-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kuliah Sambil Kerja dan Kerja Sambil Kuliah

Jumat, 26 Maret 2021 | 18:00 WIB Last Updated 2021-03-26T11:00:08Z
Oleh: Sil Joni*

Dua proposisi dalam judul di atas, pada level logis-konseptual bisa dibedakan, tetapi cukup problematis pada ranah aksi. Garis pembeda antara keduanya boleh jadi lenyap dalam kenyatannya.
Perbedaan antara keduanya hemat saya terletak pada penekanan dan derajat perhatian terhadap dua bidang tugas itu. 

Titik tekan pernyataan pertama adalah aktivitas perkuliahan. Kerja tidak lebih sebagai aktivitas tambahan atau sampingan. Sebaliknya, dalam pernyataan kedua, kerja menjadi 'elemen utama yang mendapat prioritas perhatian. Kegiatan perkuliahan hanya sebagai kegiatan 'tambahan'.

Pemaknaan dua pernyataan ini pada level praksis, tentu tidak sama persis dengan skema penalaran logis di atas. Garis batas antara keduanya, menjadi kabur sebab keduanya berujung pada tujuan yang sama di mana dua profesi itu dijalankan secara relatif berimbang.

Diskusi tentang semantik dua proposisi itu, kita tinggalkan. Penulis berusaha "memotret" secuil dimensi substansial dari dua pernyataan di atas. Kuliah sambil kerja atau sebaliknya, tentu bukan fenomena sosial yang baru. Kita sering mendengar atau melihat secara langsung "perjuangan" tak kenal lelah dari para mahasiswa  yang menjalankan dua pekerjaan dalam waktu yang sama. Selain itu, ada juga pekerja yang merangkap sebagai mahasiswa.
 
Ada banyak alasan atau motivasi mengapa dua pekerjaan itu dijalankan secara bersamaan. Pertama, umumnya mahasiswa yang memilih untuk menjalankan profesi rangkap itu didesak oleh kondisi ekonomi (keuangan) orangtua yang serba terbatas. Gairah untuk meraih titel sarjana begitu tinggi sehingga "keterbatasan ekonomi orangtua" disiasati dengan mengoptimalkan skill untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Kedua, alasan kemandirian. Ada mahasiswa yang secara sadar 'memilih opsi' kuliah sambil kerja untuk meminimalisasi mentalitas ketergantungan (sikap parasit) pada orangtua. Mereka mungkin berasal dari keluarga yang 'berada' secara ekonomi. Tetapi, mereka tidak ingin bergantung pada kekayaan yang dipunyai oleh orangtua mereka.

Ketiga, belum puas dengan 'level' keilmuan yang sudah diraih. Motivasi ini umumnya kita  jumpai dalam diri para pekerja yang sudah mapan. Kuliah menjadi pilihan logis untuk 'menambah' wawasan dan skill sehingga semakin mudah dalam meniti karier selanjutnya.

Saya berpikir kuliah sambil kerja memiliki nilai plus yang jika dikelola secara kreatif bisa menjadi bekal berharga bagi perjalanan hidup selanjutnya. Pertama, mahasiswa yang kuliah sambil kerja tentu kaya dengan pengalaman. Refleksi akademik mereka akan semakin kokoh sebab dipadukan dengan pengalaman konkret.

Kedua, pengalaman di dunia kerja bisa 'memantapkan' komitmennya untuk mengikuti proses perkuliahan secara serius. Setidaknya, sang mahasiswa mengetahui secara jelas hal-hal apa saja yang mesti 'dipelajarinya' secara intensif agar tidak tersingkir di dunia kerja.

Ketiga, daya juang mereka semakin teruji. Mereka yang kuliah sambil kerja 'tidak mudah menyerah atau pasrah'. Spirit petarung dalam diri begitu kuat. Mereka lebih 'siap' menghadapi kerasnya pertarungan dalam dunia kerja.

Meski demikian, kuliah sambil kerja tidak tanpa 'risiko'. Jika kita tidak bijak 'memanage waktu', maka besar kemungkinan energi kita lebih banyak tersedot untuk urusan pekerjaan ketimbang kegiatan akademik di Kampus. Kita tidak bisa secara 'total dan sepenuh hati' mengikuti serangkaian aktivitas saintifik di Perguruan Tinggi tersebut.

Alhasil, dari sisi legalitas, kita berhasil 'meraih gelar akademik', tetapi dari sisi proses dan kedalaman pemahaman kita terkait hal-hal teoretis-abstrak untuk suatu bidang keilmuan, mungkin tak terlalu memuaskan. Dilema ini tentu saja bersifat subyektif. Boleh jadi, ada yang tidak 'terpengaruh' dengan beban pekerjaan ketika mengikuti proses perkuliahan di kampus.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update