-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MAHKOTA DURI, SALIB DAN CORONA (COVID-19)

Selasa, 30 Maret 2021 | 10:09 WIB Last Updated 2021-03-30T03:19:07Z
Oleh: Pater Wendly J. Marot, SVD

Pada misa Minggu Palma beberapa hari lalu (28/3), para suster di sebuah biara mengerutkan kening ketika saya bilang dalam kotbah saya bahwa, apa yang kita alami sekarang, sudah dialami Yesus, corona (covid-19) yang sekarang menyebar di seluruh pelosok dunia dan memakan korban yang tidak terhitung, sudah dialami Yesus, walaupun dalam bentuk lain. Yesus pun dulu sudah sempat “terserang” Corona! Dalam injil tidak dikisahkan! Seorang suster memberikan reaksi tidak setuju. Karena itu setelah perayaan ekaristi, dia mengajukan protes.  Pastor sudah menciptakan injil baru! Lalu saya menjelaskan kepada mereka dengan nada kelakar bahwa, sebelum Yesus disiksa, memikul salib dan disalibkan, para serdadu menaruh di kepala Yesus sebuah CORONA, MAHKOTA BERDURI. Kita bisa melihat gambar virus corona lalu dibandingkan dengan mahkota duri yang dikenakan pada kepala Yesus, kelihatannya mirip. Dan arti harafiah dari corona adalah mahkota. Virus covid-19 itu disebut corona karena bentuknya seperti mahkota. Dalam konteks virus, tentu mahkota itu adalah mahkota yang membawa luka, meninggalkan duka dan bahkan mencabut ribuan nyawa.

Mahkota duri dan Salib: Corona Yesus

Sebelum disesah, pakaian Yesus ditanggalkan dan orang menganyam sebuah mahkota dari tumbuhan berduri. Para serdadu sedang melakukan sebuah sandiwara penghinaan; pengakuan atas Yesus sebagai Raja namun dengan mahkota dari duri. Ini bukan pelantikan yang berwibawa melainkan sebuah penghinaan yang kejam. Tentu secara manusiawi, perlakuan itu mencederai kemanusiaan dan mendatangkan beban psikologis. Ketika Yesus menerima mahkota duri, Dia tahu itu menyakitkan. Itu artinya, Yesus menerima penderitaan psikis dan juga fisik. Namun bagi Yesus, hanya kepasrahan yang menjadi pilihannya. Ketika mahkota itu dipaksakan masuk di kepalanya, sekonyong-konyong kulit kepalanya ditembusi duri, tercabik dan darah pun mengalir membasahi kepala, dahi, turun ke pipi, mata dan terus jatuh ke tanah dan kerikil.

Kita yang hanya membayangkannya saja sudah merasa ngeri sendiri, merinding dan spontan tubuh gemetar ketakutan. Mahkota duri itu, tidak hanya ditaruh tapi ukurannya sengaja dibuat kecil agar ketika dimasukkan ke kepala, mau tidak-mau harus didorong, ditekan secara paksa; dan tentu agar lebih kuat tertahan di kepala, durinya harus masuk ke dalam daging.
Yang lebih menyakitkan adalah, ketika sudah menerima mahkota duri, membiarkan kepala ditembusi, masih juga ada duri dari cambuk yang menembus kulit halus sekujur tubuh. Kulit tercabik, daging terciprat , darah muncrat, keringat masuk dan perih. Rintihan dan erangan tidak menyembuhkan luka. Yang ada tenaga terkuras, dahaga rindu akan air meningkat tapi air cuka saja yang sudah menunggu.

Dengan kondisi tubuh yang sudah melemah karena banyaknya darah yang mengalir membasahi tanah, Yesus masih dipaksa untuk memikul Salib yang besar, jatuh bangun, lutut kena batu,luka, kepala kena kerikil dan batu tentu luka, tangan lecet, tulang retak. Namun, Dia harus menyelesaikannya. Dia berjuang sampai titik darah penghabisan diiringi teriakan hinaan dan caci maki dari orang-orang yang sudah dirasuki roh kebencian yang tidak mau lagi mengakui kebenaran.

Di puncak Golgota, drama penyaliban menjadi semakin brutal dan keji: kaki tangan ditembusi paku, tubuh merapat berdiri menggantung hanya bertumpu pada tangan dan kaki yang ditembusi paku. Tak kuat memikul badan yang berat, tangan tercabik. Lalu lambung ditikam, keluarlah darah, dan ketika darah sudah kehabisan stok, munculah air. Kematian pun menjemput.

