-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika TV dan HP Menjadi "Tabernakel"

Selasa, 16 Maret 2021 | 15:39 WIB Last Updated 2021-03-16T08:41:03Z
Oleh: Sil Joni*

Kendati para teoretisi sosial membaptis zaman ini sebagai 'era pos-sekuler, tetap tak bisa dibantah bahwa spirit sekularisme tetap mendominasi perilaku manusia saat ini. Dimensi 'sakralitas' yang begitu 'tertanam dalam alam pikiran' manusia di masa lalu, kini nyaris 'terkikis'. 
 
Fenomen 'renaissance agama-agama' seperti yang dilansir sejumlah pemikir, tidak untuk membantah 'tesis raibnya' pesona yang kudus dalam ruang publik. Entitas religius terus didesak dan didepak ke ruang privat. Manusia posmodern lebih 'terpikat' pada perangkat teknologi ciptaan sendiri ketimbang atribut religius yang dilihat sebagai simbol 'kehadiran Yang Transenden".

Membaca arah pendulum peradaban saat ini, kita menangkap semacam 'gerak yang ambisius' dari manusia untuk menjadi 'setara bahkan melebihi yang Ilahi'. Manusia menyamakan dirinya dengan yang ilahi. Homo Deus. Predikat ini bukan sekadar hipotesis saintifik. Tetapi, secara progresif mulai termanifestasi dalam lintasan perkembangan peradaban di kekinian.

Manusia mana yang 'tidak bergaul' dengan Telepon Pintar dengan pelbagai fitur dan aplikasinya? Individu mana yang 'tidak tertarik' untuk menonton TV? Bisa dipastikan bahwa mulai dari bocah ingusan hingga kakek dan nenek yang sudah uzur, terpesona dengan tampilan dan kilauan perangkat teknologi tersebut.

Sulit ditampik bahwa TV saat ini menjadi "tabernakel" yang ditkhtakan di altar keluarga. TV sukses menggeser "atribut spirtual" yang bisa "meransang" praksis iman kita.  Posisi Tv sangat sentral dan strategis, sedangkan "perabot-perabot sakral" semakin terdesak ke sudut.

Hampir setiap hari kita "menyembah sakramen penyalur informasi profan nan sekuler ini". "Kotak ajaib" itu telah "membius kedaran kita". Aura magis kemodernannya begitu memikat. Para kapitalis media sangat lihai mengaduk emosi pemirsa yang adiktif terhadap pesona media elektronik ini.  Mata kita disuguhi aneka acara yang dikemas secara atraktif dan dibumbui dengan ketegangan emosional yang mendebarkan. 

Kita merasa rugi, jika tidak mengikuti seluruh plot cerita dalam aneka program tersebut. Akibatnya, kita rela duduk berjam-jam di depan layar kaca. Tetapi, anehnya kita selalu berdalih bahwa kita tak punya cukup waktu untuk mengikuti kegiatan rohani di kelompok atau di rumah ibadat. kita sebenarnya sudah diperbudak oleh media.

Kualitas komunikasi dan relasi interpersonal pun mengalami degradasi yang mencemaskan. Perbincangan dari hati-ke hati di dalam keluarga hampir sulit ditemui sebab semua anggota keluarga "berebut tempat dan waktu" untuk berkomunikasi secara monologis dan asimetris dengan Tv.

Rupanya "virus sekularisme" sudah merambah ke ranah keluarga. Hal-hal yang berbau spiritual terdepak dan sudah tak menarik lagi bagi homo digitalis sekarang ini. Kemodernan seolah-olah ditakar oleh seberapa sering kita bergaul dengan perangkat teknologi digital. Salam.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update