-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ibu Merawat Luka

Minggu, 28 Maret 2021 | 19:05 WIB Last Updated 2021-03-28T12:09:11Z
Pada tahun yang silam diseluruh pelosok daerah di Indonesia perna mengalami masalah ekonomi yang buruk. Tahun tersebut seluruh warga, baik di kota maupun di desa mengalami kelaparan. Banyak warga masayarakat yang meninggal karena kelaparan. Betapa sedihnya mereka waktu itu, tidak bisa menolong satu dengan yang lain. Semuanya serba susah.

Negara pada waktu itu sungguh sangat kejam, layaknya seperti dibawah pemerintahan tirani. Jadi seluruh masyarakat takut untuk menjerit apalagi sampai melawan. Aturanya sungguh menyakitkan, siapa yang melawan penguasa berarti dia akan dibunuh. Jadi kemelaratan pada saat itu ada di-mana-mana disetiap daerah. Tetapi dibalik kekejamannya, para Pemimpin selalu mengajak masyarakatnya untuk mengikuti pesta kenegaraan. Sehingga kelihatan negara sangat mencintai masyarakatnya.

Perna disalastu acara Ke-negaraan dimana waktu itu dihadiri oleh seluruh warga masyarakat. Mulai dari sepatu tumit tinggi hingga yang tidak memakai sendal berbondong-bondong menuju istana, semuanya berjubel di Istana. Tiap-tiap suku ras dan golongan menggunakan pakyian adatnya masing-masing. 

Ada salasatu wartawan yang terkagum melihat pakyan adat yang di miliki oleh sala satu orang, dan ternyata orang tersebut adalah orang NTT.  Para wartawan kompas hendak mewawancarainya, kemudian diberbagai media lainnya juga ikut mewawancari, seperti tv one, metro dan lain-lainnya. Sejak saat itu pakyan adat NTT mulai terkenal di seluruh pelosok negeri. Saking terkenalnya, para Pejabat tinggi seperti presiden para menteri, DPR dan pejabat lainnya sering menggunakan pakyan adat pada setiap pesta kenegaraan.

Dalam acara tersebut, tiap-tiap kelompok suku duduk berjejer. Para pejabat dipersilahkan duduk dibangku paling depan. Berbagai pentasan seperti; tarian adat, drama, musik dan jenis tari lainnya dilakoni pada acara tersebut. Kata sambutan dan pidato dari pejabat negara menggaungi sampai kesudut-sudut gedung. Semuanya berkaitan dengan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Seluruh masyarakatnya berangguk-angguk dan seakan-akan tidak lagi ada lagi perasaan dengki yg dialaminya.

Setelah lama seluruh warga mendengarkan pidato-nya, semuanya terasah lelah. Ternyata pada malam itu, ada seorang ibu yang mengikuti acara tersebut hanya untuk mendapatkan nasi bungkus. Acara Santap malam pun dimulai, ruangan makan penuh sesak. Nasi bungkus dibagi kepada setiap  orang yang mengikutinya.

Sayangnya, ada salah satu ibu tidak sempat makan. Dan Ia  harus membawa makanannya kerumah, karena Ia memikirkan anak-anaknya yang belum makan. Cinta seorang ibu kepada anak melebihi batas-batas ruang dan waktu, relah untuk menyimpan Luka dalam suasana kesenangan. Ketika acara sudah berakhir, ibu tersebut hendak bertemu kepada salasatu pejabat negara untuk meminta belaskasihan, tetapi apalah daya security  dari sang pejabat tidak mengijinkan kepada ibu tersebut untuk bertemu.

Sang ibu pun pulang dalam keadaan lapar, dan sang pejabat pulang dengan keadaan kenyang.
Sampai di rumah ibu tersebut bercerita kepada semua anaknya tentang acara malam minggu di istanah katanya, nak, ibu terasa kagum melihat pejabat kita menggunakan pakyan adat. Saya senang mendengar pidato dari pejabat kita tentang keadilan dan kesejahteraan. sangat memukau hati ibu.  

Sambil mengunya makanan, Anak tersebut bersahutan dengan ibunya dan bertanya;
Ibu, kalaupun pejabat tersebut berbicara tentang keadilan dan kesejahteraan, mengapa di daerah kita masi banyak masalah kelaparan? 

Ibu pun mulai menjelaskan, tetapi waktu ibu mulai menjelasnya tiba-tiba lampu mereka padam, lalu ibunya pelan-pelan  mengajak anak untuk tidur, nak kita tidur.

Oleh: Zambrot Zambrotta
☕☕☕
×
Berita Terbaru Update