-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mengapa Manusia Menjadi 'Penjahat'?

Minggu, 28 Maret 2021 | 19:37 WIB Last Updated 2021-03-29T01:07:04Z
Oleh: Sil Joni*

Predikat sebagai 'imago Dei' dalam tubuh manusia,  tidak menjadi garansi untuk tidak bertindak seperti iblis. Dalam kenyataannya, manusia kerap tergoda untuk melakukan aksi sadistis yang dipicu oleh beragam intensi dan motivasi.

Bahkan tidak jarang 'aksi animalitas' seperti mencelakai yang lain melalui tindakan bom bunuh diri dijustikasi oleh motivasi yang berbau teologi religi tertentu. Padahal, tafsiran mereka terhadap 'teks suci' bersifat literal dan parsial. Doktrin teologi dibengkokkan untuk sekadar 'merasionalisasi' perilaku biadab yang mereka tunjukkan.  

Aksi terorisme kembali 'mengguncang' tubuh Republik ini. Seorang pelaku 'nekad' menghabisi nyawanya sendiri dan sesamanya yang sedang khusuk merayakan ritual Minggu Palem di Gereja Katedral Makasar, Minggu (28/3/2021) menggunakan bom. Beruntung, bom itu 'meledak' di pintu gerbang Gereja sehingga tidak banyak memakan korban.

Kendati demikian, aksi itu tetap menimbulkan 'trauma psikologis' baik para korban yang luka-luka, maupun segenap umat Katolik yang beribadat di Gereja itu. Teroris yang konyol itu telah 'menodai' dan merampas kegembiraan umat yang sedang mengenang dan merayakan 'kisah Tuhan Yesus yang memasuki Yerusalem' 2000-an tahun lalu.

Penyebaran pandemi covid-19 relatif berkurang yang memungkinkan umat Katolik 'merayakan upacara liturgi Minggu Palma' di rumah ibadat (gereja). Sialnya, momen berahmat itu dipakai oleh teroris untuk memamerkan kuku kriminalitasnya.  Mengapa manusia begitu mudah berubah menjadi penjahat terorisme? Apakah kejahatan menjadi entitas inheren yang melekat pada tubuh manusia?

Padahal, manusia adalah 'binatang yang berakal budi (animal rationale). Tetapi, sayangnya pada sebagian orang fakultas rasionalitas gagal menjalankan fungsinya untuk mengontrol naluri kebinatangan dalam dirinya. Akal budi takluk di bawah unsur animalitas itu.

Ada yang membandingkan kejahatan dengan kebaikan. St. Agustinus misalnya, menegaskan bahwa kejahatan merupakan kekurangan kebaikan (privatio boni) dalam diri manusia. Kebaikan juga dihubungkan dengan Ada (being) sehingga kejahatan dihubungkan dengan ketiadaan (nothingness). Penjelasan seperti ini dapat kita jumpai dalam pemikiran filsuf Martin Heidegger.

Tetapi, pertanyaannya adalah mengapa derajat kebaikan atau being dalam diri manusia berkurang bahkan tidak ada sama sekali? Filsuf pencerahan dari Jerman, Immanuel Kant memberikan jawaban yang menurut saya cukup meyakinkan.

Kant berasumsi bahwa dalam diri manusia terdapat kecendrungan untuk bertindak melawan hukum moral yang diciptakan oleh akal budinya sendiri. Itu berarti potensi kejahatan merupakan bagian dari kodrat kemanusiaan kita. Naluri kejahatan bertumbuh subur di tengah ekosistem pendidikan yang mendewakan kekhasan diri atau kelompok serentak menegasi kelompok yang lain.

Para filsuf dan psikolog psikoanalis mengafirmasi dua tendensi energi yang kontras dalam tubuh manusia. Yang pertama adalah energi yang bersifat positif (eros). Jika energi ini lebih dominan, maka perilaku manusia lebih berorientasi pada kehidupan (biofilia). Tetapi, pada sisi lain ada juga energi negatif (thanatos) yang bersifat destruktif. Thanatos yang overdosis berkiblat pada aksi yang mematikan. Ada semacam kecenderungan untuk mencintai kematian (nekrofilia).

Hemat saya, tindakan brutal yang diperlihatkan para teroris dan kelompok intoleran disebabkan oleh 'kelebihan energi destruktif' ini.  Mereka gagal mengendalikan kecenderugan nekrofilia dalam diri mereka. Kematian, baik dirinya sendiri maupun orang lain dipuja dan dicintai.

Apakah pemujaan terhadap kultur kematian itu bisa diterapkan kapan dan di mana saja? Apakah mereka yang kelebihan unsur thanatos boleh melakukan kejahatan dengan tujuan dan alasan yang beragam? Saya berpikir, sangat berbahaya jika kita secara naif membenarkan dan menoleransi perilaku jahat para teroris meski dibungkus dengan jubah pseudo-religi.

Karena itu, kita mendukung dan mengapresiasi sikap tegas Negara dan semua elemen masyarakat yang dengan keras mengecam dan mengutuk aksi bom bunuh diri yang terjadi di Makasar itu. Tentu, harapannya reaksi itu tidak sebatas pernyataan verbal saja. Negara, dalam hal ini pihak kepolisian mesti mengusut dan membongkar 'jaringan terorisme' yang bergentayangan di republik ini. Perang terhadap teroris tidak kalah mendesaknya jika dibandingkan dengan perang melawan Covid-19.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update