Kita melihat sepintas saja, drama mahkota duri dan penyaliban hingga pada kematian Yesus itu tentu sangat mengerikan, tidak manusiawi dsb. Dan mungkin ada dari antara kita yang mengutukinya.
Untuk apa semua itu?
Bahkan orang ateis menganggap kita gila, percaya pada Allah Bapa yang membiarkan putranya mati konyol begini. Saya pribadi pernah bertemu dengan seorang mantan umat Katolik. Namanya Lusia. Dia berasal dari Australia. Menurut pengakuannya, pada masa kecilnya dia habiskan hari Minggu dan hari raya di gereja sebagai misdinar. Sampai usia remaja, dia masih setia. Akan tetapi, kemudian dia mengundurkan diri, bukan hanya dari misdinar namun juga dari keanggotaan Gereja. Dia memilih untuk tidak beragama dan juga tidak percaya kepada Tuhan. Baginya agama yang paling benar adalah humanisme. Untuknya, tak penting Tuhan ada atau tidak. Yang utama dari kehidupan adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Pertanyaan mendasar dari dia adalah: ayah macam apa yang membiarkan putranya disiksa dan dibunuh secara kejam. Allah macam mana yang menghendaki manusia menderita, memikul salib agar memperoleh kehidupan yang bahagia? Kalau dia allah kenapa dia tidak mau mengubah segala kemalangan mennjadi berkat. Allah yang menghendaki orang siap memikul salib adalah allah yang mencederai perikemanusiaan. Bagaimana mungkin allah bisa mengabaikan rasa kemanusiaan?
Saya sendiri merasa bahwa pertanyaan dan keraguan itu memiliki dasarnya, terutama ketika kita membenturkan iman dengan rasionalitas, cara berpikir dengan alur logika manusiawi kita. Allah yang demikian kejam itu untuk apa diakui. Allah itu hanya ciptaan akal orang-orang bodoh yang tidak bisa mencari jalan keluar akan masalah hidupnya.
Tapi mari kita turunkan tensi kita sejenak. Ada apa dengan Allah kita yang demikian kejam ini?

Untuk lebih mengerti tentang rencana Allah ini, hal pertama yang harus kita tahu adalah untuk apa Allah mengutus putraNya. Tentu ini kita bergerak dalam logika iman, bukan “logika secular”. 
Siapakah Allah dalam drama penyaliban Yesus? Dan tentu siapakah Yesus?
Sebagai orang beriman saya pun berani berkata bahwa Allah tidak dapat diragukan lagi, tentu menjadi asal muasal sekaligus menjadi tujuan akhir dari kehidupan. Dia jugalah penjamin keselamatan manusia. Sebagai asal muasal dan penjamin keselamatan manusia sampai akhirat, tentu satu spirit dasar yang Dia miliki sesuai dengan identitasNya sendiri, yaitu KASIH. Artinya Dia adalah Kasih dan tentu Dia mengasihi manusia sebagai ciptaanNya dan mencintai dengan cara yang paripurna. Pengutusan Yesus adalah wujud Nyata dari kasih Allah itu; bahwa Dia tidak mau terkesan berpangku tangan (Deisme) dari jauh. Dalam sejarah keselamatan, sejak awal mula Allah berupaya terlibat langsung dalam kehidupan manusia; Dia mengutus para Nabi, dan terakhir Dia mengutus PutraNya sendiri, untuk mendampingi manusia, memanggil manusia ke jalan yang benar. Jadi tidak benar bahwa dengan tragedy Salib dan tragedy yang menimpa manusia seolah-olah Allah mencederai kemanusiaan. Allah malah menjunjung tinggi kemanusiaan, dengan cara mengutus utusannya, menyerukan pertobatan agar tidak tertimpa mala petaka. Namun yang terjadi adalah, manusia yang dikaruniai kehendak bebas, rasionalitas dan nurani, kadang bahkan lebih sering menggunakan kemampuannya untuk berbuat sesuka hati dan mencederai diri sendiri. Kemalangan manusia dalam arti tertentu adalah akibat dari hidup di dunia yang terbatas dan juga akibat dari penyalahgunaan kebebasan nurani dan rasionalitasnya.
Yesus sendiri adalah kebenaran yang menjadi jaminan terakhir keselamatan manusia. Ketika kehadiran dan suara para Nabi tidak lagi digubris malah dilawan oleh manusia, maka Allah mengutus putraNya sendiri, Messias ke tengah dunia. Namun apa yang terjadi, manusia pun menolaknya dan menghukumNya sampai mati. Lalu mengapa Allah membiarkannya dihukum sedemikian keji? Jawabannya adalah KASIH AGAPE! KASIH ALLAH UNTUK KESELAMATAN MANUSIA. Yesus mati sebagai wujud nyata dari kasih Allah. Bagi dunia itu adalah kekonyolan dan kebodohan, namun bagi orang percaya kematian Yesus adalah KASIH DAN JAMINAN AKAN KESELAMATAN.

Yesus sendiri bilang: “kerajaanKu bukan dari dunia ini; jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi kerajaanKu bukan dari sini…untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengarkan suaraKu”.

Dan siapakah manusia dalam tragedi penyaliban Yesus? Manusia adalah makhluk pendosa yang masih pantas dicintai. Karena itu, kematian Yesus bukanlah tragedi kemanusiaan, melainkan kemuliaan bagi manusia; karena lebih baik satu orang mati untuk menyelamatkan manusia dari pada Yesus bebas dan kemanusiaan banyak orang direndahkan. Kita perlu bersukur bahwa Yesus mati untuk kita. Kematian Yesus adalah peninggian harkat dan martabat manusia, karena oleh darah yang tertumpah itulah dosa dan salah manusia dibersihkan dan kemanusiaan manusia dipulihkan dan dimurnikan dan pada akhirnya juga dimuliakan.

