-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Merenungkan Kisah: YESUS DIJATUHI HUKUMAN MATI

Minggu, 28 Maret 2021 | 19:47 WIB Last Updated 2021-03-28T12:47:04Z
"Sekali lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin melepaskan Yesus. Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya: “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka: “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar Dia, lalu melepaskan-Nya.” Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka. Lalu Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. Dan ia melepaskan orang yang dimasukkan ke dalam penjara karena pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya". (Luk 23:20-25).

(Kita renungkan kisah dari seorang yang dihukum seumur hidup)

Kerap kali, di berbagai pengadilan dan media, bergemalah seruan: “Salibkan dia! Salibkan dia!” Itulah seruan yang juga saya dengar atas diri saya sendiri. Saya telah dihukum bersama ayah saya dengan sebuah hukuman seumur hidup. Penyaliban saya telah dimulai sejak kecil. Jika saya ingat, saya mendapati diri meringkuk di dalam bus yang membawa saya ke sekolah, terasing karena kegagapan saya, tanpa seorang teman. Saya telah bekerja sejak kecil tanpa bisa belajar: hanya ketidak-mengertian yang saya miliki. Kekerasan dan penindasan telah merenggut kisah manis dari seorang anak yang lahir di Provinsi Calabria, Italia di tahun tujuh puluhan. Saya lebih mirip dengan Barabas daripada Kristus. Namun, kutukan yang mengerikan tetap ada di dalam hati nurani saya. Di malam hari, saya buka mata dan terus berusaha mencari secercah cahaya untuk menerangi kisah hidup saya. 
Ketika, terkurung dalam sel penjara ini, saya membaca kembali lembaran demi lembaran penderitaan Kristus dan saya menangis. Setelah lebih dari dua puluh sembilan tahun di sini ternyata saya belum kehilangan kemampuan untuk menangis, memandang masa lalu dengan penuh malu atas kejahatan yang telah saya lakukan. Saya merasa laksana Barabas, Petrus, dan Yudas pada saat yang bersamaan. Kalau diingat, masa lalu saya sungguh menyeramkan. Selama bertahun-tahun saya berada hukuman yang berat dan ayah saya pun meninggal dalam keadaan yang serupa. Kerap kali, saya dengar, ia menangis diam-diam di selnya pada malam hari dan saya merasakannya. Kami berada di dalam kegelapan yang mengerikan. Namun, dalam kegelapan itu, saya selalu mencari sesuatu yang mungkin adalah kehidupan: aneh untuk dikatakan, namun penjara ini adalah keselamatan saya. Jika bagi seseorang, saya tetap seorang Barabas, saya tidak marah. Namun, saya merasa dari hati terdalam bahwa Yesus, orang tak berdosa yang dihukum itu datang dan mencari saya di sini, di dalam penjara. Ia mengajari saya tentang hidup. 

Doa: Tuhan Yesus, meskipun kami berpaling dariMu, kami melihatMu di antara khalayak ramai yang berseru bahwa Engkau harus disalibkan. Atau, malahan mungkin kami berada di antara mereka dan ikut berseru-seru tanpa menyadari kejahatan dan dosa yang telah kami lakukan. Dari lubuk hati terdalam ini, kami ingin berdoa kepada Bapa-Mu untuk mereka yang dihukum mati sepertiMu dan bagi mereka yang masih menantikan penghakimanMu yang tertinggi.

Oleh: Pater Dody Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update