-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kemenangan Salib, Kemenangan Yang Menyuarakan “Berhenti Mengatakan Tak Beragama”

Senin, 29 Maret 2021 | 07:20 WIB Last Updated 2021-03-29T00:25:21Z
Sudah berkali-kali bom bunuh diri dilakukan di gereja dan menelan korban jiwa, namun setiap kali itu terjadi, dibalik ucapan belasungkawa dan kutukan terhadap pelaku bom bunuh diri, selalu terucap kata-kata “pembelaan” yang bagi saya juga ikut membela “pelaku” bom bunuh diri; “pelaku itu tidak beragama!” Karena setiap agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian.

Demikian sabda pembelaan yang justru semakin memberikan ruang gerak bagi mereka bahwa “karena tidak beragama, maka boleh melakukan kekerasan.” Benarkah pelaku tidak beragama? Saya tetap mengatakan ketika itu terjadi di Indonesia, maka siapapun pelakunya dia bergama yang memiliki paham radikal. 

Peristiwa bom bunuh diri kembali terjadi dan terjadi di gerbang gereja Katedral Makasar. Kejadian hari ini bertepatan dengan perayaan Ekaristi Minggu Palma, perayaan dimana Yesus memulai penderitaan-Nya.

Perayaan dimana menjadi permulaan Salib. Sebagai pengikut Kristus, tragedi hari ini merupakan sebuah peristiwa salib, namun bukan sekedar salib yang “mengamini” perbuatan pelaku dengan sepenggal doa; “Ampunilah dia karena dia tidak tahu apa yang ia perbuat.” (Bdk. Luk 23:34). Karena bagi saya dia tahu dan sadar melakukan itu. 

Doa Yesus dari atas kayu Salib, bukan saja untuk orang-orang Yahudi yang telah menyalibkan Dia, tetapi dengan doa itu Yesus sedang menunjuk sebuah kebenaran kepada kita bahwa karena dosa kita, Ia disalibkan. Di samping itu dengan doa, itu Yesus sedang menunjukan kepada kita kebenaran salib yang mengajak kita untuk bertobat. 

Lantas, kepada seorang pelaku bom bunuh diri, doa Yesus dari Salib digunakan untuk “membenarkan” tindakan sang pelaku, itu sama saja kita mendukung tindakan bejat dia, bahkan kita sendiripun berusaha menutup mata kita terhadap tindakan bejatnya. Pertobatan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang sudah meninggal dengan melakukan bom bunuh diri yang diyakininya sebagai jalan menuju surga?

Tragedi hari ini merupakan salib yang menguhkan dan menguatkan iman kita. Bahwa salib yang kita alami justru semakin menguatkan iman kita untuk mengasihi dan mencintai. Artinya kemenangan salib adalah saat dimana kita tidak akan pernah melakukan tindakan balas dendam seperti yang dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri.

Namun kemenangan salib itu semakin nyata ketika menjadi kemenangan yang menyuarakan kebenaran bahwa “pelaku adalah beragama”. Salib menjadi jalan untuk sampai pada sebuah pengakuan yang benar dan jujur bahwa “pelaku adalah beragama” dan bukan menjadi tameng untuk menutupi kebohongan dengan alasan saleh; “dia tidak beragama”, karena setiap agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian.

Sebagai umat Katolik kita tentu tidak lupa dengan pengalaman pertobatan seorang penyamun yang disalibkan bersama Yesus. Kemenangan salib menjadi sangat nyata ketika Salib mampu mengungkapkan kebenaran dalam sebuah penyesalan dan pengakuan kesalahan di menit-menit terakhir hidupnya namun membawanya pada keselamatan (bdk. Luk 23:39-43). Salib menyuarakan kebenaran pada penyampun itu bahwa; “saya salah.” Sebuah pengakuan akan kesalahan pribadi namun juga pengakuan iman kepada Yesus.

Demikian juga dengan Petrus dan Yudas. Salib menjadi kemenangan yang menyuarakan kebenaran atas penyangkalan Petrus terhadap diri Yesus (bdk. Mrk 26:75). Hal yang sama juga terjadi pada Yudas. Salib telah membukakan mata hatinya yang secara jujur menyesali dan mengakui kesalahannya karena telah menyerahkan darah Yesus yang tak bersalah (bdk. Mat 27:3-4).

Dari sini kita bisa melihat dengan jelas bahwa jika tragedi bom bunuh diri hari ini (28 Maret 2021) di gerbang Katedral Makasar adalah Salib bagi kita semua umat Katolik yang memulai perjalanan salib pada hari ini melalui perayaan Minggu Palma, maka salib itupun sedang menggugat kita agar menjadikan salib sebagai kemenangan yang menyuarakan “pelaku bom bunuh diri beragama dan berhenti mengatakan tak beragama.”

Manila: 28 Maret 2021
RP. Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update