-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MANUSIA SEBAGAI MAKLUK PENCERITA (Apresiasi Penerbitan Buku Kumpulan Cerita Beberapa Obyek Wisata di Mabar)

Jumat, 19 Maret 2021 | 13:46 WIB Last Updated 2021-03-19T06:47:49Z
Setelah sukses menerbitkan dan meluncurkan buku edisi sulung "Guru Mabar Berkreasi di Tengah Badai Pandemi Covid-19", komunitas Guru Mabar Menulislah (GMM) terus memperlihatkan kreativitas dan produktivitas dalam berkarya. Jika tidak ada hambatan, pada bulan Mei tahun 2021 ini, GMM akan menerbitkan satu buku baru lagi. 

Buku itu merupakan pendokumentasian kumpulan cerita rakyat tentang aneka obyek wisata yang tersebar di beberapa titik di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) ini. Saat ini, naskah buku itu sedang diedit. Rencananya, cerita-cerita dalam buku itu akan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Itu berarti publik pembaca akan mendapatkan tiga versi bahasa dari setiap kisah yang ditampilkan dalam buku itu (Manggarai, Indonesia dan Inggris).

Ini sebuah proyek 'penyelamatan peradaban yang patut diapresiasi. Di tengah fenomen lunturnya tradisi 'bercerita' dan gejala punahnya bahasa ibu (mother tongue), anggota komunitas GMM mengambil prakarsa kultural untuk melestarikan warisan budaya yang bernilai tersebut.

Kemampuan untuk bernarasi, menurut sejarahwan dan pemikir Yuval Noah Harari, merupakan ciri pembeda antara manusia dan hewan yang lainnya. Bahkan dalam tesis pemikir ini, manusia bisa bertahan dalam lintasan evolusi peradaban, tidak terlepas dari sumbangan penerapan kapabilitas bernarasi ini. Manusia adalah binatang pencipta kisah. Homo sapiens is an animal of making a narrative.

Setiap tindakan manusia, demikian Paul Recoeur merupakan tindakan yang dikisahkan. Tindakan pengisahan dipatok sebagai penanda identitas kemanusiaan. Dalam terminologi filsafat, tesis semacam itu dikenal sebagai identitas naratif. Jadi, actus pengisahan merupakan bagian dari cara berada (mode of being) sebagai manusia.

Kita tahu bahwa dalam lingkungan budaya nir-buku, warisan rohani masyarakat yang umumnya berupa cerita, dipelihara dan diteruskan secara oral. Umumnya, kisah-kisah itu dibungkus dalam bentuk syair, lagu, legenda dan mitos.
 
Medium tradisi berkisah mengalami evolusi. Pelbagai warisan rohani tersebut tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi disemaikan dan diartikulasikan dalam bentuk buku (budaya tulis). Dengan itu, cerita tentang beragam kearifan dan pengetahuan masa lalu tak hilang dihempas badai waktu.

Mengisahkan kembali 'cerita-cerita lisan' tentang beberapa obyek wisata (sejarah dan budaya) di Mabar, hemat saya tidak hanya untuk kepentingan aktivitas industri turisme, tetapi yang paling penting adalah 'menghidupkan roh kehidupan' di balik artefak kaku tersebut. Bahwasannya pelbagai entitas material itu, tidak mucul begitu saja, tetapi memiliki 'riwayat kisah' untuk kita hayati maknanya. Ada semacam 'jejak yang tak kelihatan' di balik obyek fisik yang tampak itu.

Ben Okri (1997) mengungkapkan bahwa menulis dalam sejarah peradaban manusia merupakan tindakan emansipatoris. Penulis tak lelah untuk mengisahkan apa saja sebagai manifestasi dan representasi lakon manusia. Ben Okri pun mengakui manusia adalah homo fabula (makhluk pengisah). Peran sebagai homo fabula membuat manusia sadar bahwa dunia ini rimbun oleh pelbagai kisah.