Corona Yesus dan Corona dunia (Covid-19)

Sejak munculnya di Wuhan-China, saat ini Covid-19 sudah memasuki usia satu tahun lebih. Dan kelihatannya, dia belum ada tanda-tanda untuk berakhir. Kehadirannya setahun silam menggemparkan dunia, terutama oleh duka nestapa yang dia tinggalkan di banyak Negara. Sekonyon-konyong dunia mengumbandangkan lonceng dan kidung duka. Lockdown dan social distancing diterapkan di mana-mana. Gereja Katolik menanggapinya secara cepat dengan meniadakan ibadah dan aktivitas rohani yang melibatkan umat yang banyak. Maka sejak setahun lalu, Gereja Katolik mau tidak mau menerima adanya perayaan ekaristi daring. 

Menanggapi kenyataan ini, reaksi umat terbagi dua. Ada yang menilai Gereja Katolik, dalam hal ini para pemimpinnya kehilangan iman atau putus harapan. Mereka (para gembala) mengingkari sendiri kata-kata Yesus, “bahkan hanya dengan iman sebesar biji sesawi saja, engkau bisa memindahkan gunung”. Ketika gembala umat kehilangan iman bahkan sebesar biji sesawi, umat mau bersandar pada siapa? Kelompok kedua menanggapi hal ini dengan sebuah argumentasi yang rasional. Memilih “jaga jarak” dan merayakan misa daring tidak berarti melarikan diri atau kehilangan iman. Iman itu mesti juga bisa dipertanggungjawabkan secara rasional. Bahwa covid-19 itu menuntut kita untuk menjaga jarak, menjauhi kerumunan, maka pilihan untuk mengikuti perayaan keagamaan lewat media sosial adalah salah satu cara mempertanggungjawabkan iman. Kita menjaga jarak berarti memutus mata rantai penyebaran covid-19; dan dengan itu kita menyelamatkan sesama. Wujud paling nyata solidaritas kita di masa pandemic covid-19 adalah dengan menjaga jarak. Menjaga jarak tidak berarti membenci, melainkan cara baru mencintai dengan jalan saling menjauhi.

Ok! Itu fix! Pertanyaannya adalah di manakah Tuhan saat pandemic ini melanda seluruh dunia, meneror manusia dan menelan korban nyawa yang tidak terhitung? Pertanyaan ini dapat kita jawab dengan mengacu kepada pemikiran dasar: bahwa Inkarnasi Allah menjadi manusia, penderitaan Yesus di jalan Salib dengan mahkota duri di kepala dan mati di Salib adalah wujud nyata dari solidaritas Allah dengan hidup manusia. Bahwa sekali lagi, Allah bukanlah penonton dan memang identitas dasarnya, Allah adalah Kasih. 

Maka, untuk konteks kita sekarang yang hidup dalam rundung duka, ketakutan/kecemasan akan covid-19, baiklah kita kembali pada kesadaran: untuk apa Yesus menjadi manusia dan hidup sebagai manusia dan kemudian mati secara mengerikan. Penjelmaan Allah menjadi manusia sempurna dalam diri Yesus adalah wujud nyata dari solidaritas Allah dengan manusia. Allah solider dan terlibat dalam seluruh dimensi kehidupan manusia, dalam suka dalam duka, dalam kegembiraan dan harapan maupun dalam derita, kecemasan dan ketakutan. Allah dalam diri Yesus sudah mengambil bagian dalam penderitaan manusia. Karena itu, saya pun harus berani bilang: dalam situasi sulit sekarang, ketika kita dirundung duka, hidup dalam kecemasan, ketakutan akan corona, Yesus juga ada bersama kita. Derita kita adalah derita Yesus juga. Yesus dimahkotai duri, untuk kita! Yesus disalibkan untuk kita! Yesus mati pun untuk kita. Karena itu, kita pun yakin, YESUS ADA BERSAMA KITA DALAM RUNDUNG DUKA KARENA CORONA. YESUS MEMIKUL BEBAN CORONA KITA DALAM CORONANYA YANG BERDIRI DI ATAS SALIB. SALIB YESUS ADALAH SALIB KITA, MAKA DERITA KITA ADALAH JUGA DERITANYA! CORONA KITA ADALAH CORONA YESUS.

Maka kita pun, harus menerima tanggung jawab untuk terlibat dlm pencegahan covid-19. Ketika anda merasa tersiksa karena terkurung di rumah, itulah salib anda! Ketika anda mentaatinya, artinya anda sudah solider: dengan para pasien, dengan para perawat dan terutama anda mengambil bagian dalam salib Yesus. Mari taat protocol, termasuk untuk tetap di rumah walau itu kadang menyiksa diri. Itulah salib kita sekarang.
×
Berita Terbaru Update