-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

INI BARU BUPATI

Jumat, 19 Maret 2021 | 20:10 WIB Last Updated 2021-03-19T13:10:11Z
Oleh: Sil Joni*

Belum genap sebulan Edi-Weng menjalankan tugas sebagai bupati dan wakil bupati Manggarai Barat (Mabar), tetapi pelbagai 'kisah positif' tentang debut politik mereka, menuai decak kagum dari publik. Gebrakan politik yang diperagakan secara progresif dan revolutif pada pekan-pekan awal masa pemerintahan mereka, memberikan garansi kepada publik akan hadirnya wajah Mabar yang lebih segar.

Misi 'mereformasi etos kerja' birokrasi mulai termanifestasi. Metode inspeksi mendadak (sidak) ke setiap kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sudah membuahkan hasil. Aspek kedisiplinan dan keprofesionalan birokrat digenjot dan perhatian terhadap kebersihan lingkungan perkantoran tampak dijalankan secara konsisten. Kultur pelayanan di kantor-kantor mengalami perubahan yang signifikan.

Mental sebagai 'big boss' yang sering menghinggapi tubuh birokrat perlahan-lahan 'terkikis'. Testimoni informal yang digaungkan oleh sebagian publik yang terlayani, menunjukkan bahwa para birokrat di kantor-kantor publik memperhatikan secara serius dan total pelaksanaan fungsinya sebagai 'pelayan publik'.

Bupati dan wakil bupati tak pernah jedah dan lelah 'menyuntikan spirit pelayanan prima' ke dalam tubuh para pegawai. Ada sebuah kisah sederhana di kantor X. Wakil bupati mengadakan sidak. Para pegawai yang sebelumnya 'masih mondar-mandir' di dalam dan di luar kantor, tiba-tiba 'bergegas' dan berlomba untuk memberikan pelayanan yang ramah kepada sang wakil bupati.

Namun, sang wakil tak 'terhipnotis' dengan pelayanan yang dibuat-buat itu. Justru sebuah pertanyaan dan pernyataan gugatan dilemparkan oleh wakil bupati itu. Kebetulan di situ, ada beberapa individu yang rupanya sejak dari tadi 'antri' untuk mendapat pelayanan.

Situasi seperti itu dipakai oleh wakil bupati untuk 'menyadarkan' para birokrat itu akan tugas dan fungsi pokok mereka ketika berada di kantor itu. "Apakah kamu sudah 'melayani' orang-orang ini? Bukan saya yang harus kamu layani, tetapi masyarakat. Jadi, semestinya pelayanan yang ramah dan prima ini diberikan kepada masyarakat, bukan saya", terang wakil bupati.

Kisah sederhana ini menunjukkan komitmen dan keseriusan 'wakil bupati' dalam mengubah mentalitas birokrat kita. Mereka tidak dipilih dan dipanggil untuk 'menyenangkan hati atasan', tetapi semata-mata melayani kepentingan masyarakat secara total dan serius. Masyarakat adalah 'raja' yang mesti mendapat porsi pelayanan yang optimal, bukan bupati atau wakil bupati.

Saya juga mendengar kisah mengesankan dari bupati Edi Endi yang secara tegas 'memangkas anggaran untuk Perjalanan Dinas Para pejabat' di daerah ini. Bahkan, pak Bupati tak segan-segan 'menegur' Kepala Dinas yang datang membawa Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) untuk ditandatangani oleh bupati di mana 'pelaku utama perjalanan itu' adalah sang kepala Dinas tersebut. 

Padahal, tujuan perjalanan itu hanya untuk 'memonitor pelaksanaan proyek yang sangat teknis sifatnya dan sebenarnya menjadi bidang tugas bawahannya. Tetapi, rupanya para Kepala Dinas kita 'terbiasa' untuk memonopoli kegiatan perjalanan dinas tersebut.

Jika kisah kecil itu benar, maka pak Bupati sudah memperlihatkan komitmen politik yang kuat untuk mengubah pelbagai 'tradisi birokrasi' yang kurang produktif. Ini sebuah terobosan politik yang sangat konstruktif yang bisa berimplikasi pada proses percepatan perwujudan kebaikan umum di Mabar ini.

Selain itu, beberapa isu politik krusial seperti krisis air minum bersih, masalah sampah, penertiban aset Pemda, dan isu kemacetan dalam kota, ditanggapi secara serius melalui serangkaian kebijakan yang tidak hanya berhenti pada tataran retorika, tetapi dieksekusi secara terukur.

Isu kemacetan misalnya, bupati Edi dengan taktis dan brilian menawarkan solusi konkret dengan 'membuka beberapa ruas jalan alternatif' dalam kota. Kecerdasan pak Edi dalam 'bernegoisasi' dengan pemilik lahan, patut diapresiasi. Sampai detik ini, setidaknya, melalui pemberitaan media, kita mengetahui bahwa bupati Edi 'sangat sukses' membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat.

Dari narasi di atas, untuk sementara kita tiba pada kesimpulan bahwa publik tak keliru memberikan mandat politik itu kepada duet Edi-Weng dalam kontestasi politik Pilkada Mabar 9 Desember 2020 yang lalu. Kerja-kerja politik sebagai bupati dijalankan dengan gairah yang tinggi dan dalam spirit tercapainya perubahan yang nyata. Jadi, ungkapan yang pas untuk menggambarkan performa politik itu adalah 'ini baru bupati'. 

Tentu, harapannya spirit dan komitmen ini 'tidak cepat luntur dan pudar' seiring derasnya arus kepentingan yang mengalir dalam tubuh kekuasaan. Edi-Weng mesti tetap berjalan pada 'rel politik perbuhan' yang sudah dirintis dengan sangat elegan di awal periode kepemimpinan mereka.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update