Riset antropologi dan etnologi menunjukka bahwa peradaban-peradaban manusia di Asia, Eropa, Afrika, atau Amerika memiliki homo fabula sebagai tanda progresivitas dengan nostalgia dan utopia. Kisah-kisah kuno masih mendapati jalan pewarisan dan kisah-kisah untuk hari esok masih kiblat untuk lekas dikisahkan. Kisah-kisah abadi masih jadi referensi untuk membaca arus dan alur peradaban manusia dalam olahan fakta dan fiksi. Kisah-kisah klasik itu memang cenderung mitologis tapi mengandung tanda-tanda faktual atas lakon kehidupan manusia.

Dalam  penciptaan kisah itu, manusia berpegang pada  kerangka pikir dan prosedur sesuai dengan latar mitologi, teologi, estetika, sosial, politik, ekonomi, dan kultural. Kisah-kisah ada menjelma sebagai realisasi dan representasi manusia untuk membaca diri, dunia, hidup, dan alam. Membaca membutuhkan jalan atau perantaraan. Kisah menempatkan diri untuk mengantarkan manusia pada ikhtiar mencari-menemukan makna dengan alegori, metafora, atau simbol. Kisah pun menemukan peran signifikan dalam pergulatan hidup manusia.

Bobot nilai sebuah kisah 'tidak berkurang' ketika ditransmisikan dalam pelbagai kanal, termasuk buku. Kisah-kisah dalam bentuk tulisan adalah sisi lain dari progresivitas peradaban modern. Kisah-kisah pun lahir dan dipublikasikan melalui medium teknologi modern. Film jadi medium kisah. Kaset jadi medium kisah. Radio dan televisi pun cerewet menghadirkan kisah. Pelbagai kisah mulai mencari-menemukan bentuk untuk realisasi dan representasi manusia. 

Harus diakui bahwa kehadiran medium pengisahan yang heterogen saat ini, tentu berdampak pada 'daya penerimaan' kisah yang terekspresi dalam buku. Kisah dalam bentuk tulisan mulai mendapati godaan dan ancaman.

Kehadiran pelbagai medium kisah memberi efek dan risiko. Kultur membaca perlahan mengalami reduksi karena umat manusia merasa khusuk dan tekun menikmati kisah melalui televisi atau internet. Kisah terus ada tapi mekanisme untuk menikmati kisah mengalami pemutakhiran atau pencanggihan. Tanda tanya dan tanda seru mulai menjadi perkara pelik untuk memerkarakan kisah.

Mediamorfosis jadi fakta mutakhir. Proses peralihan medium seperti jadi peringatan untuk menilai godaan kisah bagi manusia. Nasib kisah hari ini jadi pertaruhan peradaban manusia. Masihkah manusia pada hari ini mengimani dan mengamini diri sebagai homo fabula atau manusia pengisah? Pertanyaan ini mudah menemukan jawaban tapi susah memberikan eksplanasi paripurna.

Di tengah fakta 'berlimpahnya' kanal penceritaan itu, GMM masih berkomitmen menjadikan 'buku' sebagai wahana ideal untuk meresonansikan pelbagai folklore yang berceceran di tengah komunitas suku kita. Sebuah opsi jenius yang layak didukung. Saya kira sampai detik ini, buku masih diklaim sebagai medium pembangkit imajinasi dan kreativitas.

Buku ini, hadir di waktu yang tepat. Labuan Bajo sudah dibaptis sebagai destinasi wisata 'super premium'. Obyek wisata yang dipasarkan ke dunia global mesti berciri 'super premium' juga. Kriterium super premium itu tidak hanya berjangkar pada pesona lahiriah yang mengagumkan, tetapi juga dilihat dari 'kumpulan kisah-kisah atraktif dan imajinatif' di balik obyek fisik tersebut.

Dengan demikian, obyek wisata yang bersifat fisik tidak lagi menjadi 'jualan utama', kita juga bisa mengandalkan 'wisata kiasah'. Kebetulan, pariwisata berbasis cerita, lagi trend saat ini. Komunitas GMM sudah ikut berpartisipasi menjabarkan model pariwisata berbasis narasi tersebut.
×
Berita Terbaru Update