-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

FORUM TAMAN BACAAN MASYARAKAT MABAR

Minggu, 21 Maret 2021 | 14:52 WIB Last Updated 2021-03-21T07:52:26Z
Oleh: Sil Joni*

Menghidupkan kultur literasi di tengah masyarakat, membutuhkan partisipasi dan kontribusi semua komponen. Dengan itu, upaya mengakarkan budaya literasi, menjadi sebuah gerakan yang bersifat intensif, massif, dan sistematis.

Harus diakui bahwa gerakan literasi di Mabar selama ini masih bersifat sporadis, spontanitas, dan temporal. Komunitas yang bergiat dalam bidang literasi berjalan sendiri-sendiri. Kerja berjejaring antarkomunitas, belum digarap secara optimal. 

Situasi bertambah pelik jika kita berbicara soal 'kepedulian' pemerintah daerah (Pemda) dan pemangku kepentingan lainnya yang masih sangat minim. Aksi dan strategi membumikan tradisi literasi tidak menjadi 'agenda politik prioritas' yang dijalankan secara tuntas dan penuh totalitas.

Mungkin berangkat dari 'kondisi buram' itu, institusi sekelas Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Propinsi NTT menginisiasi pembentukan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) di setiap Kabupaten. Proses pembentukan struktur kepengurusan di level Kabupaten, sedang berjalan saat ini. 

Dari 22 Kabupaten/Kota di NTT, tinggal 4 Kabupaten saja yang komposisi kepengurusan organisitoris belum terbentuk. Mabar menjadi salah satu dari 4 Kabupaten yang belum bergerak tersebut.

Karena itu, pihak LPMP berusaha 'menjalin komunikasi' secara intensif dengan perwakilan komunitas literasi di Mabar. Pak Abdul Gafur, staf pengajar di SMAN 1 Komodo sudah 'dihubungi' oleh pihak LPMP untuk menjadi semacam 'koordinator' inisiatif pembentukkan pengurus FTBM tingkat Kabupaten Mabar.

Setelah berkomunikasi dengan beberapa komunitas pegiat literasi, akhirnya pertemuan perdana dalam rangka meneruskan prakarsa positif pihak LPMP itu dilaksanakan sore ini, Sabtu (20/3/2021) di SMAN 1 Komodo. Kebetulan saya mendapat undangan dadakan untuk menghadiri pertemuan itu sekitar setengah jam sebelum acara dimulai.

Kendati para peserta yang hadir belum mengetahui latar belakang, tujuan, jenis kegiatan dan orientasi perjuangan FTBM ini, tetapi semuanya sepakat untuk segera membentuk badan kepengurusan sesuai dengan format yang diberikan oleh pihak Propinsi. Dengan demikian, dalam waktu dekat 'FTBM' di Mabar akan segera dikukuhkan dan mulai berkiprah di tengah masyarakat.

Perlu digarisbawahi bahwa FTBM ini bukan sejenis organisasi formal yang dilengkapi dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) yang baku. Sebaliknya, forum ini merupakan wadah informal yang mengandalkan kerja suka rela dari para anggotanya. Mereka yang tergabung dalam FTBM benar-benar mendedikasikan tenaga, waktu dan juga materi untuk menyukseskan gerakan mengkampanyekan budaya literasi di Mabar.

Tentu ini sebuah misi yang tidak mudah. Frase kunci dalam nama forum ini adalah 'taman bacaan'. Itu berarti ketersediaan taman dan pustaka yang memadai menjadi conditio sine qua non keberhasilan dari gerakan itu. Proses pengadaan fasilitas dan buku bacaan yang bermutu di semua Kecamatan di Mabar, jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

Pertanyaannya adalah apakah anggota forum ini memiliki kapital finansial untuk membiayai semua jenis item kegiatan berkaitan dengan upaya mewujudkan idealisme pembumian kultur literasi itu? Dari mana sumber anggaran untuk memfasilitasi pelaksanaan program demi program dalam forum itu?

Pada bagian awal tulisan ini, saya menyinggung soal partisipasi dan kontribusi semua elemen di Mabar dalam mendukung dan menyukseskan gerakan mengakarkan budaya literasi di Mabar. Untuk itu, melalui goresan sederhana ini, mewakili komunitas FTBM saya ingin 'mengetuk hati' para pemangku kepentingan di Mabar seperti bupati, wakil bupati, anggota DPRD, para Kepala Dinas, para kontraktor, pebisnis dan semua orang yang berkehendak baik untuk boleh mengambil bagian dalam 'gerakan literasi' dengan cara mendukung komunitas FTBM dalam menjalankan fungsinya. Dukungan itu bisa berupa motivasi, saran, dan juga materi.

Saya kira, jika upaya menghidupkan budaya literasi ini menjadi 'gerakan bersama', maka keberhasilan program itu tinggal menunggu waktu saja. Cepat atau lambat 'literasi' menjadi salah satu kebutuhan primer warga. Literasi menjadi salah satu budaya yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update