tidak berhadapan muka secara lansung. Suara menjadi sesuatu yang digarisbawahi. Etika pembicaraan teruji sehingga dapat diketahui moralitas keduanya. Tidak hanya segi moral, keseluruhan keberadaan dirinya dikenal dari pembicaraannya. Kebebasan berbicara dapat menentukan arah dialog, apalagi kalau obrolan dengan sang kekasih. Dunia pasti berubah seketika. Pengujian diri menjadi momen yang perlu untuk pengasahan mental dan kemampuan. Sebab, manusia mudah terjebak dalam kata-kata nikmat dan penuh sensual sehingga lupa identitas diri. Namun hal ini hanyalah noda-noda kecil jika dibandingkan pemanfaatan sarana komunikasi secara lebih luas dan kompleks. Kehadiran media komunikasi patut diapresiasi karena memudahkan manusia dalam pencarian dan pencapaian sesuatu yang penting dan mendesak.

Demikian halnya sepa juga berkaitan dengan komunikasi lansung, face to face. Tatapan lansung, suara, atau keseluruhan dirinya hadir dalam adanya. Tidak ada kepalsuan terkait ketampakannya. Keseluruhan esistensi diri tersimpul dalam pribadi yang utuh saat ber-sepa bersama yang dialogis. Pertanyaannya, mengapa sepa merupakan cara komunikasi yang paling efektif di tengah gempuran tehnologi? Alasannya sangat sederhana, karena saat bersepa, eksistensi diri manusia hadir secara lansung dalam pengkomunikasiannya. Ketampakan diri menghidupkan susana sukacita, kemesraan kasih sayang, romantika dialog dan lain sebagainya. Nilai-nilai khas budaya seperti ase agu kae neka woleng tae, ema agu anak neka woleng bantang ( adik-kakak, Bapak-anak seia sekata dalam kasih), neki weki manga ranga bantang cama reje leleng (berkumpul bersama untuk mengambil kesepakatan tentang sesuatu), wake celer ngger wa saung bembang ngger eta, uwa haeng wulang langkas haeng ntala (hidup perlu berakar dalam kasih agar berbuah pada kebaikan, bertumbuhkembangkan dalam kasih-persaudaaran) menjadi tujuan hidup bersama. 

Kesimpulan
Budaya sepa tidak membatasi manusia moderen untuk berekspresi dalam pengkomunikasiannya melalui sarana-sarana tehnologi. Pengaruh tehnologi menjadi suatu yang luar biasa, karena kemajuannya dapat menjamin kehidupan manusia di setiap lini kehidupan. Budaya sepa justru mendukung kemajuan-kemajuan di dunia moderen, asalkan kemajuan-kemajuan tersebut tidak menghilangkan nilai-nilai yang sangat substansial seperti budaya sepa. 

Nilai-nilai dalam budaya sepa seperti, sukacita bersama, pengenalan identitas diri, kasih-persaudaraan, kekeluargaan, dialog aktif, dan sebagainya dapat menjadi landasan pengungkapan dan pengkomunikasian diri di era tehnologi. Budaya sepa menjadi nilai hakiki di tengah gempuran tehnologi sehingga yang jauh mendekat dan yang dekat semakin mendekap nilai-nilai kebijaksanaan hidup. Manusia moderen tidak diajak untuk makan sirih pinang tetapi setidaknya nilai-nilai dalam sepa sangat baik untuk dihayati dan dihidupi di tengah persaingan tehnologi agar hidup tidak mudah diombang-ambingkan oleh arus kehidupan yang tak bertuan dan tak menentu. Mari bersepa untuk perjalanan hidup penuh sukacita.

Oleh: Nasarius Fidin
Penulis adalah alumnus STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur.
×
Berita Terbaru Update