-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENUNGGU: Moment Kegelisahan dan Peluang Saling Bertaruh

Selasa, 23 Maret 2021 | 10:39 WIB Last Updated 2021-03-23T03:43:09Z
                                              Gambar: google

[…Menunggu adalah saudara perempuan dari kecemasan… Andrea Köhler] 

Aktivitas menunggu telah lama menjadi teman seperjalanan terhitung sejak manusia diciptakan. Kisah Penciptaan dalam Kejadian 1:26 menuturkan Allah menciptakan manusia menunggu pada hari ke-6. "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita". Bukan sebuah kebetulan. 

Selama sembilan bulan kita dikandung di dalam rahim ibu, menunggu untuk dilahirkan. Setelah dilahirkan, perjalanan hidup kita juga menunggu Tuhan memanggil, menunggu kematian.  Setiap hari dalam berbagai situasi, kita menunggu.  

Kita menunggu gelisah menunggu berlalunya pendemi Covid 19. Menunggu matahari terbenam dan kita mulai masuk peraduan malam. Menunggu lamaran kerja diterima di sebuah perusahan. Menunggu agar masalah keluarga segera teratasi dengan baik. 

Menunggu waktu panen padi atau memetik buah di ladang. Menunggu waktu untuk menikah. Menunggu kekasih menelepon. Menunggu orang membayar utangnya. Menunggu datangnya taxi atau pesawat. Menunggu bayar tagihan listrik dan air. Menunggu antrean di Supermarket.
Dan masih banyak lagi. 

Menunggu kerap diwarnai oleh emosi yang kita lampirkan pada pengalaman itu. Kita sering dongkol, buntu atau kesal, bosan dan marah. Menunggu adalah ruang mental yang unik, penuh intrik dan keajaiban.  Dalam menunggu kita memeluk ketidakpastian; antara yang diantisipasi dan yang diharapkan. Tanggapan kita terhadap menunggu sering kali dianggap sebagai kegelisahan yang menjengkelkan. 

Jurnalis Andrea Köhler pernah menulis sebuah buku berjudul Passing Time: An Essay on Waiting, di mana dia merefleksikan aspek menunggu sebagai sebuah ruang meditasi yang bijaksana yang memaksa manusia untuk memilih, untuk menandai waktu tentang cobaan dan kesenangan yang melekat dalam pengalaman menunggu. 

Köhler mengingatkan kita bahwa menunggu adalah waktu yang pas bagi  "kehilangan", "ketakutan" dan "kebahagiaan"  bertarung dan moment yang pas untuk mengucapkan perpisahan antara ketiganya, sebab yang menang bisa saja kehilangan, bisa ketakutan dan bisa kebahagiaan. Menunggu, adalah saudara perempuan dari kecemasan, sebut Köhler. 

Dengan demikian, tindakan menunggu bisa kosong dan tidak berarti atau penuh dengan kekayaan dan makna. Segera akan kita hadapi, saat ini dan di sini. Dalam kasus-kasus tertentu, "kesegeraan" bukanlah pilihan yang tepat. Pengambilan keputusan membutuhkan waktu dan ruang di mana kita dapat mengamati, merenungkan dan memproses informasi. 

Biksu dan guru Buddha Thích Nhất Hạnh pernah berkata hidup itu "harus melihat lebih dalam" dan inilah bagian dari praktik saat kita menunggu. 

Dia menyebut contoh ketika kita melihat bunga, memilih untuk berhenti dan mulai mengembangkan momen meditasi untuk melihat lebih dalam ke bunga itu, kita tidak hanya akan melihat bentuk dan warnanya, tetapi kita melihat sinar matahari, hujan dan tanah yang juga merupakan bagian dari bunga dan bagian dari kita juga. 

Oleh: Pater Garsa Bambang, MSF
×
Berita Terbaru Update