-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hidup Religius: Riwayatmu Dulu dan Kini

Sabtu, 27 Maret 2021 | 10:31 WIB Last Updated 2021-03-27T03:32:59Z
Tulisan sederhana ini, lahir sebagai komentar/tanggapan pada presentasi akademik yang menarik dari salah satu komunitas kami di Jakarta-Indonesia. Dasar tanggapan ini bertolak hasil bacaan beberapa referensi yang terkait dengan tema yang dipresentasikan. Dan tanggapan atau komentar saya di bawah payung dua sisi masa: dulu dan kini. Masa dulu akan dilihat aspek mistik dan sosial dari para pendiri kita. Dan masa kini akan dilihat aspek sosio-religius kita dalam terang anjuran apostolik Evangelii Gaudium no.78-109, yang membahas tentang “Godaan-godaan yang dihadapi oleh kita sebagai pekerja pastoral”. Untuk kita Paus menyebut dengan predikat sebagai pekerja-pekerja pastoral.

Bagian ini akan ditampilkan satu dua tiga gagasan dan teguran konstruktif yang bisa kita temukan pada Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium dari Paus Fransikus yang di promulgasi pada 24 November 2013. Rasa saya, dokumen ini masih sangat segar untuk membantu kita melihat kondisi sosial-religius kaum hidup bakti zaman ini. Di bawah judul “Godaan-godaan yang dihadapi oleh para pekerja pastoral” (art. 78-109), di mana Paus memasukkan para hidup bakti ke dalam kelompok kaum pekerja pastoral. 

Kondisi Kita Sekarang
 Paus Fransikus menulis: “Saat ini kita sedang menyaksikan dalam diri banyak pekerja pastoral, termasuk para biarawan dan biarawati, perhatian berlebihan akan kebebasan pribadi dan hidup santai, yang menjadikan mereka melihat karya mereka sebagai suatu tambahan belaka pada hidup mereka, seolah-olah karya itu bukanlah bagian dari identitas mereka sendiri” (art.78). Masih dalam arttikel ini, Paus mengemukakan bahwa mengutamakan kebebasan pribadi akhirnya melahirkan semangat individualisme dan individualisme itu mengendurkan sendi-sendi kehidupan spiritual dan sosial kaum religius dan akhirnya melahirkan krisis identitas seorang religius. Demikian pula gaya hidup santai sudah masuk di dalam komunitas-komunitas biara, dan hidup santai itulah yang memperparah krisis identitas kaum religius, yang akhirnya berujung pada kendurnya semangat bermisi. 
 Lalu dengan nada lebih tegas, Paus dalam artikel selanjutnya, artikel 83, menulis: “Dengan demikian, terbentuk ancaman terbesar: pragmatisme abu-abu dalam hidup harian Gereja, di mana semua kelihatan berlangsung secara normal, padahal kenyataannya iman sedang melemah dan merosot menjadi kepicikan”.  Dengan lain kata, saat ini kaum religius hanya secara lahiriah atau secara sosial tampaknya berjalan seperti semangat pendiri dan tuntutan Gereja, tetapi secara spiritual sesungguhnya sudah keropos. Bisa saja kekeroposan itu tidak disadari atau pun disadari tetapi tidak dihiraukan.   
 Bertolak dari kondisi sosial religius yang demikian maka  pada artikel 93, Paus lanjut menulis: “Keduniawian rohani yang bersembunyi di balik penampilan kesalehan dan bahkan kasih pada Gereja mencari bukan kemuliaan Allah melainkan kemuliaan manusia dan kesejahteraan pribadi”. Menurut Paus, keduniawian rohani para religius itu wujudnya adalah mencari kepentingan sendiri dan bukan lagi kepentingan Kristus Yesus. “Keduniawian ini juga bisa diterjemahkan ke dalam berbagai cara untuk menunjukkan dirinya sangat terlibat dalam kehidupan sosial yang diisi dengan banyak perjalanan, pertemuan-pertemuan, makan malam dan resepsi. Hal ini juga terungkap dalam fungsi manajerial, yang sibuk dengan manajemen, statistik, rencana dan evaluasi di mana penerima manfaatnya bukan umat Allah melainkan Gereja sebagai institusi”, tulis Paus Fransiskus.   Akhirnya Paus menutup artikel ini dengan mencatat sebagai akibat dari keduniwian rohani itu: “Semangat evangelisasi digantikan oleh kesenangan hampa akan kepuasan dan pemuasan diri”. Visi para pendiri kita dulu bisa dikatakan menjadi hilang, tertutup abu ego diri kita. Tugas kita sekarang untuk menyingkirkan abu itu agar panasnya api hidup religius kembali memberi kehangatan bagi banyak orang. Kita ambil waktu satu dua menit untuk meresapkan kata-kata diatas. 

“menjadi religius membuatmu mudah menghakimi orang lain, kasar, keras dan angkuh. Periksalah! Kamu menyembah Tuhan atau egomu?”
×
Berita Terbaru Update