-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENGKRITISI URGENSI KUNJUNGAN PAUS FRANSISKUS KE IRAK

Selasa, 16 Maret 2021 | 16:17 WIB Last Updated 2021-03-16T09:37:48Z
Perjumpaan Paus Fransiskus ke Irak menjadi momen bersejarah bagi dunia. Bahwa dari banyak Paus dalam sejarah, Paus Fransiskus menjadi Paus pertama dalam kunjungannya ke Irak. Kehadiran Bapa Suci menjadi momen luar biasa sebagai bentuk realisasi atas dokumen persaudaraan manusia. Selain itu kunjungan apostoliknya merupakan tanggapan positif atas pelbagai bentuk kebencian, perpecahan, peperangan, fanatisme agama dan budaya.

Untuk mengupas rahasia dibalik kehadiran Bapa Suci, penulis memberi batasan artikel sederhana ini yakni berkaitan dengan Sekilas Kunjungan Paus ke Irak (penulis tidak secara mendeteil membahas kunjungan Bapa Suci, hanya poin-poin penting saja), Urgensi Kunjungan Paus Fransiskus, dan Tinjauan Kritis. Artikel ini bermaksud agar nilai-nilai yang diteladankan Bapa Suci menjadi nilai-nilai universal yang dapat dihayati rakyat Irak dan  manusia dunia pada umumnya.

Sekilas Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak

Paus Fransiskus melakukan kunjungan internasional pertama ke Irak di tengah pandemi covid-19. Bapa Suci mendarat di Irak pada Jumat (5/3/2021) sebagai kunjungan pertama Vatikan sepanjang sejarah. 

Salah satu agenda Bapa Suci dalam perjumpaan itu yakni menemui pimpinan muslim syiah terkemuka, Ayatollah Agung Ali Al-Sistani. Perjumpaan dan pertemuan kedua tokoh besar Katolik dan Islam tersebut merupakan momen bersejarah untuk membahas isu lintas agama. Dialog interreligius yang dilakukan bermaksud untuk menggarisbawahi kasih-persaudaraan antar umat beragama. 

Dalam kunjungan bersejarah tersebut, Presiden Irak mengungkapkan realitas konflik yang dialami Irak selama bertahun-tahun. Presiden mengatakan dunia kehilangan keberagaman. Hal ini terlihat dalam realitas yang telah terjadi. Irak penuh dengan duka dan luka. 

Kedatangan Bapa Suci bermaksud mengajak manusia di Irak dan dunia untuk mengedepankan hidup berdampingan antar umat manusia. Seperti yang dikatakan Bapa Suci dalam orasinya, "Anda semua adalah saudara". Kehadiran Paus memulihkan iman umat manusia di Irak. Hal ini terungkap dalam beberapa kesempatan, dia mengatakan bahwa jika manusia tidak dapat melakukan apapun dalam kesulitan, Tuhan sebaliknya memiliki kekuatan untuk mengalahkan kejahatan, penyakit termasuk memulihkan bangunan fisik dan hati kita sendiri. 

Irak yang merupakan tempat lahirnya peradaban manusia, justru lahir juga perpecahan, peperangan dan badai yang tidak manusiawi. Karena realitas chaos ini seperti diterjemahkan Pater Berto Kardi, SX di chanel youtube-nya, Bapa Suci menegaskan kembali keyakinan yang menekankan persaudaraan lebih kuat dari pembunuhan atau perang saudara, harapan lebih kuat dari kematian, dan perdamaian lebih kuat dari peperangan.

Bapa Paus juga menekankan kembali iman dan cintakasih yakni menjadikan Tuhan sebagai yang paling pertama dan terutama. Manusia diharapkan tidak melakukan perang atas nama Tuhan. Namun manusia saling mengasihi karena Tuhan dan demi kemuliaan-Nya. 

Kunjungan Bapa Suci diapresiasi oleh komite persaudaran manusia dan tak terkecuali manusia di Irak dan dunia pada umumnya. Kehadiran Sri Paus juga dinilai sebagai bentuk tanggapan atas berbagai bentuk perpecahan karena fanatisme yang merenggut nyawa jutaan orang. 

Bapa Paus merasa senang mengadakan perjumpaan dengan umat manusia di Irak karena baginya perjalanan simbolis itu merupakan suatu kewajiban ke tanah yang telah menjadi martir.

Urgensi Perjumpaan Paus Fransiskus

Kunjungan Paus Fransiskus menjadi perjalanan apostolik yang menjadi suatu keharusan. Keberanian Bapa Suci mendorongnya untuk bertindak segera sehingga kunjungan tersebut tetap dilakukan meskipun Irak dilanda pelbagai konflik yang mengorbankan orang-orang tak bersalah. Urgensi perjumpaan tersebut terlahir dari kesadaran Bapa Suci terhadap rakyat Irak yang mendambakan perdamaian, kasih-persaudaraan, dan keikaan.

Seperti diketahui Irak dilanda pelbagai chaos seperti peperangan, perpecahan, kehancuran, kebencian, ekstrimisme atau fanatisme agama dan budaya. Persoalan-persoalan tersebut merenggut banyak nyawa dan membawa luka bagi Irak dan dunia. Mengapa Bapa Suci merasa penting melakukan perjalanan Apostoliknya di tengah pelbagai konflik dan wabah covid-19?

Hemat penulis, Bapa Suci mewujudkan secara total kasih-setia Kristus terhadap Gereja. Kasih-setia yang merupakan nilai universal tersebut menjadi landasan dalam perjalanan apostoliknya agar harapan akan perdamaian dan persaudaraan manusia serta hidup berdampingan antar umat beragama sungguh-sungguh terealisasi di tanah Irak. 

Dalam perjumpaan tersebut, kecintaan Sri Paus terhadap umat manusia di Irak menjadi nyata. Bapa Suci pantang menyerah dari kegarangan kaum ekstrem atau teroris dan wabah penyakit menular dan mematikan manusia. Kita saksikan bersama bahwa dunia dilanda derita dan duka mendalam. Namun di tengah situasi tersebut Sri Paus membranikan diri dalam kunjungannya ke Irak. Itu semua karena kasih-setia. Tanpa nilai universal itu, lawatan tersebut tidak mungkin terjadi. 

Nilai kasih-setia Bapa Suci terungkap dalam pengorbanan diri. Sebagaimana Yesus mengorbankan diri-Nya hingga wafat di kayu Salib, Bapa Suci yang karena semangat Yesus Kristus, rela memberikan dirinya untuk melakukan perjumpaan dengan rakyat Irak. Sikap dan keteladanan tersebut memberi pesan khusus kepada dunia bahwa sikap pengorbanan dirinya mengajak manusia modern untuk saling berdamai dan bersaudara. Pengorbanan dirinya membuka ruang dialog untuk saling mengasihi tanpa ada pembedaan dalam perbedaan apapun. 

Kasih-setia yang diwujudnyatakan dalam perjumpaan dan pemberian diri Paus Fransiskus membawa kabar sukacita bagi masyarakat Irak dan dunia pada umumnya. Seperti yang diteladankan Bunda Maria tatkala mengunjungi Elisabeth, Bapa Suci juga melakukan semangat yang sama. Dalam konteks spiritual, Bapa Paus memiliki kedekatan dengan Bunda Maria. Bapa Suci meneladani cara hidup Bunda Maria untuk berjumpa dan mengasihi Yesus dalam diri umat manusia di Irak. Keteladaan hidup Paus mengukir sejarah yang tidak terhapuskan. Dan cara dia memberikan contoh tidak hanya dalam cara berbicara, sikap tetapi cara hidupnya yang penuh kasih.  

Selain beberapa poin di atas, kunjungan Bapa Suci membawa misi kemanusiaan. Paus memerlihatkan dan menggarisbawahi kembali martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang paling mulia, indah dan tak tertandingi. Misi kemanusiaan melampaui pelbagai latarbelakang. Bahwa apapun latarbelakangnya, manusia di dunia adalah satu dalam banyak perbedaan. Dalam kemanusiaan manusia ada keutuhan, 'kekitaan kita' dan kemolekan cinta. 

Tinjauan Kritis

Kehadiran Bapa Suci dalam perjalanan Apostoliknya ke Irak memiliki alasan yang sangat kuat. Bapa Suci hendak melihat dari dekat realitas persoalan-persoalan Irak. Kasih-setia merupakan substansi perjalanan Apostoliknya untuk membuka lembaran baru yakni terkait keharmonisan dalam kasih, persaudaraan dan toleransi.

Kedatangannya tidak melanggar protokol kesehatan. Bapa Suci sudah divaksinasi sehingga memiliki kekebalan tubuh. Protokol kesehatan sangat terjamin baik rombongan Vatikan maupun semua rakyat Irak yang terlibat dalam perjumpaan tersebut. 

Kunjungan Sri Paus juga merupakan wujud keberanian untuk mengatasi paham ekstremisme dan terorisme dengan melakukan pendekatan dengan pimpinan Islam terkemuka dan sangat berpengaruh di Irak dan Timur Tengah. Bapa Suci membuka ruang dialog untuk menuntaskan pengaruh-pengaruh kekejaman kaum fanatis dan ekstrimis.

Dengan demikian, perjalanan Apostolik Bapa Suci membawa harapan baru bagi Irak dan dunia. Kehadiran Bapa Suci diharapkan dapat memanusiakan manusia yakni mengedepankan rasionalitas dan hatinurani agar kasih-persaudaraan, perdamaian dan toleransi menjadi seni hidup yang dapat dihayati oleh siapapun dan apapun latarbelakangnya. 

Oleh: Nasarius Fidin
Penulis adalah Alumnus STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur.
×
Berita Terbaru